Tangan Sabila meraba sesuatu yang melingkari perutnya hingga sulit bergerak. Masih ada sedikit ingatannya atas apa yang terjadi semalam, yaitu aktivitasnya bersama Abrisam. Untuk itu, ia tak kaget mendapati sang suami memeluknya sangat erat. Perlahan, Sabila mengangkat tangan Abrisam, ingin memindahkannya agar ia dapat beranjak tanpa membuat pria itu terbangun. Siapa sangka, Abrisam sebenarnya sudah terbangun sejak tadi. Hanya saja, ia sengaja tetap di sana, menikmati pagi yang tak pernah ia jumpai sebelumnya. Hal sederhana seperti memeluk Sabila, menghirup aroma tubuhnya, menciumi rambutnya, sudah cukup membuat hatinya merasa nyaman dan tenang. Ingin posisi itu terjadi cukup lama, bahkan seharian jika bisa. Menikahi wanita yang dicintainya, tak pernah Abrisam bayangkan. Ia pikir setel

