CHAPTER SEMBILAN

1873 Kata
            Elisa... kasihku              Aku rindu kepadamu              Aku cinta kepadamu              Hanya kepadamu              Made setengah berlari menuju ruang kelasnya yang masih ramai kendati jam kuliah sudah berakhir. Ia menggebrak pintu kelas dengan napas tergesa-gesa.              "El, ikut gue buruan." teriak Made yang langsung membuatnya menjadi pusat perhatian.              "Ono opo toh, Mad?" tanya Elisa dengan nada bingung.              "Udah ayo ikut aja. Ada pertunjukan depan fakultas." kata Made. Melihat Elisa hanya bergeming, ia mendekat lalu menarik sebelah tangan Elisa dan memaksa gadis itu mengikutinya.              "Ih, apa-apaan to ini." keluh gadis itu sambil mencoba mengimbangi langkah Made yang lebar.              "Pertunjukkan apaan sih? Topeng monyet?" kata Lala. Wina mengangkat bahu dan memilih mengikuti dua orang itu dari belakang.              Aku mau jadi bulu matamu              Pelindung dari cahaya dan debu              Aku mau jadi pemerah bibirmu              Yang menambah kecantikanmu              Elisa... kasihku              Elisa ho Elisa              Elisa... kasihku              Aku rindu kepadamu              Aku cinta kepadamu              Hanya kepadamu                Made dan Elisa menerobos kerumunan mahasiswa yang tengah menonton. Elisa tertegun. Matanya membulat, mulutnya sedikit terbuka. Tak menyangka akan menemui pemandangan ini. Dilihatnya laki-laki yang sedang asik menyanyi sambil memetik gitar itu tersenyum manis ke arahnya.              "Widih, ksatria bergitar." seru Lala.              "Dia nyanyi lagi dangdut itu?" tanya Wina. "Gila...gila... Udah nggak punya malu itu anak." lanjutnya.              "Alhamdulillah... Ada yang lebih parah dari gue." kata Lala sambil tertawa.              Kubuat pagar besi              Yang mengelilingi dirimu              Agar tak seorang pun              Yang kan dapat menyentuh tubuhmu              Elisa... Elisa...              Primadona di hatiku              (Sonia - Abiem Ngesti)              Gemuruh tepuk tangan menggema. Riuh sorak sorai mahasiswi fakultas Ekonomi membuat Fabian tersadar bahwa dirinya sudah menjadi pusat perhatian di sana.              Laki-laki itu mengakhiri lagunya lalu menatap Elisa baik-baik sambil tersenyum. Menampilkan lesung pipi yang membuat semua mahasiswi nyaris menjerit histeris.              "Wong edan." desis Elisa saat melihat Fabian mendekat.              "Ajeng, gimana? Kamu pasti terharu kan?" kata Fabian saat berhenti di depan Elisa yang justru mengerutkan kening. Made, Wina dan Lala menahan senyum di sampingnya. Sedangkan penonton masih berdiri di tempatnya, enggan beranjak.              "Terharu muatamu. Malu-maluin tahu, nggak?" Elisa bersidekap lalu melirik mahasiswi yang masih mengelilinginya.              "Kok malu? Romantis gini juga." katanya dengan nada berbisik tepat ke telinga Elisa yang langsung mendelik tajam.              Belum sempat Elisa membuka mulut, ia terkejut mendapati Alfian tengah berjalan membelah kerumunan untuk menghampirinya.              "Kamu sudah selesai kelas, Dik?" tanya laki-laki itu saat berada tepat di samping Fabian. Fabian menoleh, sedangkan Made dan yang lainnya menatap laki-laki itu bingung.              "Sudah, Mas. Yuk." kata Elisa sambil berjalan beriringan dengan Alfian. Meninggalkan semua yang ada di sana dengan tanda tanya besar. Penonton perlahan bubar jalan sambil sesekali melirik ke arah Fabian.              "Ajeng punya supir baru?" tanya Fabian. Yang lainnya hanya mengangkat bahu. Sama-sama bingung.    ***                Lala : El, lo di mana?              Wina : El, di mana?              Made : Ndoro putri di mana?              Lala menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak tahu lagi bagaimana caranya mengetahui keberadaan sahabatnya yang satu itu. Pesan grupnya tidak dibalas, panggilannya pun terabaikan.              "Elisa nggak ada di rumah. Kata Mbok Yum dia belum pulang." kata Wina sambil menaruh ponselnya di atas meja.              "Gue bilang apa. Elisa nggak mungkin langsung pulang." sahut Made.              "Iya tapi ke mana? Cowok itu siapa pula?"              "Pasti laki-laki itu udah kenal deket sama keluarganya Elisa. Kalau nggak, nggak mungkin mereka berani pergi, orangtua Elisa jelas-jelas ada di rumah." kata Lala. Made dan Wina mengangguk setuju.              "Kok Elisa nggak pernah cerita sih tentang tuh cowok." Wina tak habis pikir. Saat sahabat-sahabatnya yang lain berpikir tak pernah ada rahasia di antara mereka. Gadis itu justru membuat mereka bertiga bertanya-tanya mengenai sosok laki-laki itu.              "Anggap aja supir barunya Elisa. Gantinya pak Wiryo." sahut Made asal.    ***                Elisa bergerak gelisah di bangkunya. Matanya menatap sekeliling, lalu ke laki-laki berkacamata di depannya.              Ia tidak suka suasana hening yang kerap diciptakan laki-laki itu. Mungkin karena kehabisan bahan pembicaraan, atau karena mereka masih terlalu canggung. Entah sejak kapan, Elisa mulai menyukai suasana ramai yang kerap sahabat-sahabatnya ciptakan saat mereka berkumpul, meskipun hanya berdua.              "Pulang yuk, Mas. Sudah malam." kata Elisa sambil melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Alfian mengganguk sambil tersenyum. Dalam hati kecewa karena jam tujuh sebenarnya masih terlalu sore untuk pulang.              "Yuk, maaf jadi kelamaan." kata laki-laki itu. Setelah menyelesaikan pembayaran, mereka berdua keluar dari restoran menuju parkiran.              Alfian membukakan pintu untuk Elisa saat gadis itu justru terdiam.              "Kenapa, Dik?" tanya Alfian.              "Ban mobil mas kempes." kata gadis itu. Alfian mengikuti arah pandang Elisa dan terkejut mendapati ban mobilnya kempes. Tak cukup satu, namun keempatnya sekaligus.              "Waduh, kenapa bisa begini ya? Perasaan tadi baik-baik aja." Alfian menggeleng-gelengkan kepalanya dengan heran. Ia menatap sekeliling, begitu juga dengan Elisa. Mereka sadar, ini pasti karena keisengan orang.              "Ya sudah, kita naik taksi saja. Mobil mas ambil nanti kalau sudah antar kamu sampai rumah." Elisa mengangguk dan membiarkan Alfian memanggil taksi dan membawa mereka menuju rumahnya.    ***                "Assalamualaikum, pak haji." teriak Fabian sambil mendekat ke arah Aris yang sedang duduk di beranda rumah seorang diri.              "Wa..."              "Permisi aku permisi.... Sengaja aku datang ke sini, ingin melamar anak pak haji." lanjut Fabian memotong ucapan Aris sambil tertawa.              "Saya sudah nggak punya anak perawan. Sama Yuni aja ya? Dia baru putus sama pacarnya." jawab Aris tepat saat Fabian duduk di kursi di sebelahnya.              "Ku tunggu jandanya Lala deh, Om." kata Fabian yang langsung membuat Aris melotot tajam. Ia membanting majalah yang ada di atas meja.              "MAKSUD KAMU APA?"              "Bercanda, Om. Duh... Masih sensitif banget sama saya." Fabian mengulum senyum. "Om tahu nggak?" tanya Fabian.              "Apa?"              "Saya juga nggak mau punya mertua kayak Om."    ***                Tiga pasang mata itu menoleh saat mendengar pintu terbuka. Sosok Fabian muncul dan langsung melambaikan tangan pada ketiganya.              "Ini dia nih, ksatria bergitarnya. Lo tahu di mana Elisa, Fa?" tanya Wina langsung.              "Tahu."              "Hah? Di mana?"              "Dalam perjalanan ke rumah dari restoran jepang di Kemang." jawab laki-laki itu.              "Kok lo tahu?" kali ini Lala bertanya.              "Tahu lah."              "Terus lo diam aja lihat Elisa diajak makan sama laki-laki lain?" tanya Made.              "Kata siapa? Gue kempesin ban mobil tuh laki-laki."              Mereka bertiga tahu bahwa Fabian itu pintar. Tidak, laki-laki bahkan cerdik cenderung licik.              "Gila... Gila..." kata Lala "kalau dosa lo bisa dijadiin duit, gue yakin lo bisa masuk dalam sepuluh orang terkaya di Indonesia." lanjutnya.              "Kupret lo, La." sembur Fabian.              "Lo tahu laki-laki itu siapa, Fa?" tanya Wina.              "Nggak tahu." jawab Fabian sambil mengangkat bahu.              "Elisa bukan tipe cewek yang gampang bergaul sama laki-laki. Mungkin itu saudaranya." Lala mengemukakan pikirannya.              Ketiganya menoleh saat ponsel ketiganya berdenting.              Elisa : Wina, tadi aku lihat Ibnu jalan sama cewek.              Tiga pasang mata itu membulat. Wina masih menatap layar ponselnya baik-baik saat kedua mata Lala dan Made sudah teralihkan ke benda persegi di tangan masing-masing.              "Ini maksudnya Ibnu gue?" Wina bertanya pada diri sendiri.              "Ibnu Jamil kali maksudnya." Lala memberi pendapat.              "Apa hubungannya Ibnu Jamil sama gue?" Wina menatap Lala dengan sinis.              Made menyikut lengan Lala yang langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat.              "Dia sudah dua hari nggak ada kabar. Terus sekarang apa coba maksudnya." Wina melempar ponselnya ke sofa dengan kesal.              Fabian, Lala dan Made saling melirik. Fabian merebut ponsel Made dan membaca pesan yang dikirim Elisa lalu mengetikkan sesuatu dalam pesan group.              Made : No pict = Hoax              Elisa : Kamu kalau ndak percaya ya sudah. Aku cuma ngasih tahu apa yang aku lihat. Aku itu lagi makan, ndak megang HP, jadi ndak sempat foto-foto. Lagian, aku ngasih tahu Wina. Bukan kamu!              Made melirik Fabian yang tersenyum sumir.  "Kan kan kan. Elu sih, Ndoro putri ngamuk kan."    ***                Pasca pesan yang di kirim Elisa, Wina mendadak badmood. Wajahnya gelisah dan bibirnya terus menerus mengerucut kesal.              "Coba aja lo telepon dia. Tanyain lagi di mana gitu." usul Fabian.              "Dih, ogah. Gengsi dong gue." Wina melipat kedua tangannya di depan dadaa. Wajahnya masam.              "Yaudah, penasaran aja lo sampai mati." celetuk Fabian yang langsung membuat Wina melirik sinis.              Meninggalkan Wina dengan kegalauannya. Karena Wina sendiri belagak sok tegar di depan sahabat-sahabatnya. Pura-pura tak acuh, padahal dalam hati penasaran setengah mati. Empat orang itu kini membahas satu sosok, Elisa dan rahasianya.              "Jangan-jangan, laki-laki itu yang dimaksud Pak Wiryo. Laki-laki yang dijodohin sama Elisa." Fabian teringat kata-kata Pak Wiryo beberapa waktu lalu.              "Di jodohin?" tanya Lala, Fabian mengangguk.              "Sudah segitu nggak lakunya apa ya tuh ndoro putri, pakai dijodoh-jodohin segala." kata Made.              "Heh? Yang dijodohin bukan berarti nggak laku kali." sambar Wina yang langsung membuat Made mengatupkan mulut rapat-rapat.              "Sensitif banget lo. Katanya nggak suka sama Ibnu, katanya cuma iseng-iseng doang, katanya kalau nggak cocok ya tinggalin aja. Cuma dapet kabar Ibnu jalan sama cewek aja sudah kayak induk ayam kehilangan anak." cibir Made.              "Diem lu, Mad. Ngomongin Ibnu sekali lagi, gue sentil lak-lakan lo." Omel Wina.              "Sudah, Mad. Nggak usah berdebat sama cewek. Cewek kan katanya doang makhluk lemah lembut, suruh debat tujuh hari tujuh malam juga mereka sanggup." kata Fabian yang langsung membuat Made terkikik.              "Assalamualaikum." keempatnya menoleh dan melihat Ilham dan Aris mendekat dan ikut bergabung.              "Sudah jam berapa ini? Emang kalian nggak pada dicariin orangtua? Jam segini masih di luar rumah." kata Aris.              "Yaelah, Om. Ini masih jam sembilan kurang. Lagian emang kita anak SD, jam segini dicariin." kata Made yang langsung membuat yang lainnya tertawa.              "Saya nanya yang tinggal sama orangtuanya. Bukan kamu, saya tahu kamu ngekos, nggak mungkin ada yang nyariin." sembur Aris, membuat Made langsung mendengus.              "Kamu, Wina, emang nggak dicariin mama kamu?" kali ini mata elang Aris berhenti di Wina yang tersenyum lebar.              "Seperti kata Made, Om. Ini masih jam sembilan kurang. Kalau kata Lala, b*****g aja belum pada keluar." jawabnya.              "Haduh... Anak jaman sekarang ada aja jawabannya." Aris menggeleng-gelengkan kepalanya lalu berdiri dan menjauh dari ruang tamu.              "Biar bapak lo tahu, La, kalau dia bapak-bapak yang masih kolot di tahun 2018." kata Fabian sambil tertawa.              "Pulang yuk, La." ajak Ilham yang langsung mendapat lirikan dari Fabian.              "Ini lagi, datang- datang ngajak pulang. Masih jam sembilan kurang, mas. Mau ngapain sih buru-buru. Pulang juga cuma tidur doang." kata Fabian.              "Lah, justru itu, tidur gue sama Lala kan beda sama tidurnya kalian." jawab Ilham sambil mengerling genit pada istrinya. Membuat yang lain mencibir.              "Bentar ya, mas. Kita lagi ngomongin Elisa nih." kata Lala.              "Kenapa sama si putri Solo?"              "Dia di jodohin, mas. Coba bayangin, gue nggak punya saingan aja berat banget buat dapetin dia, apalagi punya saingan." Fabian mendesah frustrasi.              "Nah, itu berarti Tuhan nggak mau lihat lo berjuang sia-sia. Cari cewek lain aja." kata Ilham.              "Mas, lo berguna dikit kek jadi orang." sungut Fabian. "Udah ah, gue mau ke rumah Ajeng. Mau minta penjelasan." Fabian bersiap untuk berdiri sebelum Wina menarik tangannya.              "Nggak usah, biar gue aja yang ke sana. Kalau sama lo, Elisa nggak bakal mau cerita. Lagian lo nggak takut ketahuan sama bapaknya Elisa." Wina menatap ponselnya dan mengetikkan sesuatu di pesan group.              Wina : El, gue ke rumah lo sekarang. Mau nginep.              Gadis itu menenteng tasnya lalu berdiri.              "Gue duluan ya semua." pamitnya sambil bergerak menjauh.              "Gue yakin tujuan utama dia mau konfirmasi masalah Ibnu, bukan cowok yang tadi jalan sama Elisa." kata Made yang langsung membuat yang lain mengangguk setuju.              "Awas aja tuh anak kalau nggak dapet info apa-apa." Fabian menatap punggung Wina yang terus menjauh.              Elisa : Kamu tuh kok ya kayak ndak punya rumah to, Na. Nginep di rumahku mulu.              Wina : Gue kan nggak mungkin nginep di rumah Lala atau di rumah Made, El. Gue bisa digerutuin mas Ilham, atau digrebek ibu kosnya Made. Lo tega.    To Be Continue LalunKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN