Hari sudah semakin malam, tepatnya pukul sembilan, Abrisam dan Adlan masih asyik bermain game balap mobil dari mesin console. Memang, anak dan ayah itu sering kali menghabiskan waktu bersama dengan bermain game. Namun sebelum itu, Abrisam yang semula berperan sebagai ayah sekaligus ibu selalu menyuruh anaknya belajar sebelum menyentuh stick PS. Sabila sudah mengantuk, entah sudah berapa kali ia menguap. Ingin cepat tidur, tapi bagaimana jika Abrisam dan Adlan kebablasan? Untuk itu, ia tetap di sana, menonton mereka bermain tanpa minat. Sudah mencoba berbagai cara agar kantuknya hilang, akan tetapi tidak ada yang berhasil. Lagi pula, ia memang tidak biasa tidur larut malam. “Lan, tidur, yuk. Besok kamu mulai sekolah, gak boleh telat.” Sabila bangkit dari sofa, berjalan menuju kamar. “

