Tiga Puluh Sembilan

1194 Kata

"Jangan lama-lama pokoknya, Januari saja pernikahannya ya? Ibu sudah Gak sabar gendong cucu dari kalian?" Aku meringis mendengarnya. Pak Prajitno tersenyum sendu padaku, berterima kasih. Ibu sudah mau makan, dan tekanan darahnya kembali stabil. "Sudah malam Bu, Naya pasti capek. Prima antar Naya dulu ya?" "Iya. Besok kesini lagi kan? Jemput Ibu pulang?" Aku mengangguk lemah. "Hati-hati bawa mobilnya ya Mas, salam untuk pak Abi ya Nay." "Iya Bu." Jawabku. Ingin segera beranjak darisini. "Mas." Mobil mas Prima membelah jalanan yang lengang. "Hm?" Wajah lelah mas Prima menoleh padaku. "Kemarin aku minta Kafka untuk--" aku menelan ludah dengan sulit, "menghamili aku." Mas Prima diam, pegangan tangannya pada setir mengencang. "Tahu apa jawaban dia Mas? Dia bilang, dia sayang sama aku.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN