“Jadi bagaimana, Sayang?” tanya Adrian seraya menatap wajah istrinya. Ia menatap Yumna dengan tatapan penuh harap. “Kalau memang seperti itu, sebaiknya kita datang saja ke sana, Bang. Aku tidak mau terjadi apa-apa sama kak Seiza. Apa lagi ia sedang hamil tua. Kalau sampai terjadi apa-apa padanya atau bayinya, aku akan sangat berdosa.” “Jadi kita ke sana besok pagi atau malam ini?” tanya Adrian lagi. “Hhmm … Gimana ya? Kalau kita pergi sekarang, nanti sampai sana jam berapa ya?” “Sekitar jam sembilan atau sepuluh malam.” “Sebaiknya kita ke sananya besok pagi saja. Kalau kita ke sana sekarang, tentu harus sewa hotel buat nginap. Sayang banget uangnya, mending dipakai buat makan-makan atau buat beli buah tangan.” Yumna nyengir kuda. Adrian menyeka wajah Yumna, “Ternyata istriku ini perh

