Part 9

998 Kata
Sandra yang tengah marah pun tak menghiraukan Zein yang membanting pintu kamarnya, ia kesal terus menerus ditanyai dengan pertanyaan yang sama oleh mertuanya sementara ia sangat mengetahui kondisi dirinya yang tak mungkin melahirkan seorang anak. Sementara itu tanpa seorang pun tau Zein memasuki kamar Hana ia menguncinya dan berbaring di ranjang itu. "Daddy... ngapain sih" omel Hana begitu daddynya tersebut memeluknya. "Daddy bobo di sini ya" ucap Zein. "Enggak ah, sana keluar nanti kepergok mami dad" ucap Hana khawatir. "Gak akan, sudah dikunci pintunya" ucap Zein. "Daddy lagi malas tidur sama mami kamu" sambung Zein dengan kesal. "Kenapa? lagi berantem?" tanya Hana. "Hm begitulah, tidurlah daddy ngantuk" ucap Zein sembari memeluk Hana. "Enggak dad... daddy gak boleh tidur di sini. Sadarlah dad kita gak bisa seperti ini" ucap Hana. "Han... sudah malam dan daddy gak ingin berdebat" ucap Zein yang kemudian memejamkan matanya. "Selamat malam daddy" ucap Mila sebelum memejamkan matanya, ia terpaksa mengalah dan tidur dalam pelukan daddynya. Pagi sekali Zein sudah bangun, ia segera keluar dari kamar Hana sebelum Sandra memergoki mereka, ia memutuskan kembali ke kamarnya dan melanjutkan tidurnya. --- Sandra tengah bersiap untuk berangkat ke kantornya dan Zein pun melakukan hal yang sama. "Kenapa gak jujur aja sih sama orang tua kamu kalau aku gak mungkin bisa memberikan mereka cucu, aku cape setiap bertemu mereka disuguhi pertanyaan yang sama" ucap Sandra yang masih marah. "Dan membuat mama papa kecewa, enggak San aku gak mau mereka tau tentang kondisi kamu" ucap Zein. "Lalu aku harus bagaimana, aku cape Zein. Setiap pulang dari rumah mama kita selalu begini selalu ribut dengan masalah yang sama" ucap Sandra emosi. "Cukup kamu, diam! jangan bicara apa pun dengarkan saja apa yang dikatakan mama papa" ucap Zein. "Gampang kamu bilang begitu, kamu gak merasa bagaimana rasanya berada diposisiku" ucap Sandra marah. "Sudahlah San aku cape berdebat sama kamu" ucap Zein yang segera keluar kamarnya. Zein dan Hana tengah sarapan bersama tak lama Sandra masuk ruang makan dan ikut bergabung bersama suami dan anak tirinya itu. "Mami mau ke mana lagi?" tanya Hana begitu melihat Sandra membawa kopernya. "Keluar kota ada proyek yang harus ditinjau, cuma tiga hari sayang" ucap Sandra. "Mam... bisa gak sih kurangi kegiatan mami, mami terlalu sibuk dan jarang berkumpul bersama kami" ucap Hana. "Mami kerja juga buat kelancaran perusahaan kita perusahaan mendiang papi kamu dan buat kamu juga Han, jadi kamu jangan sok mengatur mami, kamu hanya perlu fokus dengan pendidikan kamu biar cepat lulus dan bisa membantu mami di kantor" ucap Sandra. "Jangan buat Hana seperti kamu yang gila bekerja layaknya robot" ucap Zein marah. "Punya hak apa kamu atas Hana" ucap Sandra marah. "Aku berhak aku daddy-nya" ucap Zein emosi. "Sudah cukup, apa-apaan sih ini, ini ruang makan bukan tempat adu mulut" ucap Hana marah membuat Zein dan Sandra terdiam. "Oke baiklah mami pergi sayang, jaga dirimu" ucap Sandra sembari mengecup puncak kepala Hana. --- #Skip dua minggu kemudian Siang hari begitu kelasnya selesai Mila menyambangi kantor daddynya, ia melenggang masuk menuju ruangan Zein. "Mba daddy ada?" tanya Hana pada Mita sekretaris Zein. "Oh ada mba, langsung masuk saja" ucap Mita. Hana berjalan menuju ruangan Zein yang berada tak jauh dari meja Mita, dan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu ia pun langsung masuk ke ruangan daddynya tersebut. Terlihat Zein tengah fokus menatap laptopnya. "Dad" sapa Hana begitu masuk ruangan Zein dan ia kembali menutup pintunya. "Hai sayang kamu datang" ucap Zein, ia berdiri menghampiri Hana dan memeluk pinggangnya lalu mengecup bibir anak perempuan itu. "Apaan sih" omel Hana, ia berusaha menghindar dari ciuman daddynya tersebut namun terlambat. "Ada apa kemari?" tanya Zein. "Dad aku..." "Kita duduk dulu, masa berdiri saja" ucap Zein. Keduanya duduk bersama di sofa yang ada di ruangan itu, Zein mengambil remot ACnya kemudian mematikannya. Pria tampan itu mengambil sebatang rokok kemudian menyelipkan disela bibirnya dan memantikkan api pada ujung batang rokok tersebut. "Dad" panggil Hana pelan. "Hm" gumam Zein yang tengah menikmati rokoknya. "Kayaknya aku sudah telat" ucap Hana pelan namun masih bisa didengar oleh Zein, perempuan itu mengusap perutnya pelan. "Telat apanya" tanya Zein tak mengerti. "Telat bulan dad, tamu bulanan" ucap Hana dan Zein pun menatapnya, ia teringat saat berhubungan ia tak menggunakan pengaman. "Sudah berapa hari" tanya Zein, terlihat di wajahnya ada sedikit raut bahagia yang bercampur kekhawatiran serta kecemasan. "Dua minggu dad, dan harusnya aku sudah dapat tamuku" ucap Hana takut. "Kamu sudah periksa?" ucap Zein dan Hana menggelengkan kepalanya. "Nanti sore kita ke dokter untuk periksa" ucap Zein yang juga takut. "Bagaimana kalau ternyata positif?" Hana begitu takut. Zein tak menghiraukan ucapan Hana, bukan tak peduli ia pun sama seperti Hana yang begitu takut menghadapi permasalahan mereka. "Dad... bagaimana kalau ternyata positif?!" Hana mengguncang lengan Zein dengan frustasi, sementara pria itu hanya dia asik dengan rokoknya. "Dad bicara! bagaimana kalau positif, apa yang harus kita lakukan, apa yang harus aku katakan pada mami?!" teriak Hana menangis. Zein kemudian meraih Hana dan memeluknya. "Kita akan menghadapinya bersama" bisik Zein seraya menenangkan Hana. "Dad... kalau dia benar ada bagaimana? apa yang harus kita lakukan? gak mungkin kalau digugurkan dan gak mungkin juga untuk mempertahankannya" ucap Hana menatap Zein. "Kamu gak menginginkan anak ini?" tanya Zein marah. "Bukan begitu dad, ini terlalu rumit, dan kehamilan ini akan menambah masalah. Dan ini sebuah kesalahan" ucap Hana. "Ini buah cinta kita, aku sudah sangat lama mengharap kehadiarannya dan kamu mau menggugurkannya? jangan gila Hana" ucap Zein marah. "Siapa yang mau menggugurkan dad, Hana cuma bingung harus berbuat apa kalau benar dia ada di sini" Hana mengusap perutnya. "Dan pasti mami akan bertanya siapa ayahnya, aku harus jawab apa?" ucap Hana menitikkan airmatanya. "Itu urusan daddy, kamu gak perlu memikirkannya" ucap Zein, ia memeluk Hana. Sore hari Zein menemani Hana menuju rumah sakit dan benar saja setelah melalui pemeriksaan Hana dinyatakan positif hamil dengan usia kehamilan dua minggu. Bagaimana reaksi Zein? tentunya ia merasa sangat bahagia, di usianya yang hampir berkepala empat ia kan menimang seorang anak, tak pernah ada dalam bayangannya akan menimang anak kandungnya sendiri yang akan lahir dari rahim perempuan yang ia cintai. Dan bagaimana reaksi hana begitu mengetahui dirinya berbadan dua dari hasil hubungan gelapnya bersama sang daddy? ♥♥♥
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN