SM 4

1518 Kata
Safiyya dan Zarina sudah berada di Jakarta, di salah satu Universitas favorit di Ibu Kota, ditemani oleh Abbas dan juga Mira untuk mendaftarkan kedua putri mereka masuk ke Universitas ini. Setelah dua hari kemarin Safiyya melakukan tes dan gadis itu sangat beruntung dia lolos tes dan sudah resmi menjadi bagian dari mahasisi baru Universitas ini dengan jurusan Management. Dan Safiyya harus melakukan daftar ulang, dan untuk Zarina dia akan mendaftarkan dirinya menjadi mahasiswi di Universitas ini. Abbas dan Mira datang untuk mendaftarkan putrinya Safiyya dan juga Zarina. "Sudah selesai semuanya, sekarang kita cari kosan untuk kamu dan Zarina nanti tempati" kata Abbas. "Yah, Papa sudah siapkan apartemen untuk aku sama Safiyya tempati selama kita kuliah disini" ucap Zarina. Abbas dan Mira pun saling menatap dan melemparkan senyuman mereka. "Alhamdulillah kalau begitu, jadi Ibu sama Ayah lebih tenang biarin kalian tinggal berdua di Jakarta" ujar Mira, karena Yahya selaku Papa dari Zarina pasti akan memberikan fasilitas yang terbaik untuk putrinya terutama dari segi keamanan. "Ya sudah, kalau begitu Ibu sama Ayah ke apartemen dulu, nginep dulu disini ya, kan gak mungkin Ibu sama Ayah langsung pulang ke Bandung!" Ajak Safiyya, sebenarnya karena Safiyya merindukan kedua orang tuanya, selama dua hari kemarin dirinya berjauhan dengan kedua orang tuanya. "Iya, ayok, ayok, kita ke apartemen kalian dulu!" Sahut Abbas sambil tersenyum. Mereka pun melangkahkan kaki meninggalkan Universitas ini menuju ke apartemen, dengan menaiki taxi online yang sudah di pesan oleh Zarina. Sebenarnya sang Papa Abbas sudah menawarkan putrinya untuk di antar jemput oleh supir, namun Zarina menolaknya karena dia tidak akan bebas jika harus ada supir. Taxi online yang di tumpangi Abbas, Mira, Safiyya, dan Zarina pun sudah tiba di depan gedung mewah menjulang tinggi, ke empatnya keluar dari mobil setelah Abbas membayar ongkos taxi online ini. Mereka berjalan masuk ke dalam gedung, berdiam diri di depan pintu lift yang masih tertutup, ketika pintu terbuka barulah mereka masuk dan Zarina memencet angka dimana kamarnya berada. Setelah terdengar bunyi dentingan, pintu lift pun terbuka lalu mereka keluar dan berjalan menuju pintu bercat coklat tua itu dengan tertempelkan angka 234 di depan pintu. Zarina memasukan beberpa kode agar pintu terbuka, dan setelah pintu terbuka gadis itu pun mempersilahkan Abbas dan Mira untuk masuk lebih dahulu. "Welcome Ayah, Ibu!" Seru Zarina dengan tangan yang dia ayunkan mempersilahkan Abbas dan Mira untuk masuk lebih dahulu. Mira dan Abbas pun menyunggingkan senyuman mereka, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen yang akan menjadi tempat tinggal bagi Safiyya dan Zarina selama beberapa tahun ke depan. . "Assalamualaikum!" Salam kedua orang tua itu ketika mereka masuk ke dalam ruangan. Safiyya dan Zarina pun masuk mengikuti kedua orang tuanya dari belakang, "besar sekali apartemennya, Na?" Ujar Mira ketika dirinya sudah berada di dalam apartemen. "Ibu sama Ayah mau minum apa?" Tanya Zarina. "Memang kamu sudah stock makanan dan minuman di apartemen?" Tanya Mira. Zarina pun memasang cengirannya yang menunjukan deretan gigi putih dan rapih miliknya, gadis itu pun menggelengkan kepalanya, membuat Abbas dan Mira saling menatap satu sama lain. "Eh, dasar Zarineng!" Ledek Safiyya merass gemas dengan sahabatnya ini. "Terus lu nawarin Ibu sama Ayah mau minum apa, maksudnya apa!" Protes Safiyya. "Ya, biar aestetic aja gitu, masa iya gua langsung bawain air putih hehe!" Elak Zarina di akhiri dengan cengiran. "Ya sudah, kita belanja bahan masakan dulu untuk kalian, jadi nanti kalian gak kebanyakan beli makanan di luar, Ayah istirahat saja disini biar Ibu yang antar anak-anak belanja!" Kata Mira. Terdengar helaan nafas dari Safiyya membuat merek bertiga menatap Safiyya heran. "Kenapa, Fiya?" Tanya Abbas. "Hm, Ibu kadang suka aneh deh, Yah. Suruh kita masak buat makan, bukan kita Bu, tapi aku. Mana ada Zarina masak, waktu itu masak telor saja kebingungan dia!" Protes Safiyya, karena nanti pasti dirinya yang akan repot memasak untuk dia dan juga sahabatnya, Zarina. Mira mengulas senyumannya. "Perlahan juga Zarina pasti bisa memasak, kan kalian hanya tinggal berdua disini, jadi nanti kalian akan terbiasa untuk mengurus segala sesuatunya seorang diri" ucap Mira. "Dan, Ibu yakin kalau Zarina bisa masak nanti" tutur sang Ibu membuat Safiyya menggelengkan kepalanya seraya mendudukan dirinya di atas sofa. "Dan aku menunggu hari itu tiba, mungkin saat lulus kuliah nanti dia baru bisa masak!" Sahut Safiyya. "Resek lo!" Gerutu Zarina. "Sudah jangan berantem, kalian berangkat belanja sekarang sana, Ayah mau istirahat sebentar. Kalau masih ada kalian disini, Ayah gak akan bisa istirahat-istitahat ini!" Ujar Abbas. "Ayah isritahat di kamar aja" kata Zarina. "Iya gampang, Ayah mau sambil nonton televisi. Sudah, gih sana berangkat kalian!" Usir Abbas. "Ya sudah, Ibu antar mereka belanja dulu ya, Yah" pamit Mira dan di angguki kepala oleh Abbas. "Assalamualaikum!" Salam Mira, lalu melangkahkan kakinya keluar apartemen di ikuti oleh kedua gadis cantik di belakangnya. "Waalaikumsalam!" Jawab Abbas. Selepas kepergian istri dan anaknya, pria paruh baya itu pun merebahkan tubuhnya di atas sofa, lalu memejamkan matanya. Nampaknya Abbas sangat lelah, karena pria itu langsung terlelap di ata sofa. Safiyya, Zarina dan Mira sudah berada di super market yang berada di samping gedung apartemen, tidak perlu jauh-jauh bagi mereka jika nanti akan berbelanja jiak stock sudah habis, karena super market yang lengkap berada di samping gedung apartemen mereka. Mira membeli dua plastik beras yang berukuran 5kg, membeli beberapa daging, beberapa sayuran, juga bahan-bahan pelengkap lainnya. Mira benar-benar memperhatikan makanan untuk kedua putrinya, karena nanti dia tidak bisa mengawasi keduanya secara langsung, dan yang Mira takuti jika kedua gadis itu akan lebih banyak jajan di luar sana, apalagi Mira sangat mengenal putri-putrinya ini. Keduanya sangat senang jajan, dan mereka bisa sampai lupa untuk makan nasi, karena lebih banyak memakan jajanan di luaran sana. Jadi, sebisa mungkin Mira membelikan mereka stock makanan yang mudah dan tidak memakan waktu banyak ketika memasaknya. Berbeda dengan Mira. Safiyya, dan Zarina justru menghampiri freezer yang berisikan frozen food, dan sudah pasti mereka mengambil berbagai macam jenis frozen food untuk stock keduanya nanti, karena bagi mereka makanan itulah yang lebih praktis dan simple. "Banyak sekali ambil nugget, sosis, sama kentangnya, belum lagi apa itu. Kebiasaan banget kalian ini ya!" Omel Mira kala melihat kedua gadis itu memasukan banyak sekali frozen food yang mereka ambil ke dalam keranjang belanjaan. "Ibu, ini buat camilan kita kalau tengah malam laper kan kita bisa goreng ini buat makan" ujar Safiyya seraya memegangi lengan sang Ibu, berharap ibunya akan luluh. Mira pun hanya bisa menghembuskan nafasnya pasrah dengan kepala yang dia gelengkan. Wanita paruh baya itu pun berjalan kembali menyusuri lorong-lorong yang berjejerkan rak belanjaan. Safiyya dan Zarina pun saling menatap satu sama lain, mereka berdua ber-tos ria dengan raut wajah bahagianya, karena Mira tidak mengambil belanjaan yang mereka ambil. Dua gadis itu pun kembali melanjutkan langkahnya, menyusul sang ibu. Acara belanja mereka pun selesai, cukup banyak sekali yang Mira ambil untuk stock dua gadisnya. Mira benar-benar menyiapkan segala kebutuhan bagi dua gadis itu, mereka kembali ke apartemen dengan masing-masing membawa dua paper bag yang berisikan belanjaan mereka. "Alhamdulullah, sampai juga!" Ucap Mira, sepertinya wanita paruh baya itu merasa lelah. Mira mendudukan dirinya di sofa single yang berada di ruangan ini "Akhirnya, capek banget!" Keluh Zarina seraya mendudukan dirinya di atas karpet begitu pun dengan Safiyya yang juga mendudukan dirinya di samping Zarina. Karena di sofa panjang sana di tempati oleh Abbas yang masih tertidur. "Ayah, tidurnya nyenyak banget" ucap Safiyya dengan mata yang menatap Abbas di ikuti oleh Mira dan juga Zarina yang menatap pria paruh baya yang masih tertidur dengan pulas di atas sofa. "Aku sudah bilang biar istirahat di kamar, malah di sofa. Nanti badan Ayah pegel-pegel itu!" Timpal Zarina. "Kayanya Ayah kecapean, biasanya kalau kecapean banget pasti Ayah langsung tidur nyenyak gitu, gak kenal tempat" kata Safiyya dan di angguki kepala oleh Zarina. Kedua gadis itu sangat mengenal Abbas dengan baik, begitu pula terhadap Mira. Mereka sangat mengenali kedua orang tuanya. Mira hanya tersenyum melihat dan mendengar interaksi kedua gadisnya itu, meskipun Safiyya dan Zarina tidak memiliki hubungan darah, namun keduanya memiliki ikatan layaknya seorang saudara kandung, kekompakan mereka, kasih sayang mereka terhadap dirinya dan sang suami tidak perlu di tanyakan lagi. Mira hanya bisa mendoakan agar kedua gadisnya ini bisa terus rukun dan selalu kompak seperti saat ini hingga sampai keduanya memiliki pasangan hidup masing-masing nanti. "Ya sudah, kalian istirahat juga, pasti kalian pun capek kan!" Tutur Mira, setelahnya wanita paruh baya itu pun beranjak dari duduknya dan mengambil paper bag yang berisikan belanjaan yang tadi dia bawa. "Loh, ibu mau kemana?" Tanya Safiyya yang melihat ibunya berdiri. "Ibu mau simpan belanjaan dulu ke dapur, habis gitu ibu juga mau istirahat sebentar!" jawabnya membuat Safiyya pun berdiri dan mengambil paper bag lainnya yang berisikan belanjaan. "Aku saja yang simpan di dapur, biar Ibu istirahat saja, dari tadi Ibu belum istirahat kan!" Mira pun tersenyum. "Ibu pas istirahat, tapi setelah Ibu simpan paper bagnya di dapur" sahut Mira sambil tersenyum manis pada Safiyya. Ya, begitulah Mira yang tidak akan diam begitu saja, sedikit keras kepala memang jika Mira. Dan Safiyya pun sama halnya dengan Mira yang sedikit keras kepala. Jangan tanyaka soal Zarina, karena gadis itu sudah tertidur dengan lelap di atas karpet, Safiyya memiliki panggilan khusus untuk Zarina, yaitu si PeLor a.k.a Nempel Molor. Begitulah julukan Zarina yang di berikan oleh Safiyya, sahabatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN