Penasaran Lagi

1167 Kata
Resya masih mengintip Levin dari dalam ruangannya. Satu ruangan yang telah disiapkan khusus untuknya selama bekerja membantu Nasya. Resya akan membantu Nasya dalam hal pemasaran, untuk masalah pengelolaan untuk sementara masih dipegang Nasya dengan dibantu staff senior kepercayaan sang suami terdahulu. Di luar Levin duduk sambil membaca koran. Beberapa staf yang lewat sempat mengajaknya berkenalan dan Levin tetap tidak peduli. Pemuda itu masih menunjukkan sikap dinginnya dan tidak banyak bicara. Sementara Resya hanya tersenyum melihatnya. Ia geli melihat perilaku para gadis yang mencoba menggoda Levin, tetapi tidak ada tanggapan. Dari balik kaca Resya masih terus mengawasi Levin. Gadis itu masih penasaran dengan Levin bagaimana cara pemuda tersebut berbicara dengan gadis lain. Hal itu membuat Resya terus saja tertawa melihatnya. Ia membuka pintu dan memanggil Levin untuk masuk ke dalam. Resya beralasan membutuhkan bantuan Levin. Pemuda itu menurut saja dan masuk ke dalam. Seperti biasa Levin tetap tidak berekspresi dan tidak banyak bicara. “Duduk.” Resya menyuruh Levin duduk. “Apa ada hal penting?” Levin melihat keadaan ruangan Resya baik-baik saja, tidak ada hal aneh atau mencurigakan lainnya. Ia juga melihat meja Resya masih bersih. Laptop pun masih tertutup rapat. Hal itu pertanda jika Resya belum memulai aktivitas apa pun di dalam ruangannya. “Kamu di sini untuk apa?” “Untuk mengawasi Nona.” “Lantas kenapa di luar tebar pesona dengan karyawan di sini?” “Tebar pesona?” Levin kembali mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Beberapa karyawan mendekat dan mengajaknya berkenalan. “Itu bukan kemauanku, mereka yang mendekatiku.” “Ingat, ya! Kamu di sini untuk mengawasi keadaan sekita bukan untuk main-main.” “Dari dulu saya tidak pernah main-main, Nona saja yang selalu bermain-main dan tidak pernah serius.” Levin melempar pandangan ke arah meja yang masih rapi. Tumpukan berkas sama sekali belum tersentuh. Terlihat dari rapinya dokumen yang masih tertata rapi. Resya merasa Levin menyindirnya. Gadis itu mulai salah tingkah dengan apa yang dikatakan Levin kepadanya. Harusnya ia yang menekan Levin. Bukan malah sebaliknya. “Kamu duduk di sini. Jangan ke mana-mana!” “Kalau saya di sini, bagaimana saya bisa mengawasi keadaan Nona?” “Kamu cukup mengawasiku, bukan yang lain!” Resya langsung beranjak dan kembali ke duduknya. Resya mulai menghidupkan laptopnya dan membuka berkas yang diberikan sekretaris Nasya.Gadis itu terlihat serius membacanya. Ia juga tidak ingin dianggap remeh Levin tidak mampu melakukan pekerjaan yang diberikan kepadanya. Ia hanya ingin membuktikan kepada bodyguardnya jika dirinya bukan gadis manja yang hanya menggantungkan hidupnya kepada Nasya. Ia juga bisa mandiri dan bekerja. Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa Nasya telah selesai menginput beberapa laporan yang akan ia kirimkan kepada Nasya. Semua file telah ia siapkan untuk bahan diskusi bersama Nasya untuk kemajuan usaha mereka. Perlahan Resya yakin jika Nasya akan terlepas dari bantuan Vano perlahan. Resya yang akan menjadi partner Nasya untuk melakukan semuanya. Karena ia tidak ingin lelaki itu kembali ikut campur dalam usaha peninggalan ayahnya. Sejak pagi Resya merasa aman karena tidak melihat Vano bersama Nasya. Setidaknya hal itu membuat Resya lebih semangat bekerja. Jangan sampai moodnya hancur karena kehadiran lelaki yang tidak disukainya. “Nona mau ke mana?” tanya Levin saat melihat Reysa mau keluar ruangan. “Mau ke ruangan Mami. Kenapa? Mau ikut?” “Bukan. Saat jam makan siang saya mau izin keluar sebentar untuk melihat keadaan Mama yang sedang therapy di rumah sakit. Kebetulan tempatnya di daerah sekitar sini.” Pikiran Resya langsung tertuju pada wanita yang pernah begitu histeris melihatnya. Sorot mata dan tatapan yang kosong membuat Resya kembali tertarik lagi. Padahal beberapa hari yang lalu Resya merasa tidak mau lagi penasaran dengan kehidupan Levin dan keluarganya. “Aku ikut! Aku akan menemui Mami dan 30 menit lagi aku akan kembali dan ikut bersamamu.” “Tapi, bagaimana bisa. Nona harus bekerja. Aku hanya izin sebentar saja.” Levin merasa tidak enak jika Resya mengikutinya. Apa lagi jika sampai sang mama melihat Resya dan bisa semakin tidak terkendali. “Bukankah kamu yang bilang kalau kamu itu bodyguardku. Jadi sudah seharusnya kamu selalu mengikutiku dan setiap ada kamu pasti ada aku.” “Tapi ...” “Enggak ada kata nolak. Kamu tetap di sini menunggu sampai aku kembali.” Resya langsung keluar meninggalkan Levin. Pemuda itu bingung bagiamana harus pergi mengunjungi mamanya yang tengah terapi. Gadis itu begitu keras kepala hingga membuat Levin memang tidak bisa melawannya. Ada saatnya ia harus menurut dan tidak bisa berkutik sebagai seseorang yang bertanggung jawab atas keselamatan Resya. Setelah dipikir apa yang dibilang Resya memang benar, Levin tidak bisa meninggalkan Resya sedetik pun. Jika sesuatu hal terjadi, Levinlah orang pertama yang menjadi penanggung jawabnya. “Baiklah, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku memang harus mengajaknya. Semoga saja Mama tidak mengamuk lagi seperti waktu itu.” Levin berbicara pada diri sendiri. Levin mengirim pesan kepada penjaga mamanya untuk memastikan jika mamanya memang sedang ada jadwal untuk terapi di rumah sakit. Setalah mendapat balasan, Levin bersiap untuk pergi setelah Resya kembali dari ruangan Nasya. *** Levin masih menggenggam tangan wanita berambut pirang di depannya. Tatapannya masih kosong sebelum melakukan jadwal terapi. Levin sengaja mengunjungi mamanya untuk memberi semangat agar wanita itu tetap semangat untuk bisa kembali normal lagi. Ketidakstabilan emosi yang sering meledak-ledak membuat Levin harus mengeluarkan biaya cukup banyak untuk kesehatan mamanya. Ia ingin hidup normal seperti keluarga lainnya. Apalagi akhir-akhir ini wanita itu sering tiba-tiba mengamuk tidak jelas. Saat mendengar kabar dari penjaga mamanya membuat Levin semakin khawatir. Oleh karena itu saat mendapat pesan jika terapi sang mama berada dekat dengan lokasinya Levin langsung berinisiatif menemuinya. Ayahnya yang telah berpisah dengan mamanya sejak Levin kecil tidak pernah peduli lagi dengan keadaan mereka. Lelaki itu terkadang hanya memberikan uang untuk biaya pendidikan Levin waktu itu dan selebihnya Levin hidup dari belas kasihan keluarga mamanya. Hingga Levin berhasil lulus dan memiliki penghasilan sendiri ia mulai mencukupi semua kebutuhan mamanya sendiri. Mulai dari makan dan pengobatan. Ia merasa cukup mampu dengan gaji yang Nasya berikan kepadanya. Hanya saja intensitas kebersamaan sang mama mulai berkurang. Levin harus merelakan waktunya lebih banyak bersama Resya hanya untuk biaya sang mama. “Ma, mama baik-baik saja. Levin selalu berdoa buat Mama.” Levin mencium punggung tangan sang mama. Mamanya masih belum merespon Levin. Pandangannya masih tertuju pada Resya yang berada di jauh. Wanita itu seolah melihat keberadaan Resya dan membuatnya mengepalkan tangan. Levin sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada mamanya. Ia terus berusaha berbicara hingga akhirnya mamanya mau melihatnya saat berpamitan pulang. “Kamu besok malam pulang ke rumah, ya?” Suara pelan itu terdengar bergetar. Levin mengangguk dan mengusap pelupuk matanya. Mendengar suara mamanya membuat pemuda itu senang. “Baik, Ma. Levin pasti pulang. Kita makan malam bersama dan Levin akan merawat Mama.” Wanita itu mengangguk melihat Levin. Pemuda itu berpamitan dan perlahan pergi meninggalkan mamanya. Resya yang melihat dari kejauhan merasa ada yang aneh. Ia sengaja bersembunyi di balik tiang saat mamanya Levin melihat ke arahnya. Ia tahu jika wanita itu tahu keberadaannya. Resya memilih bersembunyi agar mamanya levin tidak begitu histeris dan membuat Levin semakin bersedih melihat keadaannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN