Acara berakhir, Maya sangat bersyukur karena matanya sudah seperti lima watt, semakin sulit untuk terbuka. Rasa kantuk menyerangnya tanpa ampun. Apalagi ada bulu mata palsu di matanya yang membuat matanya semakin sulit untuk terbuka. Sampai tiba saatnya semua pihak keluarga akan pulang ke rumah masing-masing. Wira menyalami Juna sebagai ucapan selamat namun tidak dengan tangan yang kosong ada sesuatu untuk Juna. "Apaan nih Mas?" "Kamu pasti perlu suatu saat." Juna melirik ke telapak tangannya, sesuatu yang di kemas dalam kotak kecil. "Buat apaan? Aku bisa beli sendiri." Juna berdecak, Masnya ini ada-ada saja. "Istrimu masih kuliah, ada baiknya di tunda dulu." Sahut Wira. "Tapi gimana Mas, ibu dan yang lainnya terlanjur taunya kalau Maya udah hamil." Juna paham maksud Wira, kan se

