BAB 2

940 Kata
"Saya Hanum". Jo mengalihkan tatapnya kearah mobil Hanum. Mobil mini bus yang ia pastikan umurnya sudah lebih dari 10 tahun lamanya, berwarna silver. "Mobil kamu mogok". "Iya". Jo lalu membuka kap mobil dan memeriksa mesin mobil. Jo mulai meneliti satu persatu mesin mobil itu. "Mobil kamu akinya sudah kering, sudah seharusnya di ganti. Untuk masalah mesin tidak masalah dan masih bagus" ucap Jo. Jo melirik Hanum yang tidak jauh darinya. Jo sudah pastikan wanita itu sama sekali tidak mengerti tentang mesin mobil. ia yakin wanita itu hanya mengenal sebatas fashion, kuliner, mall dan cara mamakai make up yang benar. "Jadi" Hanum bingung. Jo menarik nafas, lalu melirik Hani, "Ya, kamu harus mengganti akinya. Sebaiknya dibawa ke bengkel"  "Bengkel dekat sini tidak ada". "Iya memang tidak ada, kamu harus putar lagi. Anak buah saya saja yang membawa mobil kamu. Saya pastikan beberapa jam lagi mobil kamu akan dibawa oleh dinas perhubungan karena telah menggangu pengguna jalan". "Iya, saya tahu itu". "Iya, sebaiknya kamu, saya antar ke tempat kerja, setelah pulang kerja semua sudah beres" usul Jo, karena ia tahu ini masih jam kerja. "Tidak perlu, saya sebaiknya ke bengkel kamu saja. Soalnya saya sudah ketinggalan meeting, kalaupun datang sudah saya pastikan akan mengacaukan jalannya meeting" ucap Hanum tenang, masalahnya ia tidak ingin terlalu banyak merepotkan Jo, laki-laki yang baru dikenalnya itu. "Terserah jika itu mau kamu"  Hanum memandang mobil Jeep hitam, yang berada tepat dibelakang mobil miliknya. "Terima kasih". "Iya sama-sama". *** Hanum mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. Hanum pikir bengkel biasa, ternyata bengkel itu menyatu dengan showroom mobil di depannya. Bengkel itu terletak di belakang showroom. Hanum duduk di salah satu kursi tunggu, ia melihat mobil sedang diperbaiki oleh mekanik. Jo menatap wanita yang dijemputnya tadi. Sungguh ia tidak mengenal wanita itu. Wanita itu cantik, bibirnya merah sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Matanya bening dan tubuhnya ideal, ia wanita karir yang cantik, dan sayang sekali wanita seperti itu bukanlah incarannya. Jo melangkah mendekati Hanum, wanita itu tersenyum dan menyadari kehadirannya. "Sebentar lagi, mobil kamu sudah bisa kamu bawa pulang. Jika hanya mengganti aki tidak sampai setengah jam"  "Terima kasih" ucap Hanum tersenyum. "Iya sama-sama, lain kali hati-hati"  Mesin mobil Hanum sudah dinyalakan kembali, Hanum membayar tagihan itu di kasir. Ia melirik Jo disana, ia sedang menatapnya dari kejauhan. Hanum memandang Jo sekali lagi, sebelum meninggalkan area bengkel. *** Hanum melirik jam melingkar di tangannya, masih menunjukkan pukul 15.30 menit. Hanum sudah pastikan, meeting itu sudah selesai. Hanum kembali melanjutkan perjalananya menuju kantor. Beberapa menit kemudian, Hanum kembali ke kantor, Hanum berjalan pelan seolah tidak terjadi apa-apa. Hanum mengedarkan pandangannya kesegala penjuru ruangan, masih terlihat sepi, ia lalu membuka pintu ruangannya. Sedetik kemudian, para karyawan satu persatu masuk dengan tampang tidak ada lagi kecerahan di wajahnya. Hanum menatap Sam disana, Sam menunjuk kearahnya, agar mendekatinya. Hanum menarik nafas, ia mendekati Sam. "Ada apa Sam?". "Kamu disuruh ke ruangan pak Tibra"  "Serius?". "Iya, cepat sana, mau kamu di pecat?". "Oke". *** Hanum berjalan menuju lantai dasar, mau tidak mau ia harus menghadapi Tibra. Jujur jantungnya berdegup kencang, karena rasa cemas itu begitu kuat, karena ini adalah pertama kalinya ia berhadapan langsung kepada sang atasan. Hanum mengatur detak jantungnya, ia menarik nafas, sebelum membuka pintu beretalase kaca itu. Hanum menatap Dian disana, wanita sexy itu sedang menghadap komputer, terlihat jelas, wanita itu begitu lelah. Mungkin Tibra telah memberikan pekerjaan begitu berat kepadanya. "Kata Sam, saya di panggil ya pak Tibra ya bu"  "Kamu Hanum, dari HR itu ya". Dian mengangguk, dengan wajah cemasnya "Masuk saja, ke dalam. Kamu sudah ditungguin pak Tibra" ucap Dian. "Kalau boleh tau, hari ini pak Tibra gimana?" Ucap Hanum pelan, nyaris berbisik. "Kacau" sungut Dian pelan. Hanum menarik nafas, Dian sudah mengatakan bahwa pak Tibra sedang kacau. Habislah sudah ia akan di marahi habis-habisan oleh Tibra nya yang terkenal tidak berperasaan itu. Hanum lalu membuka hendel pintu, dan ia mencoba tenang. Hanum menyerahkan laporan bulanan, hanya melalui Dian, ia tidak pernah berhadapan langsung dengan Tibra. Hanum  hanya bertemu jika ada general meeting setiap bulan. Hanum diam sesaat, lalu melangkah keruangan Tibra. Sepasang mata tajam itu menatapnya disana, dengan posisi duduk dengan tangan melipat di d**a. Jantung Hanum maraton dan mematung di tempat, ia tidak berani bergerak, dan ia masih di posisi yang sama. Hani memandang ke arah papan nama di atas meja, bertulisan "Tibra Lazuardi". "Kamu Hanum". Hanum mendengar secara jelas, suara berat itu berucap, "Iya pak"  "Duduklah, ada yang ingin saya ingin saya sampaikan kepada kamu"  Hanum lalu duduk tepat dihadapan Tibra, sungguh ia tidak bisa berbuat banyak saat ini, selain diam mengikuti perintah. "Kamu tidak hadir dalam general meeting  tadi?" Ucapnya dingin, tanpa senyum dan menatapnya tajam. Hanum mengangguk, "iya, pak"  "Kenapa tidak hadir?" Tanyanya lagi. "Mobil saya mogok pak". "Bukankah pengumuman sudah di tempel seminggu yang lalu, bahwa hari ini akan ada general meeting". "Iya pak, saya sudah tahu". "Jika sudah tahu, kenapa kamu masih tidak hadir. Saya tidak menerima alasan apapun itu. general meeting itu tidak lama, hanya satu jam saja. Kamu malah tidak menghargai kehadiran saya". "saya tidak hadir bukan bermaksud tidak menghargai bapak". Hanum menarik nafas, ia dengan berani menatap mata tajam Tibra. "pak, saya tadi mengantar laporan ke BPJS, dan ketika di jalan mobil saya mogok sungguh, karena ada karyawan mendadak resign". "Bukankah kamu bisa menundanya sejam saja setelah meeting selesai. BPJS itu tutup hingga jam 5 sore, kita adalah customer prioritas, ini masih jam 4, bahkan setengah jam yang lalu meeting telah selesai " Ucap Tibra, ia memandang wanita dari devisi HR itu. Karyawan tidak disiplin seperti inilah membuat virus karyawan lainnya. Tibra tidak suka dengan karyawan seperti ini, ia juga tidak pernah pilih kasih terhadap siapapun. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN