Gunawan tampak duduk sambil bersandar ke tembok. Matanya menatap ke arah kumpulan pepohonan yang berdiri rapat di pekarangan.
"Diminum dulu, Gun!" ucap seorang perempuan muda.
Gunawan menganggukkan kepalanya tanpa menoleh ke arah perempuan itu.
"Sebenarnya ada apa sih, Gun? Enggak biasanya kamu seperti ini?" Kali ini seorang pria yang bertanya pada Gunawan.
Gunawan masih saja terdiam. Mulutnya seolah terkunci rapat. Hatinya dilanda kekacauan hebat saat ada yang menanyakan hal itu.
"Bukannya kami mau ikut campur, Gun. Namun, jika kamu lagi ada masalah. Kamu bisa cerita sama aku atau mbakmu ini." Pria itu berkata sembari menunjuk ke sampingnya.
Gunawan menghela napas panjang. Dia ingin sekali berbagi dengan mereka. Tapi sisi hatinya yang lain mengatakan untuk diam saja.
'Jangan katakan apapun menyangkut rumah tanggamu dengan Anggun. Karena itu adalah masalah kalian berdua. Jadi, jangan sampai ada orang lain yang tahu,' batinnya.
"Gun!" Perempuan muda itu menepuk pundak Gunawan dengan lembut. Matanya menatap wajah sepupunya itu dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.
"Enggak apa-apa kalau kamu nggak mau cerita. Mbak sama Mas Irfan nggak bisa maksa kamu. Tapi satu hal yang harus kamu ingat," ucap perempuan itu.
"Pintu rumah kami selalu terbuka untuk kamu," lanjut perempuan itu lagi.
Gunawan menatap perempuan itu seraya tersenyum.
"Iya, Gun. Jangan sungkan-sungkan ya. Aku akan sangat senang kalau kamu mau sering mampir ke sini," sahut lelaki yang bernama Irfan itu.
Gunawan menyunggingkan senyum. "Makasih ya, Mbak, Mas! Makasih banget," ucap Gunawan.
Pasangan suami istri di depannya itu tersenyum mendengar ucapan Gunawan. Mereka memang tak memaksa Gunawan untuk bercerita malam ini. Akan tetapi, secara tidak langsung mereka telah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada rumah tangga sepupunya itu.
"Gunawan pulang dulu ya, Mbak, Mas! Lain kali Gunawan main lagi ke sini," pamitnya.
Irfan dan istrinya mengangguk bersamaan. Tak lupa senyuman terukir di wajah keduanya.
"Hati-hati kalau pulang," jawab Irfan.
Gunawan mengangguk. Setelah itu, lelaki bertubuh tinggi itu berjalan menuju sepedanya dan mulai mengayuh kendaraan roda dua tanpa mesin itu.
Sepanjang perjalanan, Gunawan berkata pada dirinya sendiri. Dia ingin memberikan afirmasi positif pada otaknya. Dia tak ingin energi negatif memenuhi hati dan pikirannya.
Sesampainya di rumah, Gunawan langsung menyimpan sepedanya di halaman samping. Dia kemudian berjalan menuju pintu depan dan membukanya. Tiba-tiba, sebuah tamparan melayang dan tepat mengenai pipi Gunawan.
"Biar kamu sadar diri, Gun. Biar kamu ngaca sebelum mengatai orang!" Anggun berdiri sambil menatap Gunawan dengan perasaan marah yang teramat sangat.
Belum juga Gunawan membela diri, sebuah tamparan lagi-lagi harus dia terima. Kali ini yang menamparnya adalah Bu Ika, mertuanya.
"Rendi ribuan kali lebih baik daripada kamu, Gun. Dia bisa membahagiakan Anggun. Enggak kayak kamu yang bisanya cuman menyengsarakan istri saja," geram Bu Ika.
Gunawan hanya memegangi kedua pipinya yang masih terasa panas karena aksi kedua perempuan beda usia di depannya itu. Rasa sakit yang ia rasakan di pipi tak sebanding dengan rasa sakit yang ia rasakan dalam hati. Perih sekali rasanya ketika dibandingkan dengan orang lain. Padahal jelas orang itu bukan siapa-siapa.
"Sekali lagi kamu berbuat begitu sama Rendi. Kamu tahu sendiri akibatnya!" ancam Anggun.
Setelah berkata demikian, Anggun masuk ke dalam rumah tanpa menoleh ke belakang lagi.
"Heh! Makanya, jadi orang tahu diri dan sadar diri. Udah nggak bisa bikin istri bahagia. Eh malah sok-sokan cemburu lagi. Dasar nggak sadar diri!" Kali ini Bu Ika yang berbicara.
Setelah itu, wanita beralis celurit itu masuk ke dalam mengikuti langkah sang anak. Dia juga sama tak pedulinya pada perasaan sang menantu. Yang dia pikirkan hanyalah kesenangannya sendiri. Dia tak peduli pada perasaan orang lain yang mungkin terluka karena ucapannya.
Gunawan hanya bisa mengelus d**a sembari beristighfar dalam hati. Dia harus bisa menahan semua ini jika tak ingin kehilangan istri tercintanya.
****************
Hari ini Gunawan kembali bekerja di proyek seperti biasanya. Walaupun hatinya masih diliputi perasaan tak tenang. Dia harus tetap bersikap profesional.
"Kenapa, Gun? Lagi ada masalah?" tanya Pak Adi.
Gunawan mencoba tersenyum. "Enggak kok, Pak. Saya baik-baik saja."
Pak Adi manggut-manggut mendengar jawaban yang diberikan oleh Gunawan.
"Ya sudah. Kerja yang benar ya. Saya percaya sama kamu." Pak Adi menepuk pundak Gunawan dengan lembut.
Gunawan mengangguk. Setelah itu dia bersiap-siap untuk mulai bekerja hari ini. Sebisa mungkin dia menyingkirkan semua permasalahan yang dihadapinya. Dia berusaha untuk tak mencampuradukkan antara pekerjaan dengan masalah pribadi.
Sementara itu di rumah, Anggun tengah bersiap-siap untuk keluar bersama dengan Rendi. Mereka semakin terang-terangan saja saat ini. Rendi pun tak merasa kapok atau takut akan ketahuan oleh Gunawan. Karena menurutnya, jika ketahuan akan semakin bagus. Dia tak perlu berlama-lama lagi untuk mempersunting Anggun.
"Sudah siap?" Rendi bertanya saat dia melihat Anggun keluar dari kamarnya.
Anggun mengangguk dan tersenyum manis sekali pada Rendi.
"Kita berangkat sekarang?" ujar Rendi.
Sekali lagi Anggun mengangguk. Senyum pun tak lepas dari wajahnya yang ber-makeup tebal itu.
Rendi tersenyum melihat anggukan kepala Anggun. Lelaki berpenampilan parlente itu segera menggandeng tangan Anggun dan mengajaknya keluar rumah.
"Aduh… Aduh! Ternyata semakin berani aja ya keluar sama lelaki lain di saat suaminya kerja," ucap seorang ibu-ibu yang memakai daster hijau.
Anggun yang mendengar ucapan tetangganya itu mengepalkan kedua tangannya. Dia sangat tak suka saat ada yang terlalu ikut campur urusan pribadinya.
"Iya ya. Semakin nggak tahu diri aja jadi istri. Emang sih ya, suaminya cuman kuli bangunan, tapi mbok ya jangan seperti itu," sahut ibu-ibu yang memakai daster batik.
"Heh! Bubar sana. Jangan urusin hidup orang. Enggak ada kerjaan lain apa selain usilin hidup orang?" sentak Anggun.
"Heh, Anggun! Tahu diri dikit dong jadi istri. Suamimu kerja keras di luar sana untuk kamu. Untuk memenuhi gaya hidup kamu. Eh kamu malah selenki sama laki mokondo model ginian!" jawab ibu-ibu berdaster batik tadi.
"Iya. Harusnya kamu tuh tahu diri dikit. Jangan mentang-mentang Gunawan tinggal di rumahmu, terus kamu seenaknya saja sama dia!" timpal ibu-ibu berdaster hijau.
Anggun sudah akan menimpali ucapan kedua tetangganya itu. Akan tetapi, Rendi menarik lengannya untuk segera masuk ke dalam mobil.
"Enggak perlulah kamu ladenin mereka. Enggak ada gunanya juga," bisik Rendi.
Anggun mengangguk. Kemudian dia berjalan menuju mobil Rendi dan masuk ke dalamnya. Suara cemoohan masih terdengar kala Anggun dan Rendi mulai meninggalkan tempat itu.
Mobil yang dikemudikan oleh Rendi memasuki sebuah restoran yang terbilang cukup mewah. Mata Anggun berbinar saat melihat bangunan itu di depannya.
Tanpa banyak bicara, Rendi mengajak Anggun turun dan masuk ke dalam restoran. Anggun kembali dibuat takjub saat memasuki restoran itu. Desain interior restoran itu terlihat begitu mewah dengan pilar-pilar besar yang menyangga atap restoran.
'Wah, mewah banget! Pasti mahal banget makanan di sini,' batinnya.
"Silakan duduk, Tuan Putri!" Rendi menarik kursi dan mempersilakan Anggun untuk duduk.
Diperlakukan bak seorang putri membuat Anggun melayang. Dia tak pernah diperlakukan demikian oleh seorang lelaki. Pun saat bersama dengan Gunawan. Lelaki itu tak pernah memperlakukkannya demikian.
"Kamu mau pesan apa, Sayang?" Rendi menyodorkan buku menu ke depan Anggun.
Anggun mulai membolak-balikan buku menu tersebut. Dia tampak kebingungan saat memilih menu. Karena kebanyakan menu di sana menggunakan bahasa asing yang tak dimengerti oleh Anggun.
"Terserah kamu aja lah, Mas. Aku ngikut aja," jawab Anggun.
Rendi tersenyum. Kemudian dia menyebutkan pesanannya pada seorang waiter yang berdiri di samping meja mereka dan telah siap mencatat pesanannya.
Setelah membacakan kembali pesanan Rendi, waiter tadi segera meninggalkan meja dan mulai mempersiapkan pesanannya.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, Rendi mulai mengobrol dengan Anggun. Banyak hal yang mereka obrolkan. Saat tengah asik mengobrol, tiba-tiba sebuah suara mengejutkan keduanya.
"Waw! Mangsa baru nih!"