Tiga Puluh Satu

971 Kata

Ayah pulang, aku menceritakan singkat kedatangan bu Retno. Via ketikan tentu saja, suara yang keluar dari tenggorokannya baru 'gaaahh', dan itu seperti ekspresi kemarahan atau apa. Tenggorokanku juga masih sakit. Kafka menawarkan diri untuk mengantarkanku terapi besok. Ayah terlihat lebih menyukai Kafka, apalagi saat ayah melihat tingkah Kafka yang blingsatan kalau belum sholat. Seperti tadi, dia tidak sadar belum ashar sampai saat melihat bang Tegar pulang dan menyadari jam sudah bergerak menuju jam setengah enam. Ayah memandanginya kagum saat Kafka melesat ke kamar bang Tegar dan menunaikan kewajibannya. "Nyari suami yang kayak gitu Dek, yang takut dengan Tuhannya. Dia akan takut menyakiti hamba-Nya." Ayah berbisik padaku. Aku tersenyum menanggapi. Gimana kalau ayah tahu tadi Kafka ny

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN