Dua Puluh Sembilan

1727 Kata

Mataku mengerjap, menyesuaikan dengan pencahayaan lampu di atasku. Sebuah tangan yang besar masih menggenggam tangan kananku. Kepala Kafka menelungkup di samping lenganku. Dia tertidur. Aku menggoyangkan lenganku pelan. Masih terasa berat dan lemah, meremas genggaman tangan Kafka berharap ia sadar dan melihatku. Di lengan kiriku ada bekas luka terbakar yang memanjang. Membuatku meringis, mengingat kejadian itu. Menggerakkan tangan kananku lagi, yang direspon Kafka dengan remasan. Kemudian ia mengangkat kepalanya dan melihatku, mata coklatnya mengerjap beberapa kali. Membersihkan kantuknya mungkin. "Naya!" Wajahnya sumringah. "Haus?" Aku mengerjap, Kafka membuka masker oksigenku dan mengambilkan minum beserta sedotan. Menyodorkannya ke bibirku, langsung kusesap untuk membasahi tenggorok

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN