Hari ini Andra menghadiri acara ulang tahun salah satu teman SMA-nya di salah satu night club. Ia berbicara dengan jujur pada Renata kemana ia akan pergi. Ia menangkap raut wajah cemas istrinya tersebut, namun ia meyakinkan istrinya ia tidak akan berbuat macam-macam dan berjanji akan pulang di bawah jam sebelas malam. Andra pun pergi meninggalkan Renata dengan sejuta kecemasan yang melingkupi hati istrinya. Istri mana yang tidak cemas level dewa jika suaminya pergi ke night club? Bisa-bisa suaminya pulang membawa istri baru. Selama di perjalanan, Andra tersenyum mengingat bagaimana cemasnya Renata saat ia mengatakan akan pergi ke night club. "Kamu pergi ke sana mau ngapain? Kenapa harus di night club sih? Kamu gak akan berbuat macam-macam kan? Jangan pulang malam ya" Rentetan pertanyaan yang di ajukan Renata membuatnya tersenyum. Sebenarnya ia menyukai sikap khawatir Renata. Itu artinya Renata sudah benar-benar sayang padanya. Entah mengapa hal itu membuatnya merasa senang.
Sampai di tempat tujuannya, Andra langsung memarkikan Mercy ke sayangannya tersebut. Ia masuk ke dalam night club tersebut sambil menunjukkan undangan ulang tahun temannya agar dapat masuk dengan free access. "Nah lihat siapa yang datang?" tepukan hangat di pundaknya menyambut kedatangan Andra. "Wah gimana kabar pengantin baru?Aku kira kamu asyik berduaan dengan istrimu di rumah" goda salah seorang temannya. "Heh, istrimu tidak akan marah'kan? Bisa-bisa nanti kamu tidur di teras" dan semua yang ada di sana terbahak-bahak mendengarnya. Termasuk Andra. Ia bahkan tidak bisa membayangkan Renata marah padanya dan menghukumnya dengan tidur di teras dan berakhir dengan penyakit demam berdarah karena di gigit nyamuk sana sini. "Nggak, dia nggak akan marah kok. Aku juga jujur padanya kemana tujuanku" ucapnya santai sambil mengambil minuman dari seorang waitress yang mondar mandir membawakan minum di atas nampan. "Eh, aku juga undang Levia loh, ingat kan? Cewek incaranmu saat kita kelas satu" Rakha, temannya yang berulang tahun hari ini menyikutnya. "Terus?" tanya Andra seakan tidak ada apapun yang terjadi. "Levia makin cantik loh" ucap Rakha sambil tersenyum lebar. "Heh, jangan gitu, Andra masih pengantin baru" ujar temannya yang lain.
Andra pun tak sengaja melihat Levia yang tengah berdiri di hadapannya sambil berbicara dengan temannya yang lain. "Itu, yang pakai midi dress warna silver itu?" tanya Andra sambil menunjuk Levia. "Apa aku duga, pasti anak ini masih ingat Levia rupanya seperti apa" ucap temannya. "Ah biasa aja sih" ucap Andra datar. Masih lebih cantik Renata pujinya dalam hati sambil tetap menatap Levia. Lagi-lagi ia memuji istrinya yang tengah khawatir menunggu dirinya untuk pulang di rumah. Sebenarnya aku kenapa sih? Tanya Andra pada dirinya sendiri. Di sisi lain ia membenci Renata karena ia menganggap wanita yang satu itu sudah menggangu urusan pribadinya, di sisi lain ia tidak dapat berbohong bahwa Renata itu cantik dan sangat perhatian terhadapnya.
Pesta ulang tahun Rakha berlangsung makin meriah. Semakin malam, semakin meriah. Andra yang biasanya enggan untuk sembarangan minum saat berada di night club, malam ini seakan tidak peduli dengan jenis minuman yang ia teguk. Ia meminum beberapa gelas minuman beralkohol. Andra pun berakhir mabuk. Melihat temannya yang sudah tidak sadarkan diri, Rakha menyuruh dua orang temannya yang juga hendak pulang untuk mengantarkan Andra pulang. Setelah memastikan Andra membawa kendaraan, salah satu temannya berinisiatif untuk menyetir dan mengantar Andra pulang sampai ke rumah, sedangkan temannya satu lagi menyusul dengan mobil lain.
Renata sedari tadi cemas karena Andra tidak ada kabar. Sudah hampir pukul sebelas dan Andra belum juga pulang. Sebenarnya yang menjadi masalah besar adalah tujuan Andra pergi. Night club, kalau saja Andra pergi ke restoran atau cafe mungkin Renata masih bisa bernapas lega. Night club? Jangan harap bisa bernapas lega, minum air putih saja rasanya pahit sekali. Tak lama, Renata mendengar adanya ketukan pintu. Ia mengintip dari jendela kamarnya dan mendapat ada tiga orang pria yang berada di depan pintu. Renata mengambil cardigan tipis untuk menutupi tubuhnya yang hanya berbalut daster tidur tipis –dan sebenarnya seksi- pemberian Davina, dan kemudian turun ke bawah. Saat ia membuka pintu, ia mendapat suaminya bergumam tidak jelas sambil di papah oleh kedua temannya.
Tanpa pikir panjang, Renata menyuruh kedua teman suaminya tersebut untuk langsung mengantarkan Andra ke kamar mereka. Setelahnya, ia berterima kasih kepada dua orang pria tersebut dan mengantarkan mereka sampai pintu gerbang. Renata masuk kembali kedalam kamar. Ia melepas cardigan yang ia pakai dan melepaskan sepatu Andra yang masih menyangkut di kaki suaminya itu. Ia juga melonggarkan ikat pinggang Andra agar suaminya tersebut lebih mudah bernapas. Dengan hati-hati ia melepaskan kancing kemeja teratas agar Andra tidak merasa sesak napas. Dengan tingkat kesadaran yang rendah, Andra menatap istrinya tersebut. Daster tipis dengan pundak terbuka dan belahan d**a rendah tersebut jelas mengundang nafsunya sebagai pria dewasa yang normal.
Dengan pikiran yang sudah tidak jernih lagi, Andra menarik lengan Renata yang hendak beranjak mengambil lap basah untuk membasuh wajahnya. Renata kaget melihat reaksi suaminya. Belum sempat ia bertanya, Andra sudah membungkam bibirnya dengan bibir Andra. Di dukung dengan suasana kamar yang remang-remang, Andra melakukannya tanpa sadar dan semuanya mengalir begitu saja.
Renata merasa pegal di sekujur tubuhnya. Ia melirik jam dinding kamarnya, waktu menunjukkana pukul setengah enam pagi. Kedua matanya kontan terbuka lebar. "Aduh! Aku kan harus mencuci pakaian!" sesal Renata. Namun ia tidak dapat mengelak rasa pegal di sekujur tubuhnya. Sedetik kemudian ia tersadar, ia tertidur tanpa sehelai kain pun. Tubuhnya hanya terbalut selimut tebal berwarna putihnya. Ia merasakan tangan besar memeluknya dari belakang layaknya ia adalah sebuah guling. Renata menoleh mendapati Andra tertidur pulas dengan keadaan sama sepertinya : tidur tanpa sehelai benang pun. Oh Tuhan apa yang terjadi semalam? Renata mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi malam sebelumnya. Andra pulang dalam keadaan mabuk. Hanya itulah yang Renata ingat. Pelan-pelan, ia melepaskan tangan Andra yang melingkar mesra di sekeliling tubuhnya. Sambil mencoba menahan rasa nyeri di bawah perutnya, Renata memungut dasternya dan memakainya kembali. Ia segera mengambil handuknya dan masuk ke kamar mandi.
Andra terbangun dengan rasa pusing yang luar biasa. Belum pernah ia merasakan pusing seperti ini. Andra menoleh ke sebelah kiri dan mendapati Renata sudah tidak ada. Namun ia tersentak mengetahui ia tidur tanpa sehelai kain pun. Andra benar-benar tidak dapat mengingat apapun yang terjadi. Ia akan selalu merasa pusing saat mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Kedua mata Andra terbelakak saat menyadari adanya noda di sprei tepat di sisi Renata biasa tidur.