Aca Seketika aku menyadari bahwa menangis tak pernah bisa mengubah apa pun. Berharap sedikit lega setelah seharian menumpahkan air mata, namun ternyata tak berguna. Rasa itu tetap ada, menyesakkan d**a sampai hampir lupa bagaimana caranya bernapas. Kenapa begitu sulit melupaka rasa sakit? Kudengar suara pintu kamarku terbuka yang kuyakin pasti Bang Ethan. Satu-satunya keluarga yang tahu hubunganku dengan Devan. Aku tak ingin memandang wajahnya, kulewati tubuh besarnya begitu saja, melangkahkan kakiku keluar rumah dengan tergesa. Aku ingin segera menyelesaikannya. Berdiam diri di rumah, rasanya hanya akan membuatku gila. "Dek, mau ke mana? Woy!" kudengar Bang Ethan berteriak. Tapi aku tak peduli, terus berlari ke jalan mencari taksi di tengah gelapnya malam. Cukup sudah

