Nikmat-Nya

941 Kata
"Ini namanya nikmat. Kalau gak ada penyakit ini, mungkin kita gak bisa ketemu dan mungkin juga temanku cuma sedikit."                                                                              --Jorgi-- Kalimat yang di ucapkan Jorgi masih terngiang jelas dalam otakku. Bagiku dia adalah orang tersabar yang pernah aku temui. Ia mampu menyembunyikan perih yang ia rasa demi membuat orang lain bertahan. Aku tahu pasti apa yang ia rasakan, sakit yang ia derita bahkan lebih parah dariku. Aku yang baru di diagnosa saja sudah putus asa. Sedangkan dia, sudah hampir dua tahun lebih di ruangan bau obat ini. Demi apapun, kalau hari ini aku sudah di perbolehkan untuk pulang, aku akan tetap datang menjenguknya. "Yumna." Tegur mama. "Iya, Ma? Kenapa? Yumna mau siap-siap pulang ya?" tanyaku bersemangat. Mama mendekatiku, merengkuhku dan mencium pipiku, "kamu harus di rawat beberapa hari ke depan. Kata dokter benar, kamu sakit Lupus Nefritis." "Jadi, Ma? Aku belum bisa pulang? Aku masih harus disini?" aku mendapat dua kabar, gembira dan sedih. Kabar gembiranya, aku masih bisa bertemu Jorgi. Kabar sedihnya, aku belum bisa bertemu teman-temanku di sekolah. "Belum bisa, Nak. Kemungkinan lusa. Besok Mama mau ke rumah wali kelasmu." "Iya, Ma. Aku kuat kalau ada Mama." Siang ini aku hanya menghabiskan waktu di tempat tidur. Kaki dan tanganku kian membengkak, bahkan wajahku ada sedikit ruamnya. Setelah diperiksa, ucapan Jorgi memang benar, ini salah satu gejala dari penyakitku. Aku berusaha bisa setegar Jorgi. Namun selalu ada secuil celah untuk berputus asa. Aku ingin belajar banyak pada Jorgi, bagaimana bisa hidup tanpa mengeluh. *** "Ma, Yumna pengin banget cari ruangannya Jorgi." Pintaku pada mama yang sedang asyik melihat panorama di belakang rumah sakit. Mama menoleh ke arahku, "gimana? Dia diruangan apa?" "Yumna gak tau, Ma. Tapi Yumna pengin banget ketemu dia." Aku memelas pada mama. "Abis makan siang nanti, mama bakalan cari ya." Ucapan mama membuatku begitu senang. "Abis makan siang ya kan, Ma?" tanyaku lagi, memastikan saja. "Iya, sayang, iya." "Makasih ya, Ma." Ucapku dengan wajah riang. Kring... "Halo?"  kali ini, panggilan Arga terasa begitu membosankan. Aku takut jika ucapan yang ia lontarkan hanya akan membuatku tambah sakit. "Halo" "Yumna, aku minta maaf. Nanti aku kesana bareng Saras juga Lara." "Buat apa? Mau bikin aku down lagi?" "Bukan begitu maksudku, Na. Aku bakalan jelasin semua yang di liat Saras." "Oh jadi kamu kira aku marah karena kamu jalan sama cewek cantik itu? Haha, udah ya, Ga. Aku gak mau bahas yang macem-macem. Aku udah pusing, jangan kamu buat tambah pusing." Aku mematikan sambungan telepon itu dan berusaha tetap tenang. "Sayang, makan dulu ya. Kata dokter kamu harus banyak makan dan minum." Mama melihat wajahku yang begitu kesal. "Iya, Ma. Ma nanti kalau ada Arga kesini, bilangin aja Yumna tidur ya." Pintaku pada mama. "Ha? Emang kenapa?" "Yumna gak suka aja, Ma. Yumna kesel sama dia." "Gak baik gitu, Na. Kan dia ada niat baik buat jenguk kamu." "Abis ini, Mama beneran mau bantuin Yumna kan? Mau cariin ruangan Jorgi?" "Iya, Na. Dia sakit apa? Mama lupa. Terus kamu tau gak umurnya berapa? Soalnya susah kalau cuma cari pake nama. Bisa aja banyak disini yang namanya Jorgi." "Yumna cuma tau nama sama penyakitnya doang, Ma. Penyakitnya bradikardia." Mama tesenyum, "semoga aja ketemu." "Mama bakalan tau gimana Jorgi, Yumna banyak belajar dari dia, Ma." "Iya ya." *** Krek.. "Yumna, liat siapa yang datang sama Mama." Aku yang tengah melamun, dikejutkan dengan kedatangan Jorgi bersama seorang wanita seumuran mamaku. "Jorgi..." Aku memutar badanku dan berjalan sambil membawa selang infus. "Kamu disini, Yumna?" ia begitu tampan, memakai sweater  hitam. "Aku senang sekali, akhirnya kita bisa bertemu lagi." Ucapku riang. "Ini teh yang namanya Yumna? Cantik ya." Aku memperhatikan wanita yang datang bersama Jorgi dan ternyata itu adalah ibunya. "Hehe, gak tau nih Yumna pengin banget ketemu Jorgi." Ucap mamaku di depan Jorgi dan ibunya. "Jorgi juga udah cerita tentang Yumna. Ketemu pas berjemur di luar ya kan?" ibu Jorgi merengkuh tubuhku. "Iya, Tante. Hehe." Balasku. Jorgi yang masih duduk di kursi roda---terus memperhatikanku. "Kamu belum dibolehin pulang, Yumna?" tanya Jorgi. Aku menggelengkan kepalaku dan tersenyum, "tapi aku bahagia." "Kok bahagia?" Jorgi terlihat bingung. "Ya, karena aku masih bisa ketemu kamu disini." Mama ku dan ibu Jorgi berbincang berdua dan aku bercerita banyak dengan Jorgi. "Kamu masih sekolah kan?" tanya Jorgi. "Iya, aku masih tiga SMA, kamu?" "Wah kalau begitu sama dong." "Aku udah lama banget gak ke sekolah. Entah gimana kabarnya, udah lama gak nyentuh buku tulis. Kangen teman-temanku, kalau kamu gimana?" Aku duduk di kursi tepatnya di sebelah kursi roda Jorgi. "Aku juga begitu. Rindu baca novel di bawah pohon sekolah, rindu jajan di kantin, rindu pulang naik ojek." Tok.. Tok.. Tok.. "Yum-" kedatangan Saras di depan pintu membuat semua mata kami tertuju padanya termasuk Jorgi. Aku mempersilahkan Saras masuk, "Ada Arga di depan. Boleh dia masuk?" tanya Saras dengan berbisik di telingaku. "Ngapain?" balasku berbisik. "Boleh ya?" "Yaudah, lagian disini juga ada Jorgi." Saras keluar dan kembali masuk bersama Arga. Arga menyalami mamaku dan ibu Jorgi. "Yumna," Arga menatap tajam Jorgi. "Sar, Ga, kenalin ini Jorgi. Teman baruku disini." Aku memperkenalkan Jorgi pada mereka. Terlihat wajah mereka sangat kebingungan. "Sini duduk disini saja," pintaku. "Ini Jorgi? Bagaimana kalian bisa kenalan?" ketus Arga. "Kita ketemu pas lagi sama-sama berjemur di luar." jawabku. "Oh, okelah. Eh ini aku bawa roti untukmu, Na." Arga memberikan sebuah bingkisan padaku. "Makasih." Ucapku lirih. Keadaan menjadi hening, tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut kami berempat. Hanya saling tatap. Kedatangan Arga sungguh tidak tepat. Aku ingin bercerita lebih banyak bersama Jorgi dan ada-ada saja gangguan disaat aku ingin merasakan kebahagiaan. Arga menatapku, aku memalingkan wajahku ke arah lain dan memberikan senyuman pada Jorgi agar Arga tau bahwa aku juga bisa bahagia. *** Salam kura-kura ♥
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN