Servis Plus-Plus

875 Kata
Huh, memang dasar laki-laki cap playboy. Apa sih maunya. Udah punya calon istri kok ngajak nikah gadis lain? Maya menggerutu, mengumpati Juna. Membayangkan menikah semuda ini, Maya merinding apalagi memikirkan gimana nanti waktu di unboxing waktu malam pertama. Maya tentu masih ingin hidup bebas, layaknya gadis-gadis lain. Apalagi dia masih memiliki sebuah cita-cita yang ingin digapainya, yaitu menjadi seorang guru Bahasa Inggris. "Hii..." Maya bergumam pelan, cukup pelan. "Kenapa, kakimu berdenyut lagi?" Juna pendengarannya bagus, mendengar gumam Maya yang mirip seperti rintihan kesakitan. "Enggak... eh iya." Maya meralat, mengakui sakit padahal bukan karena itu, tapi karena membayangkan malam pertama. Tapi di dalam otak Maya terus saja berputar-putar kalimat itu. Di ajak nikah sama tuan muda, mungkin kisah-kisah novel yang pernah dia baca bisa saja jadi kenyataan. Tapi dia segera menepis, saat ingat kalau Juna selama ini digosipkan tidak suka mahluk yang namanya perempuan. Kebetulan saja hatinya baik, jadi sikapnya bisa begitu terhadap Maya. Atau mungkin mau membalas kebaikan Maya selama beberapa bulan waktu itu karena sudah rela mengantarkan makanan untuknya setiap pagi dan malam. "Kenapa nggak dimakan? Kan kakimu yang sakit, bukan tanganmu." Juna melihat Maya belum menyentuh rice bowl dengan lauk ayam cincang di semur, plus telur dadar gulung, untuk sayurannya ada irisan kubis dan wortel yang di potong halus-halus lalu di tumis dengan bawang putih. Dari aromanya saja sangat menggugah selera. "Iya, ini mau makan." Sahut Maya. "Kamu nggak suka? Kita beli yang lain?" Cepat-cepat Maya menggelengkan kepalanya. Siapa bilang dia nggak. "Suka kok." Mereka berhenti di pinggir jalan, di dekat taman jalan masuk ke komplek perumahan elit Pak Pranaja. "Kenapa baik banget sama saya?" Akhirnya Maya berani menanyakan hal yang cukup membuatnya penasaran, sekelas tuan muda kenapa terlalu peduli dengan pembantu sepertinya. "Saya memang baik, nggak cuma sama kamu aja." Sahut Juna. Bohong? Sudah pastilah, buktinya dia sama Tari begitu sikapnya. "Oh..." begitu ternyata. Juna baik nggak cuma sama Maya. Jadi dia nggak perlu baper kan? "Sini hape kamu!" Juna mengulurkan tangannya. "Nggak bawa hape, buat apa ya?" Benar memang, Maya bahkan melupaka di mana dia meletakkan ponselnya. "Ya udah, nomor WA mu aja, berapa?" Juna mengeluarkan ponselnya untuk menyimpan nomor gadis itu. "Nggak hapal." Jawab Maya. Juna berdecak kesal. "Bagus juga alasanmu, nggak masuk akal di jaman sekarang ini ada orang yang nggak ingat nomor sendiri." Dia mengeluh. "Beneran, nggak hapal." Sahut Maya. "Pelit." Juna nggak tahu harus kemana membawa mukanya, malu banget. Seperti ini ternyata rasanya minta nomor ke cewek tapi nggak dapat? apa dia kurang menarik di mata Maya? "Buat apa sih?" "Perlu. Bisa aka aku pingin nasi goreng tengah malam, kan bisa chat kamu." Juna berucap cukup santai. Maya membuang muka ke arah lain, sambil membuat ekspresi mengejek. Dikira aku ojol apa?! Maya menggerutu. "Hubungi abang ojol aja. Delivery." Usul Maya. "Nggak lah, ribet. Kalau sama kamu kan serumah, servisnya plus-plus." Enteng sekali lidah Juna menyebut kata plus-plus. "Plus-plus maksudnya?!" Hentak Maya merasa tersinggung, dia pernah mendengar istilah itu dan punya makna negatif. "Kamu mikir apa? Servisnya spesial karena antarnya langsung ke depan pintu kamar, begitu." Ujar Juna lalu tertawa cukup licik. Walau memang benar nggak ada yang salah dengan yang di katakan Juna. Maya tidak menjawab, dia masih menatap Juna yang tengah mengunyah makanan. Setelah Maya pikir-pikir, berteman dengan tuan muda ini asyik juga. Berteman ya, ganya berteman, bukan yang lain-lain. "Ayo kita pulang." Ajak Maya. Tanpa terasa mereka makan sambil ngobrol dan kini sudah selesai. "Pulang kerumah 'kita' ya?" Juna terus saja menjahilinya. "Rumah Tuan, saya cuma numpang." Sahut Maya. "Oke kita pulang." Juna melajukan mobilnya pelan, melewati gerbang komplek perumahan. * "Mbak, udah tau belum? LV ngeluarin produk terbaru loh. Aku pingin beli, cuma masih ragu soalnya Gucci juga ada produk baru, ya kan Mbak?" Tari tak tau harus membahas apa saat berhadapan dengan calon mbak iparnya ini. Yang Tari tahu, mbak Wini pasti sangat update soal fashion high class dan barang-barang branded. "Nggak tau tuh, udah lama nggak shopping. Lagi bokek." Sahut Wini sambil sibuk chatingan dengan suaminya. Tari meringis dalam hatinya masa sih orang kaya sekelas Mbak Wini juga bisa mengaku bokek. Ayahnya kaya raya, suaminya juga. Mana mungkin. Padahal Wini enggan sekali berbincang-bincang dengan Tari, karena menurutnya Tari adalah gadis bermuka dua yang pintar mencari muka, terutama di depan ibu mereka. "Tari, sini..." Bu Widia mendekat, dan memanggil Tari. "Iya Bu?" "Kamu kalau Mbak Wini yang ngomong, jangan diambil hati ya. Jangn ditanggapi. Apalagi yang tadi dia bilang di meja makan, soal Maya. Itu nggak mungkin lah. Mbak Wini emang gitu orangnya, asal nyeplos aja." Jelas Bu Widia. "Iya Bu nggak masalah kok, oh ya Tari pamit dulu ya. Kayaknya Juna udah balik ke kantornya deh." Mereka tidak tahu apa-apa. Tidak tahu kalau ternyata Juna pergi membawa Maya mengobati luka di kakinya. "Iya. Hati-hati sayang. Sampai ketemu lagi ya." Mereka cipika cipiki. Lalu Tari kembali mebdekat ke arah Wini yang masih bersantai ria di sofa. "Mbak, aku pamit dulu ya." "Oke. Hati-hati." Sahut Wini tanpa menoleh, matanya masih menatap layar ponsel. Mobil Tari keluar dari gerbang rumah Juna, dan berselisih dengan mobil Juna. Tari dapat melihat samar dari balik jendela, ada seorang perempuan yang sedang bersama Juna. Lalu dia tetap melajukan mobil sambil memukul-mukul stir, menumpahkan kekesalannya tak terima ternyata Juna, calon tunangannya itu lebih memilih seorang pembantu, dari pada dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN