Tumpangan Neraka

771 Kata
“Kenapa malah tiba-tiba hujan?” keluh Alea. Saat ini Alea berada di depan ATM setelah selesai mengambil uang. Ia tidak menyangka hujan akan turun. Alea segera mengambil ponselnya, lalu mencoba memesan taksi online. Sayangnya, dari setiap aplikasi yang ia coba, tidak ada yang merespons. Hal itu membuat Alea merasa frustrasi. “Bagaimana, ya?” gumamnya sambil menatap ponsel. “Apa harus aku menghubungi Kakak?” Alea menggelengkan kepalanya. Ia tidak mungkin menghubungi Raka untuk meminta bantuan. Ia mengulurkan tangan ke depan, membiarkan hujan menetes di telapak tangannya. Pandangannya terangkat ke atas, sementara pakaiannya mulai basah oleh percikan air hujan. Tak lama kemudian, suara Raka terdengar tiba-tiba. “Seperti anak kecil, suka main hujan-hujanan,” kata Raka, membuat Alea terkejut. Pandangan Alea turun, bertemu dengan tatapan Raka. Ia tidak tahu apa yang dilakukan Raka di sana. “Masuk mobil atau kutinggal kau basah kuyup di sini jadi tontonan satpam,” kata Raka dengan ketus. Dengan cepat, Alea melangkahkan kakinya masuk ke mobil Raka. Meskipun sebenarnya ia takut, tetap saja ia memerlukan tumpangan untuk membayar administrasi kuliahnya. Saat Alea sudah duduk di kursi penumpang, ia menepuk-nepuk bajunya yang basah. Tatapan Raka tak pernah teralih darinya. Suara Raka kembali terdengar. “Ponselmu rusak?” tanyanya, lalu mengalihkan pandangan. Alea langsung menoleh menatap Raka. “Tidak,” jawabnya cepat. “Lalu, kenapa tidak menghubungiku?” Alea terdiam. Tidak ada jawaban dari Alea. Suasana terasa terlalu hening. Raka mengembuskan napasnya, lalu kembali bersuara, memecah keheningan. “Diam-mu itu sudah menjadi kebiasaan, ya?” Mesin mobil menyala. Alea hanya menatap ke depan, tidak berani menatap Raka. Mobil mulai melaju, meninggalkan ATM itu. Suasananya benar-benar terasa aneh. Udara di dalam mobil dingin bagi Alea, tetapi ia hanya menahannya. Raka menyalakan penghangat tanpa diminta, menunjukkan sisi pedulinya meskipun wajahnya tetap datar. Sepanjang perjalanan itu, suasana di dalam mobil sangat hening. Tidak ada percakapan apa pun antara Raka dan Alea. Namun, di dalam benak Alea hanya ada satu pertanyaan. "Bagaimana dia tahu aku keluar hari ini?" Tatapan Alea masih ke depan. Hujan turun sangat deras, membuat wiper mobil bergerak cepat. Raut wajah Raka tetap datar tanpa menunjukkan ekspresi apa pun. Rasa bosan mulai terasa bagi Alea. Ia ingin bertanya, tetapi tidak berani. Beberapa menit kemudian, suara Raka terdengar. “Mengapa kau tidak menghubungiku jika kau perlu tumpangan?” tanyanya tanpa menoleh. Alea menoleh saat suara Raka terdengar. Sekilas, Raka juga menoleh, lalu kembali menatap ke depan. Alea menghela napasnya dan menjawab pertanyaan Raka. “Aku tidak ingin merepotkan Kakak,” jawab Alea dengan tatapan lurus ke depan. “Dan lagi, tidak mungkin juga Kakak mau mengantarku,” sambungnya. Raka terdiam. Pandangannya tetap ke depan. Suasana kembali hening, tidak ada pertanyaan apa pun lagi. Mobil masih melaju, sementara kabut tebal akibat hujan membuat pandangan kian terbatas. Di persimpangan, sebuah mobil tiba-tiba melawan arah. Raka menginjak rem keras, menghasilkan decitan ban yang memekakkan telinga. Cittttt! Mobil berhenti mendadak. Napas Raka naik turun, tatapannya lurus ke depan, menatap mobil di hadapannya. Sementara itu, tangannya refleks melindungi Alea agar tidak terbentur. Raka menoleh, menatap Alea yang masih memejamkan mata. Suasana tegang itu perlahan mencair saat Raka berbicara. “Kamu tidak apa-apa?” tanya Raka dengan napas yang masih memburu. Alea langsung membuka matanya. Ia masih terkejut dengan kejadian yang tak diduganya. Napasnya juga naik turun. Namun, yang membuatnya semakin terkejut adalah tangan Raka yang masih melindunginya. Alea mengangguk, lalu menjawabnya. “I-iya. Aku baik-baik saja,” jawab Alea dengan suara sedikit gemetar. Raka menghela napas lega karena Alea tidak apa-apa. Namun, saat ia tersadar, dengan cepat Raka menarik tangannya dan mengalihkan pandangan. Suasana pun bercampur aduk ada ketegangan, juga rasa canggung yang perlahan menyusup. Raka mencoba mengontrol dirinya, lalu kembali menyalakan mesin mobil dan melajukannya. Sementara itu, Alea masih terdiam menatap ke arah jendela yang tertutup. Di benaknya, ia merasa aneh dengan sikap Raka. ** Akhirnya, perjalanan itu berakhir saat mobil berhenti di area parkir universitas. Hujan mulai reda. Alea membuka pintu mobil dan turun. Sebelum benar-benar pergi, ia membungkuk sedikit lalu berbicara kepada Raka. “Kakak, kalau mau kembali, silakan. Nanti aku pulang naik taksi online saja.” “Aku akan menunggu,” jawab Raka tanpa menoleh. Alea tercengang mendengar jawaban Raka. Sejak kapan ia mau menunggu? “Tapi, ini lumayan lama, Kak.” “Aku menunggu,” ucap Raka singkat. “Sekarang pergilah.” Rasa penasaran dalam diri Alea terus menghantuinya. Ia ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada Raka. Sikap pria itu begitu berubah, sangat berbeda dibandingkan dua hari lalu saat kemarahannya masih jelas terasa. Alea pun mengangguk. Ia menutup pintu mobil, lalu melangkah pergi meninggalkan Raka. Saat Alea benar-benar menjauh, Raka menatap punggung Alea yang perlahan menghilang di kejauhan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN