Satu

1086 Kata
"Lo sama mas Prima, pacaran gak sih Nay?" Blaass. Ini nih, pertanyaan terlarang yang harusnya dimusnahkan sebelum bom lipstik atau tusuk konde diciptakan. Berbahaya, berpotensi merusak Bumi. Pertanyaan beracun dari mulut manis rekan kantorku tercinta yang bernama Tiara, mungkin akan sekedar pertanyaan bagi cewek manapun. Tapi tidak bagiku. Pertanyaan itu lebih horor ketimbang pertanyaan ayah di meja makan saat sarapan, "kamu kapan ngenalin calon, Dek?" atau pertanyaan bude Lastri di acara kawinan saudara, "Naya kapan nyusul?" Tapi pertanyaan Tiara barusan juga sebagai pemicu khayalan gila, imajinasi tingkat tinggi ala Kanaya. Dalam sepuluh detik, benakku melayang, tentang seorang pria berwajah tampan nan manis (uhuk) dengan t**i lalat di dagu sebagai pengalih rindu. (Stigma tentang t**i lalat di wajah menghilangkan pesona sudah kuubah menjadi, t**i lalat di wajah bagian dari keindahan semesta-fyi). Duduk berdua di sebuah beranda, aku mengelus perutku yang membuncit, mengandung buah cinta kami berdua. Menjadi sepasang suami istri paling bahagia sedunia. Pluk! Sebuah gumpalan kertas melayang mengenai kepalaku, menghancurkan khayalanku. "Ditanya begitu doang langsung ngayal jorok!" Tiara dan Sissy sukses tertawa. Aku mendengus kasar dan seketika menoleh ke arah pintu masuk saat terdengar suara ribut-ribut. Bahaya mulai terendus, hawa neraka sebentar lagi akan memasuki kantor kami. Dan di sanalah dia, makhluk tengil berambut keriting kemerahan, gondrong, pecah-pecah dan tak terawat, nyengir menampakkan gigi-giginya yang (sialnya) rapi. Seolah tanpa dosa berjoget-joget sambil melambai-lambaikan dua buah bingkisan dalam paper bag. Tapi fokusku beralih dari makhluk ajaib itu, ke sosok yang berjalan di belakangnya. Pria yang sedang menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah aneh Kafka yang terus-terusan menggoda kami (Aku, Tiara, Sissy) dengan bingkisan yang entah apa itu aku gak mau tahu. Aku hanya ingin memandangi pria di belakang monyet keriting itu lebih lama. Bahkan rasanya, aku ingin memohon agar waktu dapat berhenti sebentar saja. Dia lah mas Prima, tokoh dalam khayalan gilaku. Sosok yang teramat dekat namun tak terjangkau. Wajahnya yang tampan dan bersinar, tersenyum ke arahku. Gusti, kenapa pria tampan nan mapan seperti mas Prima harus menjadi magamon alias manusia gagal move on. Aku membalas senyum mas Prima sebelum pandanganku terhalang oleh badan tinggi kurus monyet ajaib bernama Kafka. Wajah tengilnya tersenyum tanpa dosa, "chocodot, siapa mau?" cicitnya sambil menari-nari kecil di depan hidungku. "Minggir lo ah! Ngerusak syaraf mata gue aja." Aku menepis tangannya. "Eh gue tahu tatapan nista lo barusan, pasti langsung ngayal m***m kan lo. Tuh muka senyum-senyum najis gitu." Kafka menunjuk-nunjuk wajahku, untungnya mas Prima sudah berlalu ke mejanya yang agak jauh dari tempatku. "Sialan tuh mulut, minta dirukiyah banget ya!" "Cipok aja deh, Abang rela. Mumumu." Kafka memonyongkan bibirnya, secepat kilat kuhantam dengan binder besar. Buk! "Aw, fak! Jontor bibir gue nih, Kuya!" Serunya sambil meringis. "Sokoorr, makanya jauh-jauhin bibir nista lo dari muka gue." Sissy yang tertawa-tawa menghampiri Kafka, bergelayut manja pada lengannya. "Aduh duh duh, ketempelan badak Jawa bisa encok gue Sy!" Kafka mengaduh sambil pundak kirinya diturunkan dengan sengaja. Sissy menghadiahinya dengan cubitan di perut. "Adoohh, baru dateng udah dianiaya gue sama kalian. Gue kasih satpam nih chocodot-nya." "Eh jangan!" Sissy dan Tiara serentak menjawab. "Maap maap deh bang, abis Abang kalau ngomong suka gak diayak sih." Sissy merenggut manja, aku hanya mendesis melihat tingkah rekan-rekanku. "Dari Papua masa bawanya chocodot," Tiara berdiri di depan mejaku sekarang, hanya aku yang tidak tertarik dengan apa yang diocehkan Kafka. "Ini dari fans, yang dari Papua ada nih di tas. Belom di bongkar, gue langsung kesini dijemput mas Prima." Aku mencibir ke arah Kafka, dan kembali mengalihkan tatapanku pada pria berkemeja hijau army yang sedang menatap laptopnya dengan serius. Uughh, boleh gak aku jadi layarnya aja? biar mas Prima memandangiku seperti itu. "Gue tidur dulu yak, ngantuk bet. Babay selir-selirku." Kafka beranjak ke lantai 3 yang difungsikan sebagai kamar. Tiara dan Sissy berdadah-dadah manja. *** Aku bekerja di sebuah media online bernama CRAP. Didirikan oleh ; Mas Prima, Derri dan Kafka. Nama Perusahaan resminya, PT. Infomedia Nusantara, yang berdiri sejak enam – lima tahun lalu, aku lupa persisnya. Kantor kami adalah ruko 3 lantai. Lantai pertama, kantor untuk tim kreatif dan administratif. Lantai 2, ruang server-IT dan sejenisnya, mushola dan ruang meeting. Lantai 3 adalah kamar para Founder. Tapi yang menetap hanya mas Prima. Derri memiliki coffee shop di Kemang, yang juga kadang dijadikan rumah. Sedangkan Kafka, dia tinggal di apartemen mewah di Sudirman. Sesekali saja dia menginap disini. Ohya, aku mengenal mas Prima sudah 7 atau 8 tahun yang lalu, lupa juga persisnya. Yang jelas, mas Prima adalah teman sekolah abangku yang kedua, Tegar. Rumah kami yang sering dijadikan base camp oleh teman-teman bang Tegar membuatku tidak asing dengan semua temannya, termasuk mas Prima. Saat aku sedang mencari Perusahaan untuk magang, bang Tegar menyodorkanku pada mas Prima yang saat itu baru mulai merintis CRAP dengan Derri dan Kafka. Ikut merasakan jatuh bangun CRAP membuatku tidak tega meninggalkan mas Prima dan kawan-kawannya, tapi sekarang penghasilan CRAP dari iklan dan sponsor sudah bisa memberikan ketenangan hidup bagi Founder dan karyawannya. Dilalah, perasaanku pada mas Prima juga tidak rela jika aku meninggalkannya dengan alasan gaji kecil. Secara, aku anak bungsu, lajang dan tidak punya kebutuhan lebih. Mas Prima dan segala kesempurnaannya, telah mengisi mimpi-mimpiku sejak 5 tahun yang lalu. Sejak aku baru bekerja dengannya. Kesabaran mas Prima patut diacungi seratus jempol, tidak pernah sekecil apapun mas Prima marah atau memarahi karyawannya. Menjadi saksi hidup perjuangan mas Prima membesarkan CRAP membuatku sanggup menjomblo selama lima tahun, demi merawat perasaanku untuknya. Walaupun kadang aku berpikir, mustahil mas Prima tidak tahu tentang hatiku, mengingat mulut tengil Kafka sering menyuarakannya secara kurang ajar. Tapi masih dengan sopan, mas Prima tidak pernah membuatku merasa terlarang dengan menyukainya. Atau sengaja membuatku GR dengan kepeduliannya. Dia cukup adil memperhatikan semua karyawannya yang berjumlah 6 orang, termasuk office boy. Meskipun sesekali lebih terlihat dekat denganku, karena aku adik temannya sekaligus editor, asisten juga kadang sekretarisnya di waktu yang sama. Adakah alasanku untuk berpaling dari pria bersuara berat ini? Dan pertanyaan Tiara diawal selalu jadi momok menakutkan bagiku. Bagaimana jika mas Prima hanya menganggapku adik? Bagaimana kalau dia selama ini sudah memiliki seseorang di hatinya? Dan bagaimana-bagaimana yang lain. Lima tahun aku menyimpan perasaanku rapat-rapat, mengaguminya sendirian. Hanya mas Prima, tak ada pria lain yang bisa kulihat. Betapa kecewanya aku, jika perasaan ini tidak berbalas. Belakangan kutahu, dari setan alas Kafka, kalau mas Prima ternyata masih belum move on dari mantannya. Jangan tanya, betapa berita itu cukup menghancurkan hatiku. Untuk bertanya pada bang Tegar, tentu saja aku gak punya nyali. Ternyata aku malah tahu dari Kafka, yang walaupun kadang membuat darah mendidih, dia cukup informatif seputar mas Prima. Mereka berdua berteman cukup lama. ~tbc~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN