Merasa Tersaingi

1043 Kata
"Apa yang kamu buat?" tanya Dosen wanita itu kepada Alea. "O-oh, ini saya sedang membuat kue vanilla, Bu," jelas Alea dengan wajah tersenyum. "Apa kue itu adalah favoritmu?" tanya Dosen itu kembali. "Benar, Bu. Kue vanilla adalah favorit saya," jawab Alea dengan wajah senang. Dosen wanita itu mendekat saat melihat kue Alea yang sudah mulai terbentuk. "Boleh saya mencicipinya?" tanya Dosen itu, membuat Alea terkejut. "E-eh, tapi belum selesai, Bu. Ini creamnya masih saya buat," jelas Alea. "Tidak apa-apa. Saya ingin mencicipinya tanpa menggunakan cream. Kelihatannya sangat enak kue buatanmu, bahkan aromanya sangat menggugah selera," ujar Dosen itu. Alea tersenyum malu, lalu kembali melanjutkan membuat cream dengan hati-hati. Sementara itu, beberapa teman sekelasnya mulai melihat dan memperhatikan Alea dengan tatapan penasaran. "Sepertinya dia serius sekali," bisik salah satu teman perempuan di sebelahnya. "Ya, dan aromanya saja sudah sangat menggoda," sahut yang lainnya. Alea menunduk sebentar, berusaha fokus pada pekerjaannya. Meski begitu, dia tetap bisa merasakan tatapan penasaran dari teman-temannya. Dosen wanita itu tersenyum dan berkata, "Bagus, Alea. Kerja dengan penuh ketelitian. Nanti kita akan lihat hasil akhirnya setelah 30 menit selesai." Alea mengangguk, sambil terus menyusun cream dengan gerakan lembut dan rapi. Saat waktu menunjukkan tiga puluh menit, Dosen wanita itu kembali ke tempatnya dan mulai berbicara. "Waktu kalian sudah habis," ucap Dosen itu. Membuat para mahasiswa mulai bersuara, karena mereka sangat takut dan gugup dengan hasil yang dibuat. Sementara Delia, dia terlihat sangat panik karena kuenya masih sangat berantakan. Pandangan Dosen teralih kepada Alea. Lalu, dia memanggil Alea untuk maju dan membawa kuenya ke depan, agar semua teman-temannya bisa mencicipinya dan memberikan nilai hasil buatannya. "Alea," panggil Dosen itu. Alea terkejut, dia langsung menatap Dosen saat namanya dipanggil. "Kemarilah dan bawa kuemu ke depan," ucap Dosen wanita itu. Alea mengangguk. Dengan langkah kaki yang gugup, dia membawa kuenya menuju meja depan. Alea menaruh kuenya di atas meja depan. Wajahnya memerah karena gugup. "Baiklah, Alea sudah menaruh kuenya. Sekarang, semua bisa mencicipi," ucap Dosen wanita itu sambil tersenyum. Satu per satu teman sekelas Alea mulai mengambil potongan kue dan mencobanya. "Enak banget," gumam salah satu mahasiswa perempuan sambil tersenyum. "Rasanya pas, manisnya tidak berlebihan," sahut mahasiswa laki-laki yang duduk di sebelah Alea. Alea hanya tersenyum malu. Jantungnya berdebar kencang melihat reaksi teman-temannya. Dosen wanita itu menatap Alea dengan bangga. "Kue buatanmu sangat baik, Alea. Aroma vanillanya kuat, teksturnya lembut, dan rasanya pas. Ibu beri nilai tinggi untuk ini," puji Dosen itu. Alea menunduk sambil tersenyum, merasa lega. Sementara itu, Delia yang melihat kuenya Alea begitu diapresiasi, wajahnya memerah karena cemburu dan merasa tersaingi. "Bagaimana? Apa kalian semua sudah mencicipi kue buatan Alea?" tanya Dosen itu. "Sudah, Bu!" jawab mereka serempak. "Jadi, bagaimana rasanya?" lanjut Dosen wanita itu. "Enak banget, Bu! Manisnya pas," sahut salah satu mahasiswa perempuan. "Aromanya harum dan teksturnya lembut," tambah mahasiswa laki-laki di sampingnya. "Rasanya beda dari yang lain, Bu. Aku suka sekali," timpal mahasiswa lain dengan antusias. "Benar, Bu! Kue Alea ini paling enak dibanding kue kami," seru beberapa mahasiswa perempuan bersamaan. Dosen itu tersenyum puas, lalu memandang Dalia. "Dalia," panggil Dosen itu, membuat Dalia langsung gugup. "I-iya, Bu," jawabnya terbata-bata. "Bawa kuemu ke depan," ucap Dosen tegas. Dalia menelan ludah dan melangkah dengan gemetar menuju meja depan. Beberapa teman menahan tawa melihat ekspresinya yang canggung. Saat Dalia meletakkan kuenya, beberapa mahasiswa menatap dengan sorot mata kritis, membandingkannya dengan kuenya Alea. Beberapa siswa berbisik satu sama lain, "Kuemu masih jauh dari Alea." "Rasanya juga kalah enak dibanding yang Alea buat." Dosen wanita itu menatap Dalia dengan serius. "Baiklah, ayo kita cicipi," ucap Dosen. Satu per satu mahasiswa mencicipi kue Dalia. Wajah mereka terlihat bingung dan ada yang menahan senyum. Dosen menghela napas, lalu berkata, "Seperti yang Ibu katakan sebelumnya, kue yang enak itu tidak hanya soal tampilan, tapi rasa dan aroma yang menyenangkan. Alea sudah menunjukkan hal itu dengan baik. Semoga kalian bisa belajar dari contohnya." Alea menjadi yang terakhir mencicipi kue Dalia. Namun, saat dia mencicipi, perasaan aneh bergelora di dalam dirinya. Karena tidak ingin membuat Dalia malu, Alea menelan kue itu dengan terpaksa. Tiba-tiba, Dosen itu melontarkan pertanyaan kepada Alea mengenai penilaian kuenya Dalia. "Alea, menurutmu, bagaimana kue Dalia? Apa saja yang sangat kurang di dalam kue tersebut?" tanya Dosen itu kepada Alea. Mata Alea terbelalak. Ia tidak menyangka akan ditanya seperti itu. Alea menoleh ke arah Dalia. Terlihat jelas bahwa Dalia sangat marah saat pertanyaan itu dilontarkan kepadanya. Dosen itu menunggu jawaban Alea dengan sabar. Lalu kembali bertanya, "Alea, bagaimana pendapatmu?" Alea menarik napas dalam-dalam, menatap Dosen itu, dan mulai menjawab dengan hati-hati. "S-sebelumnya, saya benar-benar minta maaf jika penilaian saya sedikit menyinggung. Tapi jujur, dari penampilannya saja sudah sangat berantakan," jelas Alea. Dalia semakin kesal. Tatapannya tak pernah lepas dari Alea. "Lanjutkan, Alea," ucap Dosen itu. Alea mengangguk, lalu melanjutkan, "Lalu, rasanya juga kurang enak. Dari komposisi tepung, telur, hingga bahan lainnya benar-benar belum menyatu. Bahkan kelembutannya tidak ada. Bisa dikatakan, pematangan kuenya belum sempurna. Belum terlalu matang." "Baiklah, cukup Alea tentang pendapatmu," ucap Dosen itu, membuat Alea menganggukkan kepalanya. Lalu, Dosen itu mengalihkan pandangannya ke arah siswa lainnya. "Selain Alea, bagaimana pendapat kalian tentang kue Dalia?" tanya Dosen itu. Seorang siswa laki-laki mengangkat tangannya. "Menurut saya, kue Dalia belum matang sempurna, Bu. Bagian tengahnya masih agak basah," jawabnya. Siswa perempuan di sebelahnya ikut menambahkan, "Iya, Bu. Teksturnya terlalu padat, kurang lembut. Aroma vanilla-nya juga tidak keluar maksimal." "Aku juga merasa sama, Bu," sambung seorang siswa perempuan lain. "Permukaannya agak pecah, jadi tampilannya kurang menarik." Dalia tampak semakin marah, tatapannya menyorot tajam ke Alea. Namun, para siswa tetap menjawab dengan sopan dan jujur, tanpa memperlihatkan rasa tidak enak hati. Dosen itu mengangguk pelan. "Baiklah, terima kasih atas pendapat kalian semua. Penting untuk menilai dengan jujur, tapi tetap menjaga sopan santun." Alea menunduk sebentar, merasa lega karena tidak lagi menjadi pusat perhatian. Sementara Dalia masih mencoba menahan amarahnya, tampak wajahnya memerah. Praktik selesai. Semua mahasiswa mulai sibuk saling mencicipi kue teman-temannya. Begitu juga dengan Alea. Dia ikut mencicipi satu per satu, merasakan beragam rasa yang berbeda, namun semuanya terasa memuaskan baginya. Hanya saja, ada kue yang rasanya kurang beraturan menurut Alea, yaitu kue buatan Dalia, Karina, dan Elly tiga mahasiswa yang selama ini sering membully Alea. Alea menelan dengan hati-hati setiap gigitan, berusaha tetap sopan meski hatinya sedikit merasa aneh dengan tekstur dan rasa kue mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN