"Kak Brina!"
Perempuan yang sedang sibuk mengurusi berkas dan buru-buru membawa ke sekretariat jurusan itu harus menghentikan langkahnya ketika seseorang memanggil namanya. Ia menoleh ke belakang. Mendapati adik tingkatnya yang satu organisasi dengannya itu berlari kecil menuju ke arahnya, membuat dirinya mengembuskan napas. Brina tersenyum sekilas. Ia menggelengkan kepala karena lagi-lagi Nina baru muncul padahal mereka berdua sudah berjanji akan mengantar berkas-berkas laporan kegiatan himpunan ini kepada pihak jurusan.
"Telat lagi. Lo dari mana sih, Nin?" tanya Brina sembari memberi Nina separuh dari banyaknya berkas dalam stop map yang ia bawa.
"Maaf, Kak. Seriusan tadi gue udah datang pagi-pagi. Cuma gue harus mampir dulu ke perpustakaan pusat," kata Nina tanpa berbohong. Tetapi, ada yang tidak ia ceritakan pada perempuan itu, yaitu tentang pertemuannya dengan Brian. Padahal semua orang yang ada di kampus ini juga tahu bahwa Brina adalah kekasih dari Brian.
Walau Brian sudah punya pacar yaitu Brina, tetapi memang mahasiswi di kampus ini memang sedikit berani. Mereka tidak peduli dengan status Brian yang sedang tidak menjomlo, tentu saja itu karena Brina juga tidak terlalu mempermasalahkan jika pacarnya itu sering digoda bahkan oleh temannya sendiri. Kata Brina, "Silakan goda pacar gue, tapi semakin kalian jadi penggoda, semakin kalian jauh dari rasa simpatinya."
Hal itu juga sempat didengar Nina. Karena itulah, Nina memutuskan untuk tidak pernah menggoda Brian. Ia menyukai laki-laki itu dalam diam hingga akhirnya dirinya bisa berkenalan dan mengobrol langsung dengan Brina setelah dua tahun lamanya.
Nina yakin, setelah ini ia bisa jauh lebih dekat lagi dengan Brian. Ia juga tidak pernah peduli dengan Brina sebagai kekasih Brian, selama Brian tidak menolak untuk berteman dengannya, bahkan jika mereka sampai dekat sekalipun.
"Kenapa senyum-senyum sih?" tanya Brina ketika sedari tadi wajah Nina nampak berseri, bahkan pipinya masih meninggalkan rona kemerahan.
Nina menggeleng. "Nggak papa, Kak. Gue lagi seneng aja!"
"Cie, lagi suka sama cowok ya?" goda Brina.
“Ketemu cowok ganteng tadi,” ucap Nina dengan jujur tanpa rasa malu atau sungkan sedikit pun.
Setelah mereka sampai ke ruangan, Brina meletakkan berkas-berkas tersebut dan langsung keluar saja, karena memang mereka hanya diamanati seperti itu.
"Cowok siapa nih namanya? Suka sama dia?" tanya Brina lagi. Ia menoel pipi Nina yang masih memerah. “Masih suka sama Brian, pacar aku?” tanya Brina dengan enteng. Sejujurnya ia tidak pernah keberatan jika gadis yang sejak tahun pertama menyukai Brian, sampai sekarang masih menyukai saudara kembarnya, di mana orang-orang tahu jika Brina dna Brian berpacaran.
Nina hanya tersenyum saja tidak mau memberikan jawaban. Hal tersebut berarti memang benar bahwa Nina baru saja bertemu dengan Brian.
--
Walau Brina dan Brian adalah saudara kandung, tetapi tetap saja keduanya tidak tinggal dalam satu rumah kost. Mereka seperti orang-orang yang tidak mempunyai hubungan kecuali hubungan pacaran yang mereka buat-buat. Jika tempat tinggal Brian sedikit jauh dengan kampus, maka tempat tinggal Brina hanya berada di belakang kampus.
Seperti pasangan muda-mudi pada umumnya, Brian mengantar Brina pulang ketika kebetulan mereka menyelesaikan kelas di jam yang sama.
“Brin, tau nggak, tadi gue ketemu sama cewe yang lucu banget,” kata Brian begitu sampai di depan rumah kost Brina. Tidak biasanya laki-laki itu berbicara mengenai perempuan di depan Brina, membuat Brina cukup tertarik dengan pembicaraan kali ini.
“Kalo gitu masuk dulu deh. Seru kayaknya.” Brina mengajak Brian masuk dan langsung disetujui oleh Brian.
Rumah kost yang ditempati Brina memang memperbolehkan laki-laki untuk masuk tetapi hanya sebatas ruang tamu saja. Namun, khusus untuk Brian, dirinya boleh masuk ke dalam kamar Brina atau bahkan sampai menginap. Karena pemilik kost sudah tahu jika mereka berdua sebenarnya adalah saudara kembar. Hanya saja Brian belum pernah sampai masuk atau menginap di kamar kost milik Brina karena mereka berdua tidak mau jika ada penghuni lain yang curiga.
“Lo mau minum apa?” tanya Brina pada saudaranya itu. Tanpa menunggu jawaban dari Brian, dirinya sudah melipir ke dapur saja untuk mengambil minum.
Tidak lama, Brina sudah membawa satu botol air mineral dan ia lempar tepat pada Brian yang berhasil menangkapnya.
“Lo yang nawarin tapi belum gue jawab, udah diambilin air putih aja,” ucap Brian. Ia langsung membuka dan megak sebotol air mineral tersebut. Rasanya siang ini terasa lebih panas dari kemarin.
"Jadi, siapa cewek itu? Nina?"
Brian langsung tersedak begitu saudara kembarnya itu menyebutkan nama Nina. Ia terkejut, bagaimana bisa Brina tahu jika perempuan yang akan diceritakan dirinya pada Brina adalah Nina.
"Pake acara keselek segala."
"Dari mana lo tau kalo yang mau gue ceritain itu namanya Nina?" tanya Brian dengan mata yang membulat, masih tidak percaya.
Brina terkekeh. Sebelum menjawab pertanyaan Brian, perempuan itu menyempatkan untuk melepas kuncir rambutnya dan mengibaskan rambutnya karena kulit kepalanya mulai terasa berkeringat.
"Rambut lo bau, pantes aja nggak ada cowok yang mau sama lo," celetuk Brian asal padahal dari jarak tiga meter pun wangi rambut dari Brina dapat tercium oleh siapapun. Brian terkekeh kemudian ketika ia mengacak rambut Brina. "Rambut mulu dirawat, noh hati disembuhin biar bisa nerima cowok lain!" celetuknya. Bria berkata seperti itu karena Brina juga pernah ada masalah dengan seorang laki-laki yang membuatnya belum bisa untuk membuka hati. Ketika SMA, di saat Brian digandrungi banyak remaja perempuan, Brina justru dibully habis-habisan oleh remaja laki-laki di sekolahnya di mana Brian tidak mengetahui tentang pembullyan itu sampai akhirnya Brina menceritakan semuanya setelah lulus SMA. Hal itu lah yang membuat Brina belum bisa membuka hati untuk siapapun dan ia tetap membatasi diri bersosialisasi dengan laki-laki kecuali memang ada hal yang penting seperti rapat organisasi.
"Lo jangan bahas masa lalu atau leher lo gue potong!" celetuk Brina yang merapikan rambutnya dengan menguncirnya lagi.
"Lagian, tau tukang bully kok disukai. Makin dibully lo."
"Bisa diem nggak!" Brina sudah kesal saja. Ia hampir masuk ke dalam kamar namun tangannya ditahan oleh Brian.
"Mau kemana sih, Brin? Kasih tau dulu Nina itu siapa? Kok lo bisa kenal?"
Brina menepis genggaman tangan saudara kembarnya itu. "Bodo amat!" Kemudian ia langsung masuk ke dalam kamar tanpa mempedulikan Brian yang masih duduk di sana.
Bukannya Brian tidak prihatin dengan Brina. Yang Brian pikir, jika dirinya terlalu prihatin pada saudara kembarnya itu, yang ada Brina malah nyaman dalam kurungan rasa traumanya. Brian juga ingin melihat Brina bisa jalan dengan laki-laki lain selain dirinya. Brian juga ingin melihat Brina bahagia dengan orang yang ia cinta tanpa embel-embel kebohongan seperti hubungan asmara Brian dan Brina selama ini. Brian ingin Brina mempunyai pacar yang benar-benar bisa menjaganya dan mengobati luka lama saudara kembarnya itu.
Brian pun memutuskan untuk bangkit dari duduknya. Ia menuju kamar Brina dan langsung masuk saja karena pintu tidak ditutup dengan rapat. Brian bisa melihat Brina yang sudah berbaring di atas ranjang dengan seluruh tubuhnya yang ia tutup dengan selimut. Laki-laki itu akhirnya duduk di ujung ranjang sambil mengusap kepala Brina. "Maafin gue ya, Dek," ucapnya perlahan. Bagaimana pun juga ia tidak mau kalau sampai penghuni kost di sini curiga dengan hubungan mereka berdua yang ternyata adalah saudara kembar.
Brina menyibakkan selimutnya dengan kasar. Ia langsung duduk dan menatap Brian dengan kesal.
"Apa?" tanya Brian yang ditatap seperti itu oleh Brina.
"Beliin rujak di depan dong!"
Tidak tanggung-tanggung, mata Brian berhasil membulat dan ia langsung berdiri begitu mendengar permintaan Brina.
"Ogah! Nyuruh-"
"Sssttttt! Diam b**o!"
Brian langsung menutup mulutnya. Ia kembali duduk di ujung ranjang. "Lo sih, ngapain juga nyuruh-nyuruh gue!"
"Ya elo sih udah bikin gue kesel. Kan gue udah bilang kalo nggak usah bahas masa lalu, biarin gue lupain semuanya secara perlahan. Jadi jangan dibahas lagi!" Brina memberikan lirikan tajamnya.
"Tapi ya, Brin. Apa ini ada hubungannya sama status kita yang pacaran, jadi nggak ada cowok yang mau deketin lo?"
"Ye! Enak aja! Banyak tau cowok yang deketin gue, apalagi anak-anak BEM."
"Ya tau gitu, kenapa nggak lo pacarin aja?"
"Lah, lo siapa nyuruh-nyuruh gue?"
Brian memegang dahi Brina, berlaga mengecek suhu badannya. "Inget aja, gue itu abang lo!"
"Sekaligus pacar bohongan gue." Perkataam Brina sebenarnya berniat untuk memberi kode pada Brian. Perempuan itu juga merasa bahwa sudah cukup lama mereka berdua ada dalam kebohongan ini. Seharusnya sebagai laki-laki dewasa, Brian bisa menyelesaikan masalah-masalah yang ada dalam kehidupannya terutama mengenai banyak mahasiswi yang menggodanya.
Brian sadar betul jika Brina sedang memberinya kode. Sepertinya laki-laki itu juga sadar jika Brina mulai lelah dengan status mereka sebagai sepasang kekasih. Walau Brina belum bisa membuka hati untuk laki-laki di luar sana, tetapi Brian yakin jika status mereka sudah bukan sepasang kekasih yang pasti lebih banyak lagi laki-laki yang mendekati Brina, karena memang Brian akui jika Brina itu juga cantik seperti dirinya yang juga tampan. Barangkali setelah putus dan Brina banyak didekati laki-laki lain, saudara kembarnya itu bisa membuka hati dan akhirnya memiliki kekasih yang sesungguhnya.
"Brin," panggil Brian dengan tenang. "Apa kita putus aja ya?" katanya memberikan ide, tetapi langsung dibantah oleh Brina.
"Kok putus? Kenapa?" tanyanya dengan suara sedikit keras karena ia pun terkejut dengan ucapan Brian.
"Ya kayaknya kita udah terlalu jauh nggak sih?" Hal ini sebenarnya sudah Brian pikirkan sejak lama, hanya saja memang dirinya belum berani untuk melepas statusnya di mata publik menjadi seorang laki-laki tampan yang menjomlo.
"Terlalu jauh gimana, semuanya aman-aman aja seperti biasanya kok." Lalu Brina memincingkan matanya. "Apa semua ini ada hubungannya sama Nina? Apa sekarang lo mulai suka sama Nina?"
“Lo ceritain ke gue deh, Nina yang lo maksud itu Nina yang gue maksud apa bukan.”
Brina mengembuskan napasnya lelah. “Nina rambutnya panjang. Hari ini dia pake kemeja navy sama celana jeans. Sepatu andalannya itu sneakers putih,” kata Brina dengan nada yang malas sekali.
Walau Brina merasa senang juga ketika Brian mulai tertarik dengan mahasiswi yang baru saja ia temui, tetapi dirinya tetap saja belum siap untuk melepas statusnya dengan Brian. Hal tersebut juga harus dipikirkan lebih panjang lagi karena jika mereka berdua putus dan Brian langsung dekat dengan Nina, maka akan mempengaruhi nama baik Brian dan juga Nina, karena Nina sendiri terkenal sangat akrab dengan Brina.
Ketika keduanya saling diam, tiba-tiba ada suara gaduh di luar kamar. Brian dan Brina sudah menduga jika ada penghuni kost lain yang sedang menguping pembicaraan mereka berdua. Jika saja memang benar, semoga dia yang sedang menguping tidak curiga jika hubungan Brian dan Brina bukan hanya sekadar sepasang kekasih.
“Tuh kan, lo sih ngomongnya kenceng-kenceng,” ucap Brian menyalahkan Brina.
“Lah, kan lo yang pengen udahan aja, kok lo takit gitu kalo ketahuan?” Brina semakin kesal saja dengan saudara kembarnya itu. Ia bangkit dari ranjang dan langsung mendorong badan Brian untuk keluar kamar. “Keluar sana, sebelum nimbulin fitnah!”
Setelah Brian berhasil keluar, Brina langsung menutup dan mengunci pintu kamarnya. Bodo amat ia meninggalkan Brian di luar kamarnya sendirian dan bodo amat pula jika Brian akan digoda oleh penghuni kost baik yang nampak maupun tidak. Pokoknya ia sedang kesal karena Brian tiba-tiba meminta untuk mengakhiri semuanya, padahal dirinya belum siap jikalau cowok-cowok satu organisasi dengannya mendekatinya bukan karena kepentingan proker, tetapi ingin mendekati sebagai laki-laki dan perempuan.
Brian masih berdiri di sana. Ia masih ingin berbicara dengan Brina. Ia mulai mengetuk pintu kamar Brina.
Tok ... tok ... tok
“Brina, buka pintunya dulu. Aku perlu ngomong,” ucap Brian dengan nada yang berbeda. Bagaimana pun juga di sini adalah tempat umum, di mana Brian adalah kekasih dari Brina. “Ayo, Brina. Buka dulu. Kita omongin ini sekali lagi.”
Bukannya pintu kamar Brina yang terbuka, tetapi pintu kamar sebelah Brina lah yang terbuka. Kemudian, satu kepala muncul di baliknya. “Brian lagi ada masalah ya sama Brina?” tanyanya dengan sangat ingin tahu yang membuat Brian hanya bisa sebal dalam hati.
“Brina, ayolah ....” Brian masih berusaha untuk membujuk Brina agar keluar dari kamarnya.
“Inget ya, Mas Brian. Di kost ini dilarang masuk ke kamar bagi tamu cowok. Nanti tak bilangin ibu kost terus Brina bisa di denda lima puluh ribu lho,” celetuk perempuan yang masih berada di balik pintu kamarnya dan hanya memunculkan kepalanya. Jujur saja Brian merasa risih dengan ekspresi centil perempuan itu.
“Brin, kalo gitu aku balik dulu ya. Nanti kita bicarain lagi.” Kemudian Brian memilih untuk pergi dari sana saja. Selain dirinya sudah merasa tidak nyaman, membujuk saudara kembarnya ketika sedang kesal juga merupakan sebuah tantangan yang cukup sulit untuk ditaklukkan. Terkadang Brian harus membelikannya banyak es krim dan coklat. Pantas saja jika semua mahasiswa yang mengetahui hubungan mereka berdua selalu mengelu-elukan Brian adalah sosok yang sangat perhatian dan merupakan b***k cintanya Brina.