Dalam sepanjang perjalanan Fatwa melamun terus, dia sampai tidak menyadari jika mobilnya sudah berhenti di halaman rumahnya sendiri. "Fatwa, ayo kita turun. Biar aku yang gendong Aurel," pinta Dimas. "Oh iya," jawab Fatwa tersentak kaget. Langit sudah gelap, dan nampaknya akan turun hujan. Fatwa melihat sekeliling rumahnya yang tidak ada perubahan sama sekali. Semua sangat unik dan ada aura keraton uang begitu kuat. Ting tong.. Dimas memencet bel, tetapi justru Fatwa yang seakan hatinya dipencet. Entah kenapa kembali ke rumahnya sendiri seperti siksaan batin yang tiada akhir. Kemudian pintu terbuka, muncullah sosok wanita setengah baya yang masih begitu cantik. "Selamat malam," sapa Dimas. "Selamat malam, mari silahkan masuk." jawab Wanita tersebut. "Ibu..." sapa Fatwa yang muncul

