Pertemuan Yang Amat Mengecewakan

1079 Kata
Semuanya sudah rapi. Mulai dari rambutnya yang ia gerai, lalu tidak lupa ia menambahkan sedikit sentuhan make up berupa bedak dan lipstik karena ia sempat membasahi wajahnya. Nina tidak mungkin keluar menemui Brian dengan wajah yang berantakan. Bisa-bisa Brian menganggap Nina orang aneh dam tidak mau dekat dengannya. Setelah mantap dan siap untuk semuanya, Nina berdoa dalam hati dan menghirup napasnya perlahan. Ia mulai berjalan menuju pintu keluar toilet dengan penuh percaya diri untuk kembali menemui Brian walau rasa gugupnya ia kubur setengah mati. Seulas senyum juga sudah terpasang di wajah cantiknya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari Brian. Tetapi, senyumnya seketika menurun di saat ia melihat Brian sedang bersama dengan Brina entah mengobrol tentang apa. Selanjutnya, Brian malah pergi dengan Brina dan meninggalkan dirinya. Ada alasan yang mewajarkan Nina untuk marah. Perempuan itu berhak kesal ketika Brian yang katanya akan menunggunya, tetapi kini malah pergi bersama dengan Brina ketika ia belum kembali. Nina hanya memilih untuk mengembuskan napasnya. Ia tersenyum tipis ketika dua punggung itu semakin menjauh. Selanjutnya, ia kembali duduk di sebuah bangku panjang di selasar perpustakaan ini. Dirinya tertawa dalam hati untuk menyadari betapa konyolnya seorang Nina yang berharap lebih pada Brian. Sudah tahu dirinya sangat bersikap aneh ketika mengobrol dengan laki-laki itu, masih saja ia mengharap sesuatu yang lebih. Jelas saja Brian tidak mau. Brian tampan, kekasihnya juga cantik. Sangat cocok, tidak seperti dirinya yang dibilang cantik juga tidak semua orang setuju. Walau begitu, Nina tidak mau hanya diam saja. Ia mengeluarkan ponselnya dan tetap akan menghubungi Brian. Biarpun jelas-jelas ia melihat dengan dua mata kepalanya sendiri jika Brian pergi bersama dengan Brina, Nina hanya ingin terlihat tidak tahu apa-apa. Dirinya akan berlaga polos dan menanyakan di mana Brian. Selanjutnya, satu pesan telah berhasil terkirim ke laki-laki itu. Nina: Kak Brian, maaf ya aku udah bersikap aneh tadi dan langsung pergi ninggalin Kak Brian. Sekarang Kak Brian di mana? Nina tidak berharap pesannya langsung dibalas. Maka dari itu, ia segera memasukkan ponselnya ke dalam tas selempang warna hitam favoritnya. Setelahnya, perempuan itu beranjak dari sana. Tidak ada alasan lagi untuknya tetap bertahan di selasar perpustakaan di sore hari ini atau dirinya akan kembali masuk angin seperti kemarin. Nina memutuskan untuk pulang saja. Namun, lagi-lagi ia dibuat untuk bersabar dan tidak boleh cemburu. Ketika ia berjalan melewati kantin, dua sejoli itu sedang makan berdua saja dengan nampak akur. Walau ia tidak melihat kemesraan yang berlebihan, tetapi tetap sadar ada sebuah kerikil yang tertinggal di ulu hatinya, yang membuatnya ingin mengumpat tetapi tidak tahu untuk apa. Nina kira mendekati seorang Brian itu mudah, tetapi mengobrol dengannya saja membuatnya bersikap aneh, dan sekarang ada sebuah kenyataan yang harus tetap Nina pegang teguh yaitu tentang Brian yang sudah memiliki kekasih bernama Brina, seseorang kakak tingkat yang sudah ia anggap sebagai sahabatnya sendiri. Nina masih berdiri di kantin ini, memperlambat langkahnya. Dirinya berpikir untuk beberapa saat dan entah mengapa langkah kakinya membawa dirinya menghampiri Brian dan Brina yang tengah asyik makan berdua. "Kak Brina!" ucap Nina memanggil nama Brina. Yang dipanggilnya itu menoleh dan tersenyum. "Hai, Nin," ucap Brina membalas panggilannya. Nina menyempatkan untuk menyeruput es jeruknya sejenak dan ia mempersilakan Nina untuk duduk. "Sini duduk." Tidak ada yang Brina curigai dari Nina. Walau sangat jarang sekali dan memang ini kali pertama Nina menghampiri dirinya ketika bersama dengan Brian, tetapi ia tetap berpikir apa adanya. Menurutnya, sangat wajar jika Nina menghampirinya ketika melihat ia sedang makan di kantin karena mereka memang sudah sangat dekat. Sementara Nina, dirinya menahan detak jantungnya setengah matii. Napasnya ia atur supaya tidak terlihat jika ia sedang gugup berada di dekat Brian. Dan laki-laki itu, entah apa yang sedang dipikirkan, Brian acuh saja seolah-olah beberapa menit sebelumnya mereka tidak pernah bertemu dan mengobrol walau sebentar. "Mau makan apa?" Sudah jelas Brina harus menawari Nina makan karena di sini adalah tempat makan. Nina menggeleng. "Nggak usah, Kak. Tadi gue udah makan kok." Brina pun mengangguk. "Mau minum?" "Nanti gue pesan aja sendiri," jawabnya. Brina melanjutkan menyantap nasi gorengnya. Sementara Nina berusaha mencuri pandang pada Brian tetapi laki-laki itu sama sekali tidak menggubris dirinya. Nina jadi penasaran, sebenarnya Brian itu sadar atau tidak jika dirinya sedang ada di sini atau memang Brian tidak peduli??? "Oiya, Nin. Tumbenan, ada apa nih? Ada yang perlu kita bahas?" tanya Brina di sela-sela kunyahannya. "Kalau makan, jangan sambil ngobrol." Selanjutnya, jantung Nina dibuat berhenti sejenak. Brian yang sedari tadi acuh, kini berucap tetapi hanya pada Brina, tidak memedulikan dirinya. Bahkan, laki-laki itu mengambil tisu dan langsung mengusap mulut Brina yang cemong karena nasi gorengnya. "Kamu kebiasaan ya!" ucap Brian dengan nada kesal tetapi terlihat sekali laki-laki itu merasa gemas dengan Brina. Kali ini, Brina menyadari sesuatu. Entah mengapa kakak kandungnya yang sedang berpura-pura menjadi kekasihnya itu bersikap berlebihan. Padahal, biasanya tidak seperti ini. Apakah ini karena ada Nina di sini? Apakah Brian mendadak menjadi pacar pura-puranya yang perhatian hanya untuk membuat Nina semakin yakin jika mereka berdua adalah sepasang kekasih yang serasi, atau Brian sengaja ingin membuat Nina cemburu? Tapi, Brian tidak pernah tahu jika Nina menyukai dirinya. Brina tidak pernah bercerita kepada Brian jika ada sahabatnya yang menyukai dirinya. "Kak, kayaknya gue ada urusan deh," kata Nina yang bersiap untuk pergi. "Loh, kok buru-buru? Tadi mau ngomongin apa, omongin dulu deh takut penting." "Enggak, Kak. Gue duluan ya!" Nina pergi begitu saja bahkan dirinya tidak berpamitan pada Brian, hanya saja perempuan itu sempat menatapnya sekilas. Ada tatapan balasan dari Brian juga yang semakin membuat Nina tidak karuan. Perempuan itu berjalan cepat dengan tubuhnya yang bergetar dan keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Nina yakin, saat ini dirinya bukan hanya merasa cemburu. Tetapi, lebih tepatnya ia merasa kecewa dengan laki-laki itu yang sama sekali tidak menyapanya. Padahal, jelas sekali beberapa menit yang lalu Nina sempat bertemu dengan Brian. Apakah Brian merahasiakan pertemuannya dengan Brina agar kekasihnya itu tidak pernah tahu? Tetapi, jika memang begitu seharusnya Brian tidak mengajaknya bertemu di selasar perpustakaan karena ada banyak orang yang mengenal Brian. Tidak terasa, ada genangan di dua bola matanya ketika Nina berjalan seorang diri menuju rumah kost. Ada rasa sesak yang seharusnya tidak tercipta karena Nina bukanlah pemilik hati Brian. Belum banyak mengobrol saja dirinya sudah merasa tersakiti, bagaimana nanti, dirinya bahkan tidak siap untuk patah hati, walau Nina tahu yang membuatnya merasa seperti ini adalah dirinya sendiri. Nina sudah tidak tahu lagi. Apakah ia harus menyerah untuk mencintai Brian dan menyerah juga untuk berusaha dekat dengannya, atau memang dirinya hanya ditakdirkan untuk mengagumi laki-laki itu dari jauh tanpa menimbulkan sakit hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN