DUA BELAS

955 Kata
Renata menyiapkan kopi untuk suaminya pagi ini. Karena terlalu lelah dengan semua tumpukan pekerjaannya, Renata akhirnya memaksakan diri untuk bangun dan menyiapkan sarapan untuk ia dan suaminya. "Nyonya kalo masih ngantuk biar saya aja yang siapin semua" ucap Mbak Siti. Meskipun sudah mandi, Renata masih terlihat lelah dan mengantuk. Namun ia tetap ingin membuat sarapan untuk suaminya tercinta. Dengan gerakan pelan dan terus di awasi oleh Mbak Siti, Renata membuat kopi dan teh manis untuknya dan Andra yang sekarang tengah bersiap-siap untuk ke kantor. Setelah semuanya siap, Renata naik ke lantai atas untuk memanggil suaminya. Tanpa menunggu Andra turun, ia lebih dulu turun ke meja makan.  Andra langsung duduk dan menyeruput kopi favoritnya setiap pagi. Baru seruput sedikit Andra langsung menyemburkan kembali kopi yang di buat istrinya itu. "Kopi apaan ini?" tanya Andra dengan nada marah. "Kamu berniat meracuni aku ya?" Andra mengelap bibirnya sambil menatap Renata marah. Istrinya yang tadinya mengantuk sontak kaget dan menatap Andra. "Kenapa?" tanya Renata lemah. Ia benar-benar lelah dan butuh lebih banyak istirahat. "Kopi yang kamu buat ini! Hampir membuat aku mati tahu! Mana ada kopi rasanya asin begini?!" sergah Andra dengan amarah yang memuncak. "Kamu ini keterlaluan ya! Selalu saja buat masalah!" ucap Andra kesal dan mengambil sepotong roti dengan kasar lalu memakannya.  Aku memang selalu salah . . . di mata mu gumamnya dalam hati sambil menghela anaps pasrah. Rasanya ia sudah sangat lelah dengan semua yang terjadi. Pekerjaan yang menumpuk, Andra yang selalu marah padanya, belum lagi tubuhnya terasa lebih ringkih dan juga lebih gampang lelah akhir-akhir ini. "Kamu dengar gak apa kataku?" tanya Andra dengan nada marah. Renata langsung menengok. "Kamu-selalu-salah!" tegas Andra. "Mbak Siti, buang saja kopinya" suruh Andra pada pembantunya. Tanpa bertanya apapun, Mbak Siti langsung mengangkat cangkir kopi Andra dan langsung ia buang kopi tersebut, lalu mencuci cangkir itu kembali. "Lain kali kalau kamu memang tidak becus jangan sok!" Andra meninggalkan Renata dengan wajah pucat pasinya. Andra tidak mempedulikan kondisi istrinya tersebut.  "Nyonya tidak apa-apa?" tanya Mbak Siti perhatian setelah memastikan Andra pergi. "iya, saya nggak apa-apa kok" jawab Renata sambil tersenyum tipis. "Nyonya kelihatannya lelah sekali. Mau saya buatkan teh? Biar nyonya jadi lebih segar?" tawar Mbak Siti. "Sepertinya saya hari ini istirahat saja. Saya butuh istirahat, pekerjaan di kantor banyak banget" jawab Renata. "Mbak Siti tolong masak dan handle pekerjaan rumah ya, maaf saya tidak bisa membantu" ucap Renata berdiri dan kursi makannya. "Baik, tenang saja nyonya jangan khawatir! Sekarang nyonya istirahat saja" Mbak Siti membantu Renata untuk kembali ke kamar karena kondisinya yang tidak memungkinkan untuk berjalan sendiri ke kamarnya.                                                                    *** "Baru kita pasang iklan seminggu sudah ada yang melamar" ucap Reno. "Baguslah kalau begitu. Kita bisa mulai menyaring dan mencari karyawan yang tepat dan bisa di percaya untuk kita pekerjakan" ucap Rino. "Kemana Renata?" tanya Rino pada saudara kembarnya. "Sakit, dia kelelahan karena memang pekerjaannya yang menumpuk" jawab Reno. Oh tentu saja Renata tidak berniat sedikit pun menceritakan tentang kejadian saat sarapan pagi tadi. "Ini ada dua puluh orang pelamar, kita saring menjadi sepuluh, lalu lima lalu dua lalu satu. Nah yang satu itu yang terbaik dan akan kita pekerjakan" ucap Reno. "Baiklah serahkan data-data mereka ke bagian HRD, aku mau pergi makan siang dengan pacarku" ucap Reno sambil meninggalkan ruang kerja adiknya. "Mentang-mentang sudah punya pacar, seenaknya sekali kalau mau makan siang berdua begini" keluh Rino yang sampai sekarang masih sendiri itu.            Andra tengah serius memperhatikan desain-desain furnitur yang sudah di kerjakan oleh para desainer furnitur yang ia pekerjakan. Desain yang sudah di kaji dan di uji melalui proses prototyping ini akan segera di produksi dan di jual sebagai seri terbaru perusahaan furnitur milik keluarganya. Perusahaan keluarga istrinya bergerak di bagian bahan penyedia kebutuhan pembuatan furnitur perusahaannya. Dan karena itulah ia dan Renata di jodohkan. Namun santer terdengar, perusahaan istrinya ingin mengeluarkan jasa baru, yaitu membuat furnitur, sama seperti perusahaannya. Bersaing? Hal itu terdengar konyol di telinga Andra, namun siapa tahu hal itu mungkin saja terjadi? Saat Andra mendengar ketukan pintu, ia menyuruh siapa pun yang ada di balik pintu tersebut untuk masuk. "Pak ini saya berikan laporan keuangan penjualan bulan ini" seorang wanita muda menyerahkan map kertas berwarna merah pada Andra. Ia menerimanya dan memeriksanya dengan teliti."Menurut kamu benar ini laporannya?" tanya Andra sambil mendengus kesal. Karyawan wanitanya hanya mengangguk. Tanpa di duga, Andra melempar map tersebut dan membuat kertas-kertas yang ada di dalamnya berhamburan. "Itu yang kamu sebut laporan keuangan?" gertak Andra. "Sudah berapa lama kamu bekerja di sini sih?" tanya Andra dengan amarah yang sudah tidak dapat ia tahan lagi. "Laporan kamu banyak yang salah dan ini bukan untuk yang pertama kalinya" bentak Andra sangat kasar. karyawan wanita tersebut hanya dapat terdiam dan menerima segala bentuk kemarahan yang berbentuk ocehan dari bos besarnya itu.  "Sekarang, perbaiki semua pekerjaanmu ini. Minta bantuan rekan kerjamu yang lain untuk membantumu lalu saya tunggu besok tepat jam 9 pagi!" ucap Andra. "Silahkan kamu keluar dari ruangan saya" Andra mengusir karyawannya tersebut. Tadi pagi istrinya sudah sangat ceroboh membuat kopi untuknya, sekarang karyawannya yang membuat laporan yang tidak akurat, kesalahan ini bahkan sudah terulang berulang kali! Bagaimana Andra tidak kesal? Rasanya ingin sekali ia mengeluarkan kata "pecat' dari mulutnya, namun ia masih bisa mengontrol emosinya kali ini.                                                                          ***   Renata benar-benar merasa tubuhnya tidak dapat di ajak bekerja sama, tubuhnya terasa sangat lemas seperti tak bernyawa. Ia juga merasakan demam yang menjangkitnya. "Nyonya, di makan dulu sop nya" ujar Mbak Siti sambil membawakan nampan berisi sop ayam, nasi dan segelas air putih. Renata berusaha untuk duduk menyandar di tempat tidurnya. "Biar saya bantu" dengan sigap Mbak Siti membantu majikan wanitanya itu. "Sebaiknya Nyonya istirahat, jangan banyak pikiran dan stress" ucap Mbak Siti penuh perhatian. Renata mengangguk lemah. Sedari tadi, yang ada di pikirannya hanya satu, kemarahan Andra . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN