Berat Badan dan Tipuan Brian

1758 Kata
Ada satu pesan yang langsung Nina kirimkan pada Brian. Perempuan itu tidak peduli jika Brian nantinya akan marah atau bahkan hilang simpati padanya. Nina juga manusia yang memiliki hak untuk bersuara. Ia sadar jika dirinya hanya menurut pada Brian, bisa-bisa ia akan kalah dalam segala hal. Maksudnya, ia tidak ingin ada satu pun orang termasuk Brian yang dengan seenak hati membuatnya menunggu tanpa kepastian, bahkan malah memilih pergi bersama orang lain sekalipun itu adalah kekasihnya. Yang namanya janji itu harus ditepati dan membuat orang menunggu adalah hal yang sangat menyebalkan setelah Nina pikir-pikir. Satu pesan terkirim, lalu membuat Nina yang emosi semakin kesal saja karena tidak ada balasan dari Brian, padahal wajar sekali jika ia mengirimkan pesan ini. Nina: Kak Brian, tadi Kak Brian nggak datang ke perpus ya? Atau datang tapi nggak ketemu sama aku? Aku nunggu sampai jam lima sore hehehe Nina langsung membanting ponselnya yang pasti di atas kasur. Ia kemudian keluar dari kamar untuk mengurusi perutnya yang malam ini kembali merasa keroncongan padahal tadi sore sudah makan. Satu-satunya yang Nina bisa adalah merebus telur dan untuk makan malam ia hanya butuh dua butir telur rebus saja. Baginya, makan nasi sekali sehari sudah cukup. Sisanya ia akan maksimalkan ke protein yaitu telur rebus. Nina memang sedang diet, karena ia sadar jika dibanding dengan Brina, dirinya jauh lebih berisi. Nina ingin nampak cantik juga di mata Brian, makanya ia selalu menerapkan hal ini untuk menjaga berat badannya tidak semakin melebar. Perempuan itu membuka kulkas yang ada di dapur. Seperti biasanya, kulkas di rumah kost ini tidak pernah kosong dan selalu terisi oleh berbagai bahan makanan penghuninya. Nina langsung membuka kotak tempat ia menyimpan telur. Namun, ada satu hal yang membuatnya mengangkat sebelah alis karena ia rasa ada yang kurang dari telur yang ia simpan di kotak dan ia masukkan ke dalam kulkas. Seingat Nina, dua hari yang lalu ia baru saja membeli telur sebanyak satu kilogram dengan jumlah enam belas butir dan ia baru makan dua telur saja. Kali ini ia juga mengambil dua telur, jadi seharusnya sisa telur yang ada di kotak penyimpanan telurnya masih ada dua belas. Tetapi, Nina menghitung ulang hanya ada sepuluh butir telur saja. Nina tidak mau suudzon lagi. Ia pikir seseorang mengambil telurnya karena meminjam dan mungkin akan bilang nanti, seperti dahulu ketika Kak Syalaby mengambil telurnya kemudian setelah ia pulang ke kost baru Kak Syalaby bilang padanya jika ia mengambil telur milik Nina. Mungkin kali ini kasusnya akan sama, jadi Nina memilih untuk diam saja dulu sampai ada yang mengaku telah mengambil telurnya. Perempuan itu bergegas merebus telur dan ia tinggal ke kamar sejenak untuk memeriksa ponselnya. Namun, kali ini tidak ada pesan yang masuk dari siapapun termasuk dari Brian. Nina mengembuskan napasnya kasar-kasar. Ia kembali membanting ponselnya di atas kasur dan selanjutnya ia ke dapur untuk mengecek telur rebusnya. Lagi-lagi Nina dibuat kesal. Api kompor telah mati padahal Nina yakin sekali jika ia telah menghidupkannya. Nina pun kembali menyalakan kompor dan memang menyala, bukan kehabisan gas. Dirinya sudah sekitar lima menit menghabiskan waktu di dalam kamar yang berarti seharusnya kurang sepuluh menit lagi proses perebusan telur sampai matang. Namun, entah sejak kapan api kompor itu mati, jadi Nina harus benar-benar menunggu lebih lama lagi sampai telur rebusnya itu benar-benar matang. Setelah lebih dari sepuluh menit, akhirnya menu makan malamnya yang berupa telur rebus itu matang juga. Nina sudah tidak sabar untuk menyantapnya karena perutnya sudah keroncongan. Perempuan itu kembali membuka kulkas untuk mengambil saus sambal miliknya yang ia simpan di dalam sana. Lagi-lagi ia dibuat keheranan karena saus sambalnya tinggal separuh. Padahal, dua hari yang lalu juga ia baru membeli saus itu dan baru ia pakai sedikit. Benar-benar, manusia tukang mencuri makanan miliknya di dalam kulkas itu benar-benar membuatnya kesal. Biar saja, Nina masih akan terus diam entah sampai kapan, mungkin ketika emosinya sudah meledak nanti semua akan tahu betapa menyebalkannya makanan milik pribadi yang hilang di kulkas. Malam ini, Nina harus bisa menikmati makanannya dan tidak boleh sampai stres. Jika sedikit stres saja, bisa-bisa ia akan order beberapa porsi makanan di aplikasi ojek online agar suasana hatinya kembali membaik. -- Brian masih enggan pulang ke kostnya. Ia malah asyik tiduran di kamar kost Brina sejak sore tadi. Padahal sudah sangat jelas jika di rumah kost ini dilarang membawa laki-laki masuk ke dalam kamar walau ada pengecualian untuk Brian dari ibu kost. Tetapi, tetap saja jika ada penghuni lain yang tahu, semua akan menjadi runyam. Brina tidak pernah tinggal diam. Sedari tadi ia sudah berusaha mengusir kakaknya itu tetapi memang seperti kerbau saja si Brian, hobinya hanya rebahan alih-alih berpetualang seperti laki-laki pada umumnya. "Udah malam, sana pulang!" kata Brina yang sudah beberapa kali menggoyang-goyangkan tubuh Brian yang asyik bermain game di ponselnya. Namun, sepertinya gangguan dari Brina sama sekali tidak membuatnya terganggu. "Plis lah, gue capek. Gue juga mau tidur!" ucapnya dengan ketus. Ia mencoba menarik kaki Brian supaya terjatuh dari atas kasurnya, tetapi bagaimana pun ia tidak bertenanga. Leboh tepatnya, tubuhnya kalah besar dari laki-laki tinggi itu. "Tidur ya tidur aja sini, orang masih lega juga kan . Badan gue nggak gede banget ya, nggak bakal menuhin kasur," ucap Brian dengan enteng. Ia masih fokus dengan game yang ada di ponselnya. Sementara Brina sudah dibuat memutar bola matanya dan semakin kesal saja. Kakak kembarnya itu sangat tidak bisa mengerti bahwa dirinya sudah cukup lama ada di sini. Tahu begitu, Brina tidak akan meminta Brian untuk mengantar dirinya pulang. Lebih baik Brina tidak usah mampir ke mini market untuk membeli camilan dari pada harus menahan tubuhnya yang lelah seperti ini karena masih ada Brian di sini. "Brian ... lo sadar nggak sih kalo lo itu abang yang paling nyebelin sedunia?"  "Sadar, kan abang lo cuma gue doang." Brina sampai geleng-geleng kepala menanggapi kakaknya itu. Selanjutnya ia memilih mengalah. Perempuan itu akhirnya keluar dari kamar dengan pintu yang masih terbuka. Ia memutuskan untuk pergi ke warung yang ada di depan rumah kostnya. Malam-malam begini memang paling enak makan es krim walau sebenarnya mererk es krim yang ada di warung depan kostnya itu bukanlah merek es krim yang ia sukai. Hanya saja ia memang suka makan es krim saat dirinya merasa kesal apalagi karena kakaknya yang sangat menyebalkan.  Tidak lama, perempuan itu sudah kembali ke kamarnya. Ia bukan hanya membeli satu es krim yang sudah ia makan untuk dirinya sendiri, tetapi ia juga membelikan untuk kakaknya. Daripada kakaknya itu merebut es krim miliknya, memang lebih baik ia membeli dua saja dan yang satu untuk Brian.  "Nih, es krim," ucap Brina yang melempar satu es krim tepat di muka Brian. Laki-laki itu tidak pernah marah padanya. Malah Brian masih menyempatkan untuk berterima kasih. Ia juga langsung memakan es krim tersebut walau fokusnya masih dengan ponselnya.  Selain agar Brian tidak merebut es krimnya, Brina membelikan es krim untuk Brian agar laki-laki itu berpindah ke luar kamar untuk memakan es krim atau setidaknya pindah duduk di kursi belajar agar dirinya bisa rebahan sebentar saja. Tetapi, laki-laki itu malah makan es krim di tempat tidurnya juga, yang membuatnya semakin kesal saja.  "Heh ... jangan makan es krim di kasur juga kali. Pindah ke kursi ah, nanti kalo kotor gimana?" "Dilaundry lah." "Brian ...." Brina sudah menggeram saja. Namun, selanjutnya ia membeku karena mendengar suara pintu rumah kost yag dibuka. Sepertinya penghuni kost mulai berdatangan. Beberapa dari mereka memang pergi bersama-sama untuk berburu diskonan di sebuah tempat makan yang sedang ada diskon besar-besaran karena baru saja buka. Brina tidak ikut karena memang Brina sudah kapok menghadiri acara diskonan yang antrenya sangat panjang dan itu sungguh melelahkan. Bukan sok kaya, hanya saja menurut Brina lebih baik merogoh kocek penuh dari pada hanya membayar setengah tetapi setengahnya dibayar dengan emosi karena kelelahan mengantre.  Cepat-cepat Brina menutup pintu kamarnya agar tidak ketahuan jika ada Brian di sini. "Tuh kan, mereka udah balik. Lo sih nggak mau keluar dari tadi, terus sekarang gimana kalau ketahuan mereka lo masuk kamar gue?" ucap Brina dengan berbisik, khawatir jika mereka tahu Brina menyembunyikan Brian di dalam kamarnya.  Brian jadi ikut khawatir. Bagaimana pun juga ia belum siap jika harus mengaku pada semua orang bahwa Brina adalah adik kembarnya karena jika dipikir-pikir memang Brina masih ia butuhkan sebagai kekasih bohongannya alih-alih adik kandungnya. "Tenang dulu, Brin," ucap Brian yang sejatinya khawatir tetapi masih dibawa santai karena ia perlu menghasbiskan es krim yang ada di tangannya. "Loh, ini sepatu Brina ada di depan kamar terus ada sepatu cowok juga. Sepatu Brian? Kok kamarnya ditutup sih pintunya?"  Brina semakin gemetar saja karena mereka akhirnya curiga dengan sepatu Brian yang ada di depan pintu kamarnya. Lalu setelahnya terdengar suara pintu yang diketuk, yang semakin membuat Brina pusing tujuh keliling karena tidak tahu harus berkata apa.  "Brina, lo di dalam?" teriakan seseorang itu jelas sekali membuatnya takut. "Brin, lo di dalam sama Brian? Enggak kan, tapi di luar juga ada motor cowok. Punya Brian, bukan?" teriakan orang yang berbeda, berhasil membuat Brina menggigit ujung jarinya karena semakin ia berpikir, semakin ia khawatir dan tidak tahu harus apa. "Yan, gimana?" tanya Brina pada Brian yang sudah berhasil menghabiskan satu cup es krim. Brian terlihat tenang, tetapi dalam ketenangannya itu ia juga berpikir karena juga khawatir. "Brin, ambilin sandal swallow yang lo pake di kamar mandi," katanya yang membuat Brina menyipitkan matanya. "Buat apa?" tanyanya tidak paham dengan perintah Brian. "Udah, ambilin aja." Brina pun menurut dan mengambil sepasang sandal yang biasa ia gunakan ketika berada di dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. "Nih. Buat apa sih?" Brina menyerahkan sepasang sandal itu pada Brian. "Gue bakal keluar lewat jendela. Nanti pelan-pelan gue bakal muncul dari depan." "Hah?" Brina masih bingung dan belum paham dengan penjelasan Brian yang sesungguhnya tidak menjelaskan apapun. Sebelum menjelaskan lebih lanjut pada Brina, Brian menyempatkan untuk mengembuskan napasnya karena lelah Brina tidak paham juga dengan maksudnya. "Jadi gini, Brina. Gue nanti kan keluar lewat jendela dan nanti bakal muncul dari depan. Kan gue bawa sandal lo yang item ini yang kebetulan banget bisa dipake buat cowok, nah nanti gue alasan aja habis sholat isya di masjid. Jadi mereka nggak bakal curiga kalo gue ada di dalam kamar lo," kata Brian dengan penjelasan panjangnya. Brina mengangguk paham. "Pinter juga ya lo, walau lo sejatinya lo bohongin mereka." "Ye! Setuju nggak sama ide gue? Mau lo ketahuan? Terus kalo ketahuan mau jujur apa tetap anggep gue pacar lo?" "Hm, iya deh iya. Sana cepet!" Setelahnya, Brian kemudian memulai untuk melakukan aksinya yaitu keluar dari kamar Brina melalui jendela yang cukup besar dan muat untuk tubuhnya. Beruntung saja tidak ada pembatas besi di jendela ini sehingga Brian bisa keluar dengan lancar dan menjalankan aksinya selanjutnya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN