10. Cinta Segitiga Majikan

1096 Kata
Dimas sadar jika yang dilakukannya barusan terhadap Fatwa sudah keterlaluan. Akan tetapi mengingat dirinya yang dijebak oleh Lucia tidak ingin hal itu terulang lagi pada Bian. "Aku harus melindungi adikku agar tidak dijebak oleh wanita licik lagi," gumam Dimas sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Memang setiap kali Dimas mengingat hal itu hatinya terasa sakit, seribu penyesalan tidak akan bisa mengubah seperti semula. Satu - satunya wanita yang dicintai telah dia sakiti begitu dalam. Walaupun Dimas tidak mencintai Lucia, tetapi dia sangat menyayangi Aurel. Apalagi dia sudah sejak lama merindukan kehadiran seorang anak. Dan segala ketabahan dan kesabaran Arisa dalam menerima semua cobaan semakin membuat Dimas kian menderita. Dimas meneteskan air matanya, sebagai seorang lelaki dia gagal menepati janji suci. Dia dulu pernah bersumpah kepada Abahnya Arisa ketika masih hidup jika dirinya tidak akan pernah berkhianat. Tetapi kini? Mertuanya itu telah tiada, dan dia tidak tahu bagaimana cara untuk meminta maaf. Perasaan bersalah selalu menghantui membuat dirinya menjadi sosok pendiam dan tegas. Dia mulai tidak bisa menerima ampunan untuk penipuan lagi. Sesampainya di rumah, Dimas menuju kamar Aurel terlebih dahulu. "Mas, kamu baru pulang?" tanya Lucia. "Iya, bagaimana dengan Aurel? Apakah masih rewel tadi?" tanya Dimas. "Iya, jujur saja aku tidak sanggup jika merawat 24 jam. Aku butuh baby sister agar aku bisa istirahat untuk sejenak," keluh Lucia. "Besok kita cari lagi," jawab Dimas kalem. Lucia segera beranjak dari tempat tidur, kemudian mendatangi Dimas. "Sudah lama sekali kamu tidak pernah tidur di kamarku, apa karena aku sudah pernah melahirkan jadi bagimu aku tidak asyik lagi?" tanya Lucia dengan senyuman menggoda. "Kamu pasti lelah sekali karena sepanjang hari menjaga Aurel, mumpung dia mau tidur sebaiknya kamu juga istirahat. Sebelum ada baby sister kamu tidur di sini saja menemani Aurel," tolak Dimas secara halus. Lucia tampak kecewa, tapi tetap tersenyum. Lucia cantik, teramat cantik malahan. Akan tetapi hati Dimas menolak karena cintanya hanya untuk istri pertamanya. Hanya saja dia tetap harus berusaha bersikap adil. Walaupun untuk hubungan intim sebagai suami istri dia mencoba melakukan kewajibannya sebagai seorang suami. Dan itupun dia lakukan atas saran Arisa. Sangat menyedihkan bukan? Kemudian Dimas mencium kening Aurel dengan lembut, setelah itu dia pergi menuju kamar istri pertamanya. Baru membuka pintu, suara merdu Arisa dalam melantunkan ayat suci Al-quran membuat hati Dimas merasa tenang. Dimas hanya diam, dan memilih duduk di belakang Arisa menyimak istrinya mengaji. "Arisa, kamu sungguh wanita yang luar biasa. Kecantikanmu lahir batin, walaupun aku sudah menyakitimu kamu masih saja hormat padaku," batin Dimas. Dimas menyandarkan kepalanya ke tembok, semakin di hayati air matanya mulai menetes. Dia tahu jika hati Arisa hancur, tetapi istrinya ketika bersedih lebih memilih mendekatkan diri pada sang pencipta dibanding curhat di sosial media seperti wanita kebanyakan. Dimas ingin memeluk, tapi tubuhnya gemetar dan seakan kotor penuh noda. Dia merasa tidak pantas lagi untuk Arisa yang begitu suci. Wanita sebaik dan selembut istrinya kenapa harus diberi ujian yang berat sejak kecil? Ibunya meninggal saat melahirkannya. Kemudian Abahnya yang menjadi Kyai pimpinan pondok pesantren meninggal setelah dua hari pernikahan. Tak hanya menjadi yatim piatu tanpa saudara, Arisa setelah menikah juga tidak bisa hamil sebab mandul. Tangis Dimas semakin menjadi-jadi ketika teringat dirinya menambah beban hidup saat sebagai suami malah menghamili wanita lain. Padahal dialah satu - satunya tempat bersandar untuk Arisa. Dimas yang tidak tahan lagi akhirnya mengeluarkan suara ratapan, membuat Arisa langsung menutup Al - quran nya dan berbalik ke belakang. "Mas, kamu kenapa? Dan sejak kapan kamu di sini?" tanya Arisa panik. Dimas tidak ada suara untuk berkata - kata, tenggorokannya tercekat. Jiwanya bergemuruh. Dia hanya memeluk istrinya dengan erat. "Mas, kenapa diam saja?" timpal Arisa semakin panik. "Maafkan aku, Arisa. Maafkan aku telah melukaimu. Maafkan aku... Aku tidak pernah bermaksud untuk menghianatimu. Aku hanya mencintaimu, Arisa," ucap Dimas dengan ratapan memohon. "Kenapa kamu membahas ini lagi? Sudah beribu - ribu kali aku bilang. Lupakan semua itu, mari memulai hidup baru dengan takdir yang sudah ditetapkan oleh yang maha kuasa. Lagi pula jika tragedi itu tidak terjadi, tetap saya mama dan papa akan menyuruh kamu menikah lagi untuk mendapat garis keturunan. Jadi bagiku ini sama saja," jawab Arisa tersenyum lembut. Dimas menatap istrinya penuh kekaguman, seperti melihat seorang bidadari surga yang membawa kebahagiaan. Dimas tertawa kecil, dia malu karena sebagai seorang lelaki sangat pecundang. "Kenapa tertawa?" tanya Arisa heran. "Aku hanya menertawakan diriku sendiri, seharusnya aku yang menghiburmu tetapi justru akulah yang merengek seperti anak kecil bahkan menangis," jawab Dimas. "Yap, benar sekali. Seorang pemimpin perusahaan yang terkenal tegas dan berwibawa saat ini begitu cengeng," balas Arisa sengaja menggoda. Dimas pura - pura kesal, kemudian menggelitik perut Arisa. Mereka berdua saling membalas sampai akhirnya Dimas terjatuh di lantai dalam posisi Arisa di atas. Wajah mereka begitu dekat, mereka sama - sama mengagumi keindahan dan pesona satu sama lain. "Kamu begitu cantik, tiada tanding," puji Dimas. "Kamu juga suamiku yang paling ..." "Paling apa?" sela Dimas. Arisa menyeringai jahil. "Cengeng..." timpal Arisa di sambut tawa renyah. Dimas semakin gemas, dia bangun dan memeluk istri pertamanya lebih erat. Kemudian mencium bibir lembut Arisa penuh perasaan. Dimas bisa menilai, berhubungan intim atas dasar cinta dan keterpaksaan sangat berbeda jauh. Itulah yang membuat Dimas lebih b*******h ketika bersama Arisa. Ciuman Dimas semakin dalam, tentu saja sebagai istri Arisa melayani dengan senang hati. Ketika Dimas sudah mulai terangsang, dia hendak membawa Arisa ke atas ranjang. Akan tetapi Arisa langsung mencegah. "Mas, bukankah malam ini seharusnya kamu tidur bersama Lucia?" protes Arisa. "Aku ingin bersamamu, lagi pula dia pasti kelelahan karena merawat Aurel. Jadi biarlah dia istirahat," jawab Dimas santai. "Tidak bisa begitu, Mas. Sebagai suami kamu harus berusaha untuk adil. Setidaknya temani dia tidur disampingnya," bujuk Arisa. Dimas muram, dia sampai heran terbuat dari apa hati dan jiwa istrinya bisa setegar itu membagi suaminya sendiri. "Baiklah, kalau begitu persiapkan dirimu untuk besok malam ya?" bisik Dimas sambil memeluk Arisa. "Iya," jawab Arisa membalas pelukan tersebut. Ketika mereka berdua bermesraan, Lucia tengah mengintip karena pintu kamar tadi belum tertutup sempurna. Hatinya begitu panas melihat kenyataan ini. Begitu Dimas hendak keluar, Lucia segera berlari menuju kamar Aurel mengira suaminya akan menyusulnya. Tetapi harapan itu hanyalah kosong, Dimas justru membelok ke ruang kerja dan tidak keluar lagi setelah itu. "Sampai kapan aku hidupku seperti ini? Aku tidak ingin menjadi yang kedua. Aku ingin menjadi satu - satunya yang menerima seluruh kasih sayang suamiku," geram Lucia. Lucia sangat marah, serasa ingin mengamuk dan melempar semua barang yang ada di depannya. Tetapi begitu melihat wajah mungil Aurel, Lucia bisa meredam emosinya. Walaupun bukan anak kandung, tetapi karena sudah merawat dari Aurel lahir menimbulkan rasa sayang yang nyata. Lucia kembali tidur sambil memeluk Aurel dan menangis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN