Part 6

995 Kata
Zein benar-benar kalut sudah beberapa hari ini Hana terus menghindarnya, sejak malam di mana mereka saling menyatakan perasaannya Hana terus berusaha menghindar dan menjaga jarak dari daddy sambungnya tersebut, gadis itu pun sudah tak pernah lagi ikut makan bersama di ruang makan demi menghindari pertemuan dengan daddynya. "Bi panggil Zein biar sarapan bareng" ucap Sandra yang sudah pulang. "Biar aku yang panggil" ucap Zein, Sandra pun mengangguk tanpa curiga sedikit pun pada suaminya. Zein mengetuk pintu kamar Hana pelan. "Ya masuk aja gak dikunci" teriak Hana dari dalam kamarnya. Zein pun memasuki kamar putri sambungnya, Hana yang melihat Zein pun kaget seketika. "Daddy" ucap Hana kaget, ia berdiri dari kursi riasnya. "Kenapa, kaget hm" ucap Zein yang berjalan mendekati Hana. "Daddy tau akhir-akhir ini kamu mulai coba menjauhi daddy, kamu pikir apa yang kamu lakukan ini akan menghilangkan rasa diantara kita?" ucap Zein lagi yang sudah berdiri di depan Hana. "Enggak Han... justru semakin kamu menjauh dari daddy semakin daddy berusaha keras untuk mendapatkan kamu" sambung Zein sembari mengusap pipi putri sambungnya tersebut. "Sudahlah dad, kita gak mungkin bersama, terlalu mustahil. Hana gak mau bikin mami sakit hati, dan Hana gak ingin di cap jadi anak yang gak tau diri" ucap Hana. "Peduli apa sama mami kamu, dia aja gak peduli sama kita" ucap Zein yang kini sudah memeluk Hana dari belakang, ia menyandarkan dagunya di pundak Hana dan menatap pantulan mereka di cermin rias. "Daddy lepas" Hana mencoba melepaskan pelukan sang daddy dari tubuhnya namun pelukan itu begitu erat sehingga tak mudah bagi Hana untuk melepaskannya. "Biarkan seperti ini sayang" bisik Zein lalu mengecup leher Hana. "Daddy cukup" ucap Hana seraya menitikkan air matanya, air mata penyesalan atas rasa yang sudah tumbuh antara ia dan Zein. "Daddy sayang sama kamu Han" ucap Zein, ia memutar tubuh Hana lalu melumat bibirnya pelan. Hana meronta mencoba melepaskan ciuman itu namun tak mudah baginya, sebuah ciuman panjang diberikan Zein dari putri sambungnya itu. "Sudah dad cukup, dan hentikan semua kegilaan daddy ini, Hana gak ingin mami tau semua ini dan membuat mami sakit hati" ucap Hana sembari mengusap bibirnya kasar. "Gila kamu bilang, daddy gak gila... justru daddy masih sangat waras sehingga bisa menyadari perasaan daddy buat kamu" ucap Zein. "Sudah dad cukup, sebaiknya daddy keluar dari kamar Hana dan tolong lupakan rasa yang ada diantara kita" ucap Hana. "Baiklah daddy keluar, daddy cinta kamu Han" bisik Zein seraya mengecup kening Hana. "Kamu ditunggu di ruang makan" ucap Zein sebelum ia keluar kamar Hana. Hana mengusap wajahnya kasar, ia tak habis pikir dengan kelakuan daddy-nya itu, dan ia pikir ia harus mengubur dalam-dalam perasaannya tersebut dan melupakan rasa yang ada. "Ya Tuhan... kenapa aku harus dihadapkan pada situasi seperti ini, apa yang harus aku lakukan, aku memang mencintainya dan dia mencintaiku tapi cinta kami ini salah, cinta kami gak mungkin bisa bersatu, dia daddy-ku" gumam Hana. "Tuhan... jika rasa ini memang salah kumohon jauhkan rasa cinta diantara kami, jangan Kau pupuk rasa cinta ini lebih dalam lagi" doa Hana. --- Pulang kuliah Hana sibuk mengerjakan tugas di kamarnya hingga tertidur lelap, sementara itu Zein yang baru pulang dari kantor memasuki kamar Hana ia tersenyum melihat gadis cantik itu yang tengah tertidur. Sebuah kecupan di kening Hana ia berikan dan membuat gadis itu terbangun. "Daddy... daddy ngapain" tanya Hana, ia bangun dan duduk bersandar di kepala ranjangnya. "Hanya mengunjungi kamarmu dan ternyata kesayangan daddy sedang tidur, maaf sudah membangunkanmu" ucap Zein, ia duduk ditepi ranjang lalu berniat ingin mencium Hana namun gadis itu dengan cepat menghindar. "Jangan dad" ucap Hana sembari mendorong d**a Zein. "Kenapa? gak ada yang lihat" ucap Zein. "Bukan itu masalahnya, dari awal Hana sudah bilang, Hana gak mau menyakiti hati mami dan Hana gak mau buat masalah" ucap Hana. "Mami kamu gak akan tau" ucap Zein. "Tapi..." ucap Hana, belum selesai ia berbicara Zein sudah memotongnya dan meletakkan jari telunjuknya di ujung bibir gadis itu. "Sssttt... gak akan ada yang tau sayang" ucap Zein, ia pun melabuhkan bibirnya di bibir Hana lalu melumatnya lembut. Hana hanya diam menerima ciuman itu dan juga tak membalasnya, air mata gadis itu turun seiring dengan ciuman yang sedang berlangsung. "Tuhan... aku mencintainya tapi dia milik mamiku, aku tau ini salah dan aku sudah berdosa" ucap batin Hana. "Jangan menangis" ucap Zein sembari mengusap pipi Hana. "Daddy ini salah" ucap Hana terisak. "Gak ada yang salah dalam cinta Han" ucap Zein. "Ya memang gak ada yang salah dalam cinta, hanya saja kita yang sudah salah dalam menempatkan cinta itu" ucap Hana. "Sudahlah daddy mandi dulu dan kamu bersiaplah malam ini kita keluar dandan yang cantik" ucap Zein. "Dad..." ucap Hana. "Mami kamu gak akan tau, dia gak pulang malam ini" ucap Zein dan ia pun meninggalkan kamar Hana. ♦♦♦ Atas paksaan Zein akhirnya Hana ikut daddynya tersebut keluar, keduanya makan malam di sebuah restauran Jepang. Zein memilih ruangan private untuknya dan Hana agar lebih leluasa. "Kamu cantik malam ini sayang" bisik Zein yang duduk di samping Hana, ia menyibak rambut panjang putri sambungnya tersebut dan mengecup lehernya. "Daddy please jangan, ini tempat umum" omel Hana dan ia coba menghindar dari sentuhan yang daddynya tersebut berikan. "Gak ada yang lihat Han" ucap Zein. "Meskipun tidak ada yang melihat memang tidak seharusnya kita seperti ini dad, ini salah" ucap Hana. "Sudah ya cukup, kita sudah sering membahas ini dan daddy sudah bosan. Lagi pula apa salahnya Han, kita hanya cukup menjalani hubungan ini" ucap Zein bersikeras. Usai makan malam keduanya memutuskan langsung pulang, Zein terus mengikuti Hana hingga gadis itu masuk kamar tidurnya, keduanya asik mengobrol hingga sebuah ketukan pintu menyela mereka. Zein membuka pintu kamar putrinya itu dan terlihat Sandra berdiri di sana. "Honey... ngapain kamu di kamar Hana" tanya Sandra. "Em anu mam..." sahut Hana gugup. "Cuma ngobrol dengerin curhatannya anakmu" ucap Zein yang tak sepenuhnya berbohong, karena tadi Hana juga sempat bercerita mengenai kegiatan kampusnya. "Oh begitu, kenapa harus pakai tutup pintu segala sih" ucap Sandra. "Ya elah mam biasanya juga begitu, yuk ke kamar" ucap Zein sembari merangkul Sandra, ia pun mengedipkan sebelah matanya pada Hana seraya berlalu pergi dari kamar itu dan tentunya tanpa sepengetahuan Sandra. ♥♥♥
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN