Gadis itu menunduk.
Kedua tangannya saling tertaut.
Matanya memandang takut pria di sampingnya yang sedang menyetir.
Mobil yang ditumpanginya melaju cepat, membuat detak jantungnya ikut berdentam kencang.
Lalu, decitan ban mobil terdengar nyaring.
Ciiittt… Brak!
Aca bangun dari tidurnya dengan napas memburu, keringat dingin membasahi wajahnya, lalu dengan gerakan cepat ia meraih ponsel yang berada di nakas samping ranjangnya. Masih tengah malam, katanya dalam hati setelah melihat jam di ponsel. Disentuhnya pigura foto yang terpajang di nakas, bibirnya mengukir senyum getir. Di pigura itu terlihat Devan, Ethan, Aca, dan seorang gadis saling berangkulan dengan senyum lebar. Refleks, Aca membelai wajah cantik dalam foto itu, seorang gadis yang serupa dengan Devan.
"Ve…," lirihnya.
Perlahan, ia turun dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi untuk wudu. Malam ini akan seperti malam-malam sebelumnya. Ia akan menumpahkan air mata di atas sajadahnya.
***
"Bet! Bety! Bangun, woy!" teriak Ethan di depan kamar Aca seraya menggedor pintu tanpa henti. Lama tak dapat jawaban, ia pun memutar gagang pintu.
"Etdah, nggak dikunci ternyata!" omelnya saat pintu terbuka dan kembali berteriak ketika menemukan sang adik masih asyik terlelap.
Ethan membuka paksa selimut yang membungkus tubuh Aca. "Jam berapa nih, Bet?!! Lo nggak kerja apa?"
"Hhmmm….” Aca menggeliat di kasurnya. “Lima menit lagi, Bang. Habis subuh baru bisa tidur ini."
Ethan duduk di pinggir ranjang. “Mimpi buruk lagi?” Kali ini, suaranya melembut.
Aca mengangguk pelan. "Abang duluan aja ya. Adek berangkat sendiri.”
Ethan menarik napas dalam-dalam dan segera keluar dari kamar Aca.
"Lho, Bang, Adek belum bangun?" tanya Diana saat melihat putranya duduk di ruang makan bersama Rudi.
"Belum, Bun. Mimpi buruk lagi katanya," jawab Ethan lesu.
"Pagi!!!"
Tak lama kemudian, sudah terdengar teriakan Aca di pintu dapur sambil memeluk ayahnya dari samping.
"Busyet! Mandi bebek lo, Bet? Sepuluh menit sudah rapi gitu," sindir Ethan melihat adiknya sudah memakai seragam lengkap Greenday Resto.
"Abang…," tegur Diana pelan.
"Mau pamer sudah dapat kerjaan lo? Pakai seragam dari rumah," tambah Ethan membuat Aca semakin mengerucutkan bibirnya sebal.
"Abang, habisin sarapannya sebelum napasmu habis kebanyakan bicara," ucap sang ayah pelan.
“Iya, Yah, iya.”
Setelah menyelesaikan sarapannya, Ethan mengantarkan Aca berangkat kerja sebelum ia ke kantor. Setelah Ethan menurunkannya di pinggir jalan, Aca memasuki Greenday Resto lalu menyapa Mang Ujang yang sedang membersihkan kaca. Mang Ujang adalah satu-satunya OB di restoran ini. Ia sudah bekerja lebih dari dua puluh tahun dengan Om Bagas. Dulu, ia adalah sopir pribadi Om Bagas saat beliau masih menjabat rektor di sebuah universitas negeri di Jakarta. Namun, setelah Om Bagas resign dari universitas, Mang Ujang lebih memilih ikut Om Bagas meski hanya jadi OB. Tentu saja Om Bagas sangat mempercayai Mang Ujang yang sudah ia anggap layaknya keluarga sendiri.
"Pagi, Mang. Masih sepi ya?" Setelah menyimpan tasnya di loker, Aca segera membantu Mang Ujang membersihkan meja dan merapikan kursi, meski sebenarnya itu bukan tugasnya.
"Iya, Neng, baru ada Mas Andra di dapur. Neng ini kenapa juga datang pagi-pagi sekali?"
Aca hanya tersenyum menanggapi ucapan Mang Ujang. Sementara dari lantai dua, Devan tersenyum menatap gadis yang dengan ceria menyapu lantai sambil menyanyikan lagu Korea kesukaannya itu.
"Sampai kapan mau lihat dari jauh begitu? Samperin gih. Masa anak Ayah pengecut gini?" Bagas menepuk bahu kiri Devan yang hanya bisa melempar senyum menanggapi ucapan ayahnya.
***
Sore itu Aca bersiap pulang karena shift kerjanya sudah selesai. Sambil bernyanyi dengan suara lembut, Aca mulai mengemasi barangnya di loker setelah mengganti seragam kerjanya dengan kaus biru laut dan celana jeans hitam.
"Mau pulang, Neng? Nggak nungguin Akang dulu?" tanya Doni sembari memainkan alisnya. Ia salah satu chef khusus makanan khas Indonesia di Greenday Resto yang sangat suka menggoda Aca sejak awal pertemuan mereka.
"Ngapain nunggu Akang? Udah dijemput tuh," jawab Aca bohong. Kemudian, ia berjalan melewati Mbak Siti yang sedang mencuci piring dan keluar dari Greenday resto. Baru saja melewati pintu, tiba-tiba Devan menarik pergelangan tangannya kasar.
"Bang Dev, apaan sih? Sakit tahu," teriak gadis itu sebal.
"Abang antar pulang," tegas Devan, tak ingin dibantah.
"Ya nggak usah ditarik juga kali, emang gue sapi apa?" Aca mencebikkan bibirnya kesal, melepaskan tangannya dari cekalan pria itu.
Devan membukakan pintu mobil untuk Aca, mendorong tubuh mungil itu memasuki mobil, lalu memasangkan sabuk pengaman.
"Sepi banget, Bang. Nyalain radio ya?"
"Hmmm...."
Gaseum sirige nunbusin
Neoreul anajugo sipeo
Baram bureowa hoksi neo
Naragalji molla geopna
Neoui misowa nunmuldeureul
Nae gaseume damaseo
Eonjena neomaneul saranghallae
Aca menyanyi dengan penuh penghayatan, lagu yang beberapa hari ini membuat ia nangis saat nonton drama yang dibintangi artis cantik Park Mi Young itu.
"Ekspresimu, Dek, ngalahin Agnezmo nyanyi lagu Karena Kusanggup," ucap Devan tersenyum geli.
"Biarin, mulut gue ini."
"Gitu aja sewot!” Devan tertawa geli. “Eh, lo kenapa nggak bilang kalau pacaran sama sundel itu? Kok sembarangan banget main terima orang yang baru dikenal?"
Doni memang baru tiga bulan ini menjadi chef di Greenday Resto, tidak seperti Angga dan Rani yang sudah ada di sana sejak Greenday Resto dibuka delapan tahun yang lalu.
"Sundel siapa? Kang Doni?” Aca tidak bisa menahan tawanya. “Siapa juga yang pacaran sama dia?"
"Lho, itu anak-anak dapur pada heboh ceritain kalian kalau pagi."
"Yah, gosip pagi-pagi dipercaya. Dulu Bang Dev juga nggak bilang-bilang waktu pacaran sama Mbak Maya," ucap Aca santai.
Sesaat, tubuh Devan menegang. "Cari makan dulu, yuk! Laper gue." Devan menepikan mobilnya di depan warung pinggir jalan.
"Itu perut apa gentong? Mau diisi terus."
"Tahu nih! Tiap bareng kamu, bawaannya laper mulu."
Ih, dasar nggak konsisten. Tadi lo-gue sekarang panggil kamu, aneh, batin Aca.
Setelah turun dari mobil, Aca terkejut menyadari sekarang ia berada di depan warung Pak Jamil.
"Kok bengong? Ayo, masuk!" Devan menarik pergelangan tangan Aca lembut, tidak kasar seperti tadi.
Mereka masuk, disambut senyum lebar Mak Rina, istri dari Pak Jamil.
"Nak Dev, lama banget baru kelihatan, makin ganteng. Ini Mbak Aca juga makin cantik," ucap Mak Rina sembari menjabat tangan mereka berdua.
Devan memilih meja paling ujung, meja tempat mereka biasa makan di sini dulu.
"Iya nih, Mak, sudah lama. Pak Jamil mana, Mak? Pesan soto ayam dua ya!" ujar Devan.
"Ke masjid. Tadi ada musyawarah dengan jama'ah di sana. Tunggu sebentar ya, Mak bikin dulu sotonya.”
Warung ini menyediakan soto ayam yang rasanya luar biasa, menurut Aca. Apalagi banyak jajanan kaki lima yang tersedia. Tahu isi, bakwan, tempe goreng, sate usus, siomay, sate telur puyuh, dan kerupuk. Setelah Mak Rina datang membawakan soto mereka, tanpa menunggu lama Aca mulai meracik makanannya. Soto ayam yang diberi sambel dan kecap, ditambah potongan bakwan, sate telur puyuh, dan kerupuk di tangan kirinya. Masih seperti dulu, Aca akan memenuhi mangkuknya dengan gorengan dan sate. Namun, tiba-tiba gerakannya berhenti, senyum lebar yang tadi ada kini berganti tatapan sendu.
"Gila lo, tadi bilangin gue perut gentong, nah lo apa dong maruk gitu? Bisa abis tuh?"
Bukanya menjawab pertanyaan Devan, Aca justru meneteskan air mata, meletakkan kembali sendoknya di mangkuk.
"Eh, eh, kenapa lo? Kurang satenya sampe nangis gitu?" Devan mengerutkan keningnya heran.
"Aku… Aku kangen Ve."