Bukan Wanita Lemah

1417 Kata
"SAH" Satu kata itu menghalalkan hubunganku dengan Kenzie. Sekarang, Pria itu sudah sah menjadi suamiku. Mataku melirik Kenzie diam-diam. Wajah tampannya terlihat muram. Tak bisa aku pungkiri, pesona Kenzie memang tidak bisa dihindari. Bukan hanya wajahnya saja yang rupawan, tapi postur tubuhnya pun terlihat ideal. Badan Kenzie tinggi tegap dengan tubuh bagian depannya yang bidang dan bahunya yang lebar. Kenzie Mahardika, dia adalah sosok pria sempurna yang pasti dipuja banyak wanita. "Cium tangan suamimu." Suara lembut Rania membuyarkan lamunanku. Buru-buru, aku meraih tangan pria yang sudah sah menjadi suamiku. Tangan Kenzie terasa kaku. Ekspresi wajahnya pun terlihat dingin. Sorot matanya menghujamku, seakan menyalahkan karena sudah sah menjadi istri keduanya. Aku yakin, pria itu menyesal sudah menikahiku. Bibirku tersenyum kecut, tidak ada seorang pun yang bahagia dengan pernikahan ini, termasuk aku dan Rania. Rania Dewantara, Wanita itu begitu rapi menyembunyikan kesedihannya. Di balik senyum manisnya, aku bisa melihat berjuta luka yang dia rasakan. Karena itu, senyum Rania selalu menggangguku. "Pergilah beristirahat. Kalian pasti lelah. Aku sudah menyiapkan kebutuhan kalian di kamar," ucap Rania setelah penghulu dan para saksi pulang. Lagi-lagi, Rania tersenyum. Aku benci melihat senyumannya. Rania membuatku muak. Bodohnya dia, kenapa harus tersenyum saat meminta suaminya bermalam dengan wanita lain. Ya. Selain gila, Rania juga bodoh. Dia wanita terbodoh yang pernah aku temui. "Rania..." Kenzie memeluk istrinya dengan erat. Berulang kali, dia mengecupi pucuk kepala istrinya. Membuatku semakin muak. Drama apa yang tengah aku lihat. Kedua pasangan itu membuatku jengah. Yang satu pandai menyembunyikan perasaan dan yang satu tidak dapat menahan perasaan. Mereka sungguh menyedihkan. "Ken, sudahlah!." Rania mendorong tubuh suaminya, lalu meraih tanganku dan menyatukannya dengan tangan Kenzie. "Ajak Rea ke kamar. Lewati malam pertama kalian. Aku harap, malam ini akan menjadi malam yang indah untuk kalian." "Baiklah kalau itu yang kamu inginkan. Aku akan menikmati malam pertamaku." Kenzie terdengar marah. Dia menarik tanganku dan menyeretku menuju lantai atas. Sekilas, ku lihat air mata Rania luruh membasahi pipinya. Jalanku tidak beraturan. Kenzie menyeretku dengan kasar. Aku melewati setiap anak tangga dengan lompatan. Pria itu berjalan tanpa sedikitpun mengurangi langkah lebarnya. "Awww!" Aku terpekik saat Kenzie melempar tubuhku ke atas ranjang. Walau mendarat di atas kasur busa yang empuk, tetap saja tubuhku nyeri. "Buka bajumu. Kita selesaikan secepatnya!" perintah Kenzie, tanpa menghiraukan ringisanku sedikit pun. Aku melongo saat pria itu mulai membuka pakaiannya. "Kamu benar-benar akan meniduriku?" Pria itu menyeringai. "Bukankah sudah tugasmu melayaniku? Cepat buka pakaianmu! Aku sudah muak melihatmu." Aku terkekeh mendengar kata-kata Kenzie. Terlihat, rahang pria itu mengeras. "Apa yang kamu tertawakan?" "Kamu," jawabku dengan nada santai. Tubuhku meringsut mendekati kepala ranjang dan menyenderkan punggungku di sana. "Apa ada hal lucu?" Kenzie menaikkan salah satu alisnya. Sepertinya pria itu tersinggung dengan sikapku yang berubah tidak sopan. 'Sopan? Untuk apa bersikap sopan pada pria arogan seperti Kenzie,' batinku mencibir. Aku menatap Kenzie tepat di manik matanya yang hitam. "Kamu yakin merasa muak denganku?" Perlahan, kusingkap gaun malam yang menutupi kaki. Memperlihatkan tungkai kakiku yang putih dan bersih. Terlihat, Kenzie mematung dengan tatapannya yang menghunus tajam ke arahku. "Apa kamu lupa? Rania meminta kita melewati malam indah bersama. Jadi, Bukankah kita seharusnya menikmati malam ini berdua?" ucapku mendesah. Mataku mengedip untuk menggodanya sambil ku sunggingkan senyum nakal untuk memancingnya. Tak lupa, tanganku menarik resleting gaun yang aku pakai hingga tampaklah bagian atas tubuhku yang menggoda. Kenzie tersenyum mencemooh. "Ternyata Rania salah. Dia mengira kamu wanita baik-baik. Tapi, kamu tidak lebih dari wanita penggoda." Aku mencoba tidak terpengaruh dengan kata-kata tajamnya. Ku angkat tubuhku keatas hingga bertumpu di kedua lutut. Sontak, gaun ku melorot dan tersangkut di pinggul. "Tidak ada salahnya menggoda suami sendiri bukan?" desisku manja seraya merangkak ke arahnya. Tanganku hendak menyentuh celananya, tapi dia malah mendorong tubuhku hingga kembali terlempar ke atas ranjang. "Dasar wanita kotor! Aku tidak sudi menitipkan anakku di rahimmu." Secepat kilat, Ken mencekik leherku dengan kuat. Nafasku tersengal-sengal karena cengkramannya. "Le-pas!" Dengan sekuat tenaga, ku dorong tubuh kekar suamiku hingga cengkraman tangannya lepas. "Kamu mau membunuhku?" Wajah Ken merah padam. Dia benar-benar marah. Ah! Aku berurusan dengan pria berbahaya. Perhitunganku meleset. Aku kira Kenzie hanya akan mencaciku tanpa berbuat kasar. "Keluar dari kamarku sekarang juga!" teriaknya. Suaranya menggema memenuhi seluruh ruangan kamar. Aku tersentak. Tubuhku sampai gemetar mendengar teriakannya. Tapi, aku mencoba bersikap tenang dan menyembunyikan ketakutanku. "Jangan berteriak! Rania bisa dengar," ucapku saat berhasil menguasai diri. "Biarkan dia mengira kita melewati malam panas berdua," tukasku seraya turun dari ranjang. "Apa maksudmu?" tanya Kenzie dengan penuh penekanan. Matanya menatapku yang sibuk membenahi pakaian. Aku membalas tatapannya. "Aku hanya mengujimu. Aku juga tidak sudi mengandung anak dari pria berotak kotor yang mudah tergoda oleh wanita liar." Kenzie menautkan alisnya. "Menguji?" Kepalaku mengangguk cepat. Tanganku meraih gelas di atas nakas, lalu ku tenggak isinya. Cekikan Kenzie membuatku kehausan. "Rania hanya menginginkan seorang anak bukan?" tanyaku sambil ku teguk kembali air hingga kandas. Kenzie mengangguk. Ekspresi wajahnya terlihat bingung. Ku simpan gelas di tanganku ke atas meja, lalu bangkit mendekatinya. "Dalam perjanjian kami, aku hanya harus melakukan 4 hal, menikah dengan suami pihak pertama, memberikan anak kepada pihak pertama, tidak berhubungan dengan pria lain selama menjadi istri dari suami pihak pertama dan aku harus segera pergi setelah anak yang aku kandung lahir." Sengaja, ku jeda kata-kataku untuk melihat reaksinya. Kenzie terlihat kaget. Dari reaksinya, Aku yakin dia tidak tahu tentang perjanjian yang sudah aku sepakati dengan Rania. "Diantara keempat hal itu. Tidak satu pun yang menyebutkan aku harus melayanimu," sambungku. Kenzie mengernyit. "Apa maksudmu?" "Aku ingin kita saling membantu," jawabku tanpa ragu. " Kamu harus membantuku memenuhi semua kewajiban ku dan aku akan membantumu untuk bisa menjaga kesetiaan mu pada istrimu. Aku ingin kita bekerjasama." "Aku tidak mengerti." Kenzie terlihat semakin bingung. Ku hembuskan napasku ke atas. Menerbangkan setiap helaian rambut yang menjulur di keningku. "Aku dengar baru-baru ini kalian melakukan program bayi tabung. Tapi, tidak dilanjutkan karena grade embrio yang tidak bagus," ucapku. "Dari mana kamu tahu?" Kenzie memicingkan matanya. Aku terkekeh. "Selain bekerja sebagai pelayan cafe. Aku juga menjadi perawat di RS Pelita Harapan. Salah satu temanku di bidang ginekologi pernah menceritakan tentang kalian kepadaku." Ku perhatikan ekspresi wajah Kenzie yang berubah datar. Sepertinya dia tidak mempercayaiku. "Kita bahkan pernah bertemu beberapa kali. Mungkin kamu tidak ingat, tapi kamu pernah menumpahkan kopi di bajuku." Ingatanku melayang pada kejadian beberapa bulan lalu, saat pertama kali aku melihat Kenzie dan Rania. Pasangan suami istri itu duduk di ruang tunggu sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Ketika aku hendak melewati mereka, tanpa diduga suami wanita itu berdiri dan menumpahkan kopi yang tengah dipegangnya ke bajuku. "Jangan mengarang cerita!" Kenzie meragukanku. "Aku yakin itu kalian," jawabku. Bagaimana mungkin aku lupa dengan wajah tampan Kenzie dan perhatian lembutnya pada Rania yang selalu membuatku iri. "Sudahlah! Itu tidak penting. Yang terpenting sekarang, kamu harus membantuku meyakinkan Rania kalau kita sudah menghabiskan malam berdua," ucapku. Ken menautkan kedua alisnya. "Jangan sampai Rania curiga kita tidak melakukan apapun malam ini. Dia bisa menunda bantuannya untuk melunasi semua hutangku," ujarku. "Mengenai anak. Aku pasti akan menempati janji. Aku ingin memastikan sesuatu lebih dulu. Jadi, aku masih ingin mempertahankan keperawananku." "Maksudmu, malam ini tidak akan terjadi apa-apa?".tanya Kenzie dengan Wajah yang terlihat lebih bersahabat. Aku terkekeh geli. "Sudah terjadi, pergulatan panas saat kamu mencekik leherku," jawabku sarkasme seraya menunjukkan leher yang masih terasa kaku. "Salah mu sendiri bersikap seperti wanita jalanan!" Cibir Kenzie. Raut wajahnya kembali datar. "Sudahlah, lupakan." Aku melenggang pergi ke kamar mandi. Lalu mengambil alat cukur milik Kenzie. Aku kembali ke kamar. Terlihat pria itu masih berdiri di tempatnya. "Berikan tanganmu," pintaku seraya menarik tangan kanan Kenzie. Pria itu hendak menarik kembali tangannya. Namun, aku mencengkeramnya dengan kuat. "Diam!" pintaku. Bibirku menyeringai. "Anggap ini balasan karena kamu hampir membuatku mati kehabisan nafas." SRET! "Awww!" Ken meringis sambil menarik tangannya. "Dasar gila!" bentaknya. "Istrimu lebih gila." Ku tarik kembali tangan Kenzie yang berdarah, lalu ku cecerkan darahnya ke atas sprei dan selimut. "Apa yang kamu lakukan?" tanyanya. "Membuat bukti. Kalau keperawananku sudah hilang." Aku menatap Kenzie seraya terkikik. Dia nampak bingung. Tapi aku tidak peduli. "Obati luka mu sendiri," ucapku seraya menyerahkan pisau cukur ke tangannya. Ken menatapku dengan alisnya yang bertaut. "Aku lelah. Jadi, obati saja lukamu sendiri," ulangku dengan tegas. "Satu lagi! Kamu bebas tidur dimana pun karena ini kamarmu. Asal jangan tidur di sofa. Aku akan tidur di sana." Tanpa menunggu jawaban Kenzie, ku gusur selimut dan bantal, lalu berjalan menuju sofa. Aku membaringkan tubuhku sambil ku bentangkan selimut. Sebelum mataku terpejam, aku bergumam pada diriku sendiri. "Aku bukan wanita lemah yang akan menyerah pada keadaan. Seberat apapun keadaan yang aku hadapi. Pasti ada celah untuk bertahan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN