Bab 3 Layani aku
Menikah? Kemarin? Mendengar kalimat itu membuat d**a Gita nyeri. Rasa bersalah menyeruak dan menyesakkan. Tak ingin menjadi bulan-bulanan hidup dalam kubang kesalahan, Gita selalu meminta maaf dalam hati pada suaminya.
Dia ingat pesan ayahnya.
Ridho Allah tergantung ridho suaminya.
Kenapa baru sekarang logikanya jalan, kemana kemarin saat dia sedang dilanda kerisauan.
Gita bergidik ngeri, rasa takut mendapat murka suami bahkan murka Allah mendadak menghantuinya.
"Ada apa, Ras?" Revan heran melihat Gita yang diam dan melamun.
"Eh, tidak, Van. Aku hanya bingung karena cuma ini yang aku punya." Gita menunjukkan ponsel yang dipegangnya. Tas berisi baju dan uang masih tertinggal di mobil laki-laki b******k semalam.
"Tenang saja, nanti aku minta Melia mengantarmu beli baju dan keperluanmu."
"Melia?"
"Dia pacarku, lebih tepatnya calon istriku. Tapi aku tidak tahu kapan kami siap menikah. Sudahlah, kita tidak perlu membahasnya." Ada gurat kesedihan di wajah Revan yang tertangkap oleh Gita.
"Tapi, Van? Aku sudah merepotkanmu"
"Tidak masalah, anggap saja seorang kakak sedang menolong adiknya."
"Baiklah, terima kasih banyak, Van."
"Ya."
"Siapa gadis ini, Van? Kamu mau terang-terangan selingkuh dariku?"
Seorang wanita cantik bergaun seksi dengan rambut panjang yang indah tergerai memasuki rumah Revan.
Gita dibuat terkejut karena keberadaannya menimbulkan pertengkaran diantara keduanya.
"Tenanglah dulu, sini aku ceritakan semuanya, Mel." Revan sudah membungkam mulut Melia supaya berhenti bicara.
Sungguh mereka melakukannya di depan Gita yang masih polos. Mata Gita seakan-akan ternodai pandangan yang baru saja disuguhkan sepasang anak Adam dan Hawa. Memilih memalingkan muka, Gita dibuat canggung karena melihat adegan nyata secara langsung.
"Eh, maaf, Ras. Kamu masih dibawah umur, ya?" ledek Revan membuat Gita jengah.
Melia segera duduk di sofa menempel Revan.
"Memangnya umurnya berapa? Belum pernah lihat orang berciuman?"
Gita menggelengkan kepala, bukan tidak pernah melihat. Di film-film juga mempertontonkan begitu, tetapi Gita sedikit terhenyak. Mereka bukan suami istri kan. Kalau mereka sudah terikat hubungan halal justru melakukannya akan bernilai ibadah.
Tak mungkin juga Gita menegurnya seperti pesan guru agamanya. Siapa dia, hanya orang asing yang sudah ditolong justru dengan berani mau mengguruinya.
"Kenalkan ini Melia, Ras. Mel, ini Laras saudaraku jauh dari kampung lereng gunung Lawu Karangnganyar. Entah kenapa tiba-tiba Revan meyakinkan dirinya mengaku Laras sebagai saudaranya.
Laras tersenyum mendengarnya.
"Laras, Mbak."
"Melia."
Keduanya bersalaman sesaat dengan senyum tulus terlukis di wajah Gita, tetapi sebaliknya senyum masam yang ditunjukkan Melia.
"Kamu jangan coba-coba menggoda Revan!"
"Ishh, nggak usah cemburu, Mel. Dia tidak mungkin tertarik dengan laki-laki sepertiku. Sudah sarapan belum?" Kalimat tanya yang disertai kedipan mata memiliki arti lain bagi Melia, sedangkan Gita hanya mengernyitkan keningnya.
Melia yang cemberut berhasil tersenyum dengan rayuan Revan.
"Mau di sini atau seperti biasa?" Ucapan Melia terdengar manja membuat bulu kuduk Gita berdiri. Ia berpikir aneh-aneh tentang keduanya.
Revan mengangkat alisnya, sementara Melia menoleh dan melototkan matanya.
"Di kamar saja."
"Ras, tunggu di sini ya! Jangan kemana-mana! Sepuluh menit, eh tidak paling lama tiga puluh menit."
Aww,
Melia sudah mencubit pinggang Revan hingga mengaduh. Gita hanya tercengang melihatnya.
Sarapan? Di kamar? Sepuluh sampai tiga puluh menit? Astaga, apa yang ingin mereka lakukan di kamar. Pikiran Gita sudah melanglang buana. Tubuhnya meremang, mengetahui keadaan sesungguhnya dunia luar.
Sejauh ini, dia hanya bergaul dengan Toni dan Ela tentunya yang lurus-lurus saja. Bukankah berteman itu bisa dengan siapapun, hanya saja berteman dengan orang yang baik atau buruk ada peluang kita mengikuti perangainya. Perlu selektif dalam memilih teman yang bisa menjadikan kita lebih baik atau justru semakin buruk.
Bergegas ke dapur, Gita tak mau berkutat dengan prasangka buruk. Melintasi kamar yang tertutup pintunya, terdengar jelas suara desahan wanita dan pria. Entah apa yang mereka lakukan di dalam, Gita hanya meneguk ludahnya seraya meraba tubuhnya yang merinding kaku.
"Astaghfirullah. Apa mereka melakukan itu? Revan menganggapku adik, mungkin suatu saat aku akan menegurnya, tidak sekarang, bisa-bisa aku diusir dari sini. Selama aku dekat dengannya yang sudah membantuku, aku akan berusaha mengajaknya bertaubat."
Sebaik-baik manusia adalah yang bertaubat dan memohon ampun kepada Allah atas kesalahan yang dilakukan. Sehingga tidak ada dosa yang tidak diampuni Allah sebesar apapun itu. Karena Allah merupakan Maha Pengampun kepada siapa saja umatNya yang bertaubat. Bertaubat dalam artian tidak akan mengulangi lagi kesalahannya dan bersungguh-sungguh untuk kembali ke jalan yang diridhoi Allah.
Setengah jam berlalu, bahkan lebih dari yang dijanjikan Revan untuk Gita menunggu. Selama itu, Gita sudah selesai berperang dengan spatula dan teflon hingga tersaji beberapa menu makanan di meja. Revan dan Melia keluar dari kamar yang pintunya sempat tertutup. Tampak rambut basah menghiasi kepala dua insan yang sedang di mabuk asmara. Apa yang mereka lakukan sudah mengabaikan dosa yang harus dipertanggung jawabkan.
Revan melihat Laras mengenakan celemek yang biasa dipakai ARTnya. Senyum tersungging di bibirnya, lebih tepatnya dia menahan untuk tidak tertawa.
"Duduk dulu, Mel!"
Revan menggeser kursi bersebelahan dengan Melia.
"Sepertinya masakanmu lezat, Ras."
"Coba saja dulu! Semoga enak."
Senyum terlukis di wajah Laras, sementara wanita yang di samping Revan tampak cemburu dengan pujian yang diberikan tuan rumah untuk Laras.
Drrt,
Dering ponsel terdengar memaksa Revan kembali ke kamar.
"Halo. Gimana?"
"Barangnya ketemu, Pak."
"Bawa ke rumah Bos Ardi sekalian kita ketemu di sana saja!"
"Siap, Pak!"
"Ras, barang-barangmu sudah ketemu," teriak Revan dari arah kamarnya
"Benarkah? Alhamdulillah. Siapa yang menemukan, Van?"
"Anak buahnya Ardi."
"Oh, terima kasih banyak, ya."
"Nantilah, terima kasih sama Ardi."
"Kalau masih butuh barang-barang lainnya biar ditemani Melia belanja. Iya kan, Mel?"
Melia menampakkan wajah tak suka dengan keakraban pacarnya dengan wanita lain yang jauh lebih muda darinya.
"Ayolah, Mel! Anggap saja dia calon adik iparmu."
"Iya, iya," jawab Melia seraya memutar bola matanya jengah.
Gita mencoba tersenyum meski terpaksa.
*****
"Ini Pak barangnya."
"Terima kasih. Mana bosmu?" Revan menyerahkan tas milik Gita yang diterima oleh sang empunya dengan suka cita.
"Aku di sini. Mana orang yang mau ditampung? Mel, kamu nggak cemburu siapa tahu itu simpanan Revan," cibir Ardi.
"Sembarangan. Ini kenalkan Laras! Ras, ini Ardi calon majikanmu."
"Laras." Gita mencoba mengulurkan tangan, tetapi tidak mendapat balasan.
Hanya deheman yang diberikan hingga memaksa Gita menarik kembali tangannya ke pangkuan. Malu bercampur aduk dengan takut melihat aura dingin yang ditunjukkan calon majikannya. Memilih menundukkan wajahnya, Gita takut melihat mimik majikannya. Tampan iya, memiliki rahang tegas juga badan atletis pastilah dia rajin berolahraga.
"Astaghfirullah, jaga pandangan Gita," batinnya.
"Karena kamu sudah menyerahkan wanita ini untukku berarti aku berhak melakukan apa saja padanya, kan?" seringai licik ditunjukkan Ardi pada Revan.
"Terserah kamu," ucap singkat Revan membuat Gita tercengang.
"Tapi, Van," protes Gita seraya menautkan jari jemari di pangkuannya. Namun Revan cuma menganggukkan kepala meyakinkan Gita aman tinggal di rumah Ardi.
"Layani aku dengan baik, kamu akan mendapat bayaran yang pantas!" Ardi menatap tajam mata indah Gita, membuat gadis manis itu tersentak.
"Layani?"