SETELAH TIADA, BARU TERASA 15 "Kamu masih marah sama, mas?" tanyaku sambil menatap sendu. Walaupun aku sudah menyiapkan diri untuk penolakannya, tetap saja rasanya sedih sekaligus kecewa. Aku sudah membayangkan dia akan bahagia dengan apa yang kuberikan ini, nyatanya responnya jauh dari ekspektasi. "Entahlah." Dia menggeleng pelan. Aku menghela napas dalam, mencoba untuk memahami lagi dan lagi. Tentu tidak semudah itu untuk mendapatkan hatinya kembali. Tidak semudah itu dia melupakan apa yang telah kulakukan. Manusiawi jika dia masih menyimpan luka, sebab memang terlalu dalam hatinya tertoreh. Bening bukan wanita materialistis yang dengan hadiah kemudian menjadi luluh. Meskipun sebenarnya aku memberinya hadiah bukan untuk meluluhkan hatinya, melainkan sebagai tanda cinta yang tul

