Selesai bermandikan diri dan berpakaian, Sabila segera mendekati tumpukkan hadiah yang dibawa beberapa tamu. Sedangkan saat itu, Abrisam masih di ruangan lain bersama keluarga besarnya. Sabila tak berniat menyusul, lebih tertarik untuk membuka hadiah-hadiah yang sudah gatal untuk dibukanya sejak tadi, terutama dari teman-temannya, kecuali Felicia yang sudah menghadiahkan rumahnya. Hadiah pertama yang dibukanya adalah pemberian dari Bobby. Bentuknya kecil dan ringan, ternyata isinya dot bayi. Ya, dot bayi! Ada juga surat yang yang tersempil di sana. ‘Alat pengganti kalau-kalau lu males ngeladenin Pak Abi.’ “Apaan, anjir? Maksudnya buat nyusuin Abang pake dot bayi? Tu orang gue laporin dijamin kena damprat! Ngulang-ngulang, dah.” Sabila nyerocos tak habis pikir. Kotak kedua yang disentuh

