“Bagaimana dengan kuliahmu, Sayang?” tanya Ratna dari arah seberang.
“Semuanya lancar, Bu. Hari ini adalah hari pertama Alea ospek,” jawab Alea sambil mengadon kue.
“Syukurlah.”
Saat ini, Alea sedang melakukan panggilan video dengan Ratna.
“Bagaimana kabar kakakmu?” tanya Ratna.
“Kakak baik-baik saja, Bu.”
“Apa dia selalu marah kepadamu?”
“Tidak. Akhir-akhir ini Kakak bersikap baik.”
Ratna terdiam. Ia merasa heran saat mendengar jawaban Alea tentang perubahan sikap Raka.
Lalu, Ratna kembali berbicara kepada Alea, yang terlihat masih sibuk dengan kegiatannya.
“Kamu sedang membuat apa, Sayang?”
“Alea sedang membuat kue, Bu.”
“Kenapa tidak menyuruh Ibu mengantarkan kue saja, daripada kamu membuatnya sendiri?”
Alea menggelengkan kepalanya.
“No, no, no,” jawab Alea dengan cepat. “Kasihan Ibu dan Ayah harus jauh-jauh ke sini hanya untuk mengantarkan kue.”
“Kamu pasti selalu menolak, padahal Ibu dan Ayah senang kalau ke sana.”
Alea hanya tersenyum. Ia masih sibuk dengan adonan kuenya, lalu mulai menuangkannya ke dalam cetakan.
“Ibu, Alea selesaikan dulu, ya. Nanti kalau sudah selesai, Alea hubungi kembali.”
“Baik, Sayang. Ingat, hati-hati.”
Alea mengangguk, lalu panggilan itu berakhir. Kini Alea mulai fokus pada kuenya yang akan dimasukkan ke dalam oven.
Di sisi lain, Raka yang tadinya berada di ruang kerjanya kini keluar karena mencium bau yang menyengat.
Saat melihat sosok Alea sedang berdiri di dapur, Raka langsung menegurnya.
“Alea, parfum apa yang kamu pakai? Baunya menyebar ke seluruh lorong dan mengganggu konsentrasiku,” tegur Raka.
Alea tersentak karena terkejut. Ia membalikkan badan dan menatap pria yang menegurnya tadi.
“Oh, maaf, Kak. Aku sedang membuat kue. Mungkin itu aroma kuenya,” jawab Alea.
Niat hati ingin marah, tetapi menjadi berubah sesuatu hal. Yang membuatnya menjadi penasaran.
Raka menghela napas, lalu melangkah mendekat ke arah Alea. Saat tiba di hadapannya, matanya tertuju pada wajah Alea yang penuh dengan tepung.
Raka mengulurkan tangannya untuk membersihkan tepung yang ada di wajah Alea.
“Apa kamu selalu bersikap seperti anak kecil?” ucapnya, membuat Alea mematung. “Lihat wajahmu, penuh dengan tepung,” sambungnya.
Alea benar-benar mematung. Begitu pula dengan Raka. Ia berhenti sejenak saat jari-jarinya tanpa sengaja menyentuh ujung bibir Alea.
Ada perasaan aneh yang muncul, tetapi ia tidak mengerti itu apa. Bahkan, keduanya sama-sama merasa gugup hingga tidak mampu berkata apa-apa.
Seketika Raka tersadar. Dengan cepat ia menarik tangannya dan berbalik.
Jantungnya berdebar, begitu pun dengan Alea. Napasnya terasa tertahan karena gugup dan jantungnya berdegup kencang.
Sikap Raka terasa sangat berubah sejak kejadian hujan itu. Kemarin, bahkan hingga sekarang, semuanya benar-benar berbeda.
Alea ikut memalingkan wajahnya. Ia memegangi dadanya, rasanya berdebar sekali.
Dalam hatinya,
“Perasaan aneh apa ini?”
Alea mencoba mengendalikan dirinya. Begitu pula dengan Raka. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan.
“Kalau begitu, lanjutkan saja,” ucap Raka, memecah suasana tegang tadi.
Alea menghela napas. Ia kembali mengambil spatula dan mulai mengaduk adonan itu.
Sedangkan Raka tidak pergi. Ia justru duduk dan memperhatikan setiap gerak-gerik Alea yang sedang membuat kue.
**
Lima belas menit kemudian, Alea telah selesai membuat kuenya. Aroma vanila yang sebelumnya disangka Raka sebagai parfum kini tercium begitu menyengat.
Ia mengeluarkan kue itu dari oven, lalu membawanya ke meja tempat Raka duduk.
Tatapan Raka tidak pernah lepas dari Alea.
“Kakak mau?” tanya Alea saat tiba di meja. “Nanti aku ambilkan.”
Raka menarik napas, lalu mengembuskannya perlahan.
“Tidak,” jawab Raka cepat. “Aku tidak suka makanan manis.”
Alea mengerutkan kening. Ia tidak tahu bahwa Raka tidak menyukai makanan manis.
“Iya sudah, aku makan sendiri saja,” kata Alea sambil memotong kue itu.
Alea tersenyum saat memotong kuenya. Pandangan Raka masih tertuju padanya, dengan tangan terlipat di d**a.
Saat Alea memakan satu potong kue tersebut, Raka kembali berbicara.
“Kenapa kamu susah-susah membuat kue?” tanyanya sambil menatap Alea. “Padahal ibumu sendiri punya toko kue.”
Alea mengunyah kue itu sambil menutup mulutnya dengan tangan. Lalu, ia menjawab,
“Kasihan Ayah dan Ibu harus bolak-balik ke sini hanya untuk mengantarkan kue.”
Raka tidak menjawab. Ia hanya menghela napas. Selama Alea kuliah, mereka tinggal terpisah dari Ardian dan Ratna.
Hal itu karena jarak universitas Alea sangat jauh dari rumah mereka. Awalnya, Alea ingin tinggal di kos dekat kampusnya. Namun, Ardian dan Ratna menolaknya karena tidak ingin Alea tinggal sendirian.
Kebetulan, Raka juga memiliki pekerjaan di dekat universitas Alea. Itulah sebabnya Alea akhirnya tinggal bersama Raka.