SETELAH TIADA, BARU TERASA 20 Baru per sekian detik aku merasakan hangatnya sentuhan yang aku lakukan, Bening mendorong tubuhku dengan keras. Bugh! Tubuhku sedikit terjungkal ke belakang. "Aduh! Astaghfirullahal'azim." Aku meringis. Sekujur tubuh yang jangankan didorong keras, disentuh lembut saja sakit, benar-benar membuatku ingin menjerit. Beruntung aku bisa menahan diri sehingga tidak terjadi kehebohan. "Ya Allah, Bening. Sakit," erangku spontan. Sunguh benar-benar sakit. Air mataku bahkan keluar sendiri karenanya. Aku memejam menahan rasa nyeri yang tidak bisa kulukiskan dengan kata-kata. Ini yang dinamakan the real luka di atas luka. Sudah sakit karena dipukuli, terpukul kembali. "Ma-maaf, Mas." Bening berucap tergagap. Aku belum bisa menanggapi, masih merasakan linu yang rasan

