SM 15 -- Sebuah Harapan

1144 Kata
Suasan malam di Bandung memang sangat damai juga sejuk, apalagi kediaman Abbas yang berada di perkampungan semakin membuat kesejukan itu nyata. Pepohonan yang rindang membuat hembusan angin yang mengadu dengan dedaunan seperti melantunkan sebuah irama. Satu kata yang berada dalam benak Hafiz, nyaman. Apalagi dia menjadi lebih sering ikut berjamaah shalat di Masjid, karena Abbas yang sering ke Masjid disaat libur dari mengajarnya. Selepas shalat Maghrib dan Isya tadi di Masjid, keluarga Safiyya dan tentu dengan Hafiz pula mereka langsung makan malam. Kehangatan begitu ketara ketika mereka sedang makan malam bersama, nampak seperti keluarga sesungguhnya, kedua orang tuan dan juga seorang putri dan sang suami. Khayalan Safiyya ketika makan malam tadi. Selepas makan malam Hafiz memilih terduduk di depan rumah ada sebuah kursi yang memang disediakan oleh Abbas agar mereka bisa bersantai di depan dengan pemandangan pepohonan hijau, sedikit tanaman bunga, dan ada pula beberapa orang yang sering berlalu lalang. “Pak!” Sapa Hafiz dengan kepala yang dia tundukan begitu Abbas keluar dari dalam rumah dan ikut terduduk bersama dengan Hafiz yang dia ketahui sebagai kekasih dari putri semata wayangnya. Abbas tersenyum pula kepada Hafiz, “beginilah suasa di kampung, sepi, sunyi, tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang” ujar Abbas. “Lebih enak seperti ini, Pak. Tenang, tidak bising dengan suara kendaraan, dan gak banyak polusi” sahut Hafiz. Abbas tersenyum dengan kepala yang dia anggukan. “Kamu satu jurusan dengan Fiya?” “Kebetulan kami satu jurusan, Pak!” “Panggil saja Ayah jangan Bapak, biar terlihat lebih akrab” Tidak bisa Hafiz pungkiri bahwa dai merasa bahagia kala mendengar Abbas memintanya untuk memanggil pria paruh baya itu dengan panggilan yang sama seperti Safiyya. “Iya, A-Ayah!” Ucap Hafiz sedikit gugup dan dengan kepala yang dia anggukan dan juga senyum tertahannya. Safiyya dan Mira pun keluar dari dalam rumah dengan nampan yang berisikan dua gelas teh hangat untuk Ayahnya dan juga kekasihnya Hafiz. Sedangkan Mira membawa piring yang berisikan singkong rebus yang wanita paruh baya itu rebus sendiri. “Nah, ini sangat cocok sebagai teman teh hangat di malam hari apalagi cuaca yang begitu dingin seperti ini” celetuk Abbas, membuat mereka semua tersenyum mendengarnya. “Ini loh, camilan favoritnya Ayah” ujar Mira dengan senyum hangat terlukis di wajahnya. “Camilannya Ayah bikin perut kenyang ya!” Sahut Hafiz. “Biar Ibu gak perlu masak nasi banyak-banyak loh!” Cetus Abbas. Mereka semua tertawa dengan obrolan ringan keluarga ini, Safiyya merasa senang karena kedua orang tuanya bisa menerima Hafiz. Sama halnya seperti Safiyya yang diterima di keluarga Hafiz, apalagi melihat kedua orang tua Hafiz yang langsung jatuh hati kepada dirinya. Begitu pula dengan Hafiz yang merasa senang karena Ayah dan Ibu Safiyya begitu ramah, dan menyambut dirinya dengan kehangatan keluarga. Membuatnya semakin ingin cepat lulu kuliah dan melamar Safiiya untuk menjadikan wanita itu sebagai istrinya. Mereka pun masih bercengkrama dengan di selingi oleh tawa di sela-sela obrolan mereka. Apalagi disaat Mira menceritakan tentang masa kecil Safiyya kepada Hafiz, membuat Hafiz semakin dibuat jatuh cinta kepada sang kekasih hati. Hingga tanpa mereka sadari waktu menunjukan pukul sepuluh malam, karena mereka terlalu asik dan larut dalam obrolan yang membuat mereka semakin dekat dan mengenal satu sama lainnya. Karena Hafiz pun sedikit menceritakan tentang keluarganya kepada Ayah dan Ibu Safiyya. Agar Abbas dan Mira bisa mengenal sedikit tentang keluarganya terutama kedua orang tua Hafiz, meskipun mereka belum saling bertemu satu sama lainny. Mungkin lain waktu Hafiz akan mengatur janji agar Ayah, Bundanya bisa bertemu dengan Ayah, Ibu Safiyya. Mira melihat jam yang tertempel di dinding dalam rumah yang terlihat dari luar sini. “Sudah malam ini, ayok masuk, tidur, besok kita lanjut lagi ngobrolnya. Nanti kesiangan shalat Subuhnya” tutur Mira. Abbas menghembuskan nafasnya pasrah dengan keduan tangan pria itu yang memegangi pinggiran kursi. “Ayok masuk, kita harus nurut sama Ibu Negara, kalau nggak besok kalian gak dapat sarapan pagi!” Tutur Abbas membuat Safiyya dan Hafiz tersenyum sumringah mendengarnya. Sedangkan Mira sudah memicingkan matanya melihat sang suami. “Ayok masuk!” Ajak Abbas seraya berdiri dari duduknya, di ikuti oleh Mira, Safiyya dan juag Hafiz. Mereka pun masuk ke kamarnya masing-masing, untuk Hafiz pria itu kaan tidur di kamar tamu yang berada di rumah ini. Meskipun rumah ini terbilang kecil dan sederhana, tetapi Abbas menyiapkan satu kamar khusus untuk tamu yang menginap di rumahnya ini, seperti saat ini. Hafiz merebahkan tubuhnya di atas kasur kamar tamu ini, saat matanya akan terpejam tiba-tiba saja ponselnya berdenting menandakan adanya pesan masuk. Dengan segera Hafiz meraih ponselnya di atas meja yang berada di samping tempat tidur. Bunda ‘Yang lagi ketemu calon mertua, sampai lupa nggak kabarin Bundanya, hm.’ Begitulah kira-kira isi pesan yang di kirimkan oleh Bundanya, Najma. Hafiz menyunggingkan kedua sudut bibirnya kala membaca pesanchat yang di kirimkan oelh sang Bunda, membuat perutnya seperti di gelitik merasa geli. Hafiz pun membalas pesan sang Bunda, karena nampaknya sang Bunda tengah menunggu balasan dari dirinya yang terlihat dari notif di room chatnya bahwa sang Bunda masih online. Me ‘Maaf Bunda, Hafiz lupa kabarin, tadi kita sampai jam satu siang Bun, habis gitu langsung makan siang bareng Ayah dan Ibunya Fiya. Setelah makan siang Hafiz istirahat, jadi lupa belom kabarin Bunda’ Pesan balasan yang Hafis kirimkan kepada sang Bunda. Bunda ‘Syukurlah kalian sampai dengan selamat di sana. Ya sudah, kamu tidur, istirahat. Sampaikan salam Bunda untuk Ayah dan Ibu Fiya ya, Nak. Kamu jangan buat malu di sana!’ Me ‘Siapa Nyonya Prasetyo’ Balasan chat Hafiz kepada sang Bunda, dan di akhirinya dia berikan emot senyum untuk sang Bunda. Suara shalawat menggema di seluruh kampung ini, membuat suasana hangat dan tenang menyapa di jam pagi ini. Abbas dan Mira sudah terbangun lalu keduanya mengetuk pintu kamar anak muda yang masih tertidur nampaknya di dalam sana. Abbas mengetuk pintu kamar tamu yang di huni oleh Hafiz, dan Mira mengetuk pintu kamar putrinya Safiyya. Tanpa harus berlama-lama mereka pun keluar dari dalam kamarnya masing-masing ketika mendengar ketukan dari pintu. “Biar Hafiz dulu yang ke kamar mandi, Hafiz kan ke Masjid sama Ayah” saran Mira dan ya, Hafiz lebih dulu memasuki kamar mandi membersihkan tubuhnya agar lebih segar setelah terbangun dari tidurnya.Setelahnya barulah giliran Safiyya yang akan membersihkan tubuhnya. Setelah rapih Hafiz pun berangkat bersama dengan Abbas menuju Masjid. Untuk Safiyya dan Mira, mereka akan Shalat Subuh di rumah saja, agar setelah itu mereka bisa menyiapkan sarapan untuk Abbas juga Hafiz yang baru pulang dari Masjid. Suasana subuh pagi di sini begitu hangat dan ramai karena untuk kaum Adam, mereka akan melaksanakan Shalat berjamaah di Masjid membuat suasana disini menjadi semakin hangat. Hafiz merasakan ketenangan berada satu hari di rumah Safiyya. Sungguh dia akan mampejuangkan Safiyya dan akan melakukan apa pun demi wanita yang menjadi ratu di hatinya ini. Safiyya membawa energi positif dalam kehidupannya, hadirnya Safiyya benar-benar membuat hidup Hafiz menjadi lebih bermakna. Semoga dia dan Safiyya berjodoh di masa depan nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN