LIMA BELAS

1047 Kata
Renata menatap karyawan baru yang kemarin di terima oleh Reno sebagai karyawan barunya itu. Wanita muda yang beberapa tahun lebih tua darinya dengan status single parent yang di sandangnya. Ia nampak cerdas dengan kacamata berbingkai kotak berwarna hitam dan merah. Sangat tangkas dan cerdas dalam bekerja di hari pertama bekerja ini. Semoga seterusnya serajin ini bisik Renata dalam hatinya. "Permisi Bu Renata, saya kembali ke ruangan saya" jawab Maresha dengan sopan pada bosnya. Renata mengangguk sambil tersenyum manis pada karyawannya. "Cantik ya" celetuk Rino sambil tetap membaca laporan. "Kalau kerja ya konsentrasi" ucap Renata sambil beranjak dari tempat duduknya. "Mau kemana?" tanya Rino. "Kantin, aku pengin makan dim sum ayam sama udang" jawab Renata riang sambil mengambil dompetnya dari dalam tasnya. "Wah, kamu ngidam ya?" Rino langsung menoleh dengan wajah sangat riang. "Hush! Apaan sih! Aku cuman pengin makan aja kamu bilang ngidam. Kamu jangan sebar gosip-gosip ke mama dan papa ya" Renata melotot pada adiknya tersebut. Rino cekikikan melihat reaksi kakanya tersebut. "Aku hanya menerka, siapa tahu ada kabar baik soal calon keponakanku" ucap Rino yang masih cekikikan itu. Tanpa menghiraukan adiknya, Renata pergi keluar dan langsung turun ke bawah untuk membeli dim sum yang ia idam-idamkan tersebut.                                                                   ***                                                            "Tolong simpan sketsa-sketsa desain ini dengan baik. Ini rahasia perusahaan" ucap Andra dengan tegas pada karyawannya. Ia mempersilahkan beberapa karyawannya tersebut untuk keluar dari ruangannya sambil membawa sketsa-sketsa yang berada di dalam clear holder berwarna hitam tersebut. Tak lama, Risty, si karyawan teledor tersebur masuk ke dalam ruangan Andra. "Selamat pagi Pak, ini laporannya sudah saya perbaiki" Risty menyerahkan sebuah map yang berisikan beberapa lembar kertas hasil laporan keuangna yang sudah ia perbaiki dengan bantuan Sita setelah ia berikan sebungkus mie ayam paling enak di dekat kantor mereka itu. Sambil melihat Andra yang dengan seksama membaca hasil laporan tersebut, ia sayup-sayup mendengar pembicaraan di luar ruangan. "Sebaiknya kamu yang simpan di dalam brankas itu" ucap salah seorang karyawan berkemeja hijau muda. "Nah, kenapa nggak dari awal kamu kerjakan seperti ini" Andra menutup map tersebut dam menaruhnya di sisi kanan meja kerjanya. Ada rasa bahagia yang membuncah di hati Risty. "Saya jadi gak perlu marah-marah sama kamu. Makin tua saya kalau keseringan marah-marah" tambah Andra lagi sambil membuka laptop miliknya. Ah makin tua juga makin ganteng ucap Risty genit dalam hatinya. "Pak saya boleh tanya sesuatu sama Bapak nggak?" Risty memberanikan diri untuk bertanya pada pujaan hatinya sekaligus bosnya itu. "Apa?" tanya Andra tanpa memalingkan pandangannya dari Risty. "Yang kemarin lusa jalan sama Bapak waktu makan siang itu siapa?" Sudah cukup kemarin lusa ia menumpahkan seluruh air matanya mendapati pujaan hatinya sudah beristri. Ia tidak bisa menerima hal itu. "Kamu kepo banget urusan pribadi saya" jawab Andra agak ketus. "Yaa saya cuman tanya aja Pak. Habisnya saya nggak pernah lihat Bapak ngajak makan siang wanita" balas Risty. "Memangnya kalau kamu lihat saya makan siang dengan wanita lain kamu mau ngapain? Bayarin semua makanan kami? Kamu cemburu memangnya sama atasan kamu sendiri" tembak Andra. Meskipun Risty tidak tahu, namun Andra tahu bahwa karyawan bagian keuangan ini menaruh hatinya padanya. Ia merasa saat inilah saat yang tepat untuk langsung menembakkan kalimat yang sudah seharusnya ia katakan beberapa waktu lalu. Ia dengan jelas menatap wajah karyawannya itu dan menangkap raut kaget di wajah Risty. "Eh ng-nggak kok Pak. Ngapain saya cemburu sama Bapak, pacar saya nanti saya kemanain?" balas Risty. Ia tidak ingin jika sampai bosnya tahu. "Whoa! Saya baru tahu kamu punya pacar! Selamat ya cepat menyusul!" ucap Andra riang. "Kemarin itu istri saya" jawab Andra akhirnya. Seketika itu juga ia terbayang wajah Renata. "Saya sudah menikah lima bulan yang lalu. Sengaja saya tutupi karena saya nggak nyaman urusan pribadi saya di jadikan sorotan. Terlebih status saya sebelumnya duda" jelas Andra. "Saya tutupi murni karena saya nggak suka urusan pribadi saya jadi bahan pembicaraan orang lain. Bukan karena istri saya hamil duluan" tambahnya. Seketika itu juga ia tercekat dengan sendiri dengan ucapannya. Hamil? Setelah apa yang ia dan Renata lakukan di malam ulang tahun Rakha, tidak menutup kemungkinan jika Renata hamil. Tetapi lagi-lagi dendam dan tujuannya menghukum Renata menguasai hatinya sehingga membuatnya merasa tidak penting baginya tentang kehamilan Renata kelak. Toh kalau pun memang Renata hamil ia pasti akan memberitahu dirinya, karena ia yang 'membuat' Renata berbadan dua. "Namanya siapa Pak?" pertanyaan Risty membuyarkan lamunannya tentang Renata. "Renata" ucapnya. "Dia penerus perusahaan SP Materials. Perusahaan yang biasa menyediakan bahan-bahan untuk produk-produk kita" bayangan ia pertama kali bertemu dengan Renata hingga rentetan peristiwa sampai akhirnya ia menikah dan hidup bersama Renata sampai saat ini. Risty mengangguk tanda mengerti. Ia harus menceritakan tentang 'saingan'nya ini pada temannya nanti. Harus!                                                                         *** "Kamu sudah pulang?" tanya Renata saat mendapati Andra sudah berada di dalam uang kerjanya di rumah. "Menurut kamu?" balas Andra dingin sambil tetap fokus ke layar laptop nya. Wajah Renata kembali tertekuk. Aku salah apa sih? Masa hanya karena kopi itu dia marah sampai begini? Eh nggak hanya kopi sih sepertinya memang banyak salahku ucapnya dalam hati. "Aku sudah siapkan makan malam untuk kamu di bawah. Mau aku antar kemari atau kamu makan di bawah?" tanya Renata sopan dan hati-hati. Namun Andra tidak merespon dan tetap fokus pada layar tersebut. Merasa Andra tidak mendengarnya, Renata menyentuh tangan Andra. "Apa?" sentak Andra agak kasar. "Kamu nggak lihat aku lagi konsentrasi begini hah?" gertak Andra marah. Renata hanya terpaku melihat kemarahan Andra. "Maaf, aku pikir kamu tidak dengar. Kamu tidak memberiku respon" ucap Renata. "Aku sudah makan malam dengan teman-temanku tadi. Kamu kalau masih lapar silahkan habiskan makan yang kamu sediakan untukku" jawab Andra dengan kasar. Hati Renata teriris. Ia sudah pulang lebih dulu untuk memasak makan malam untuk Andra dan dirinya, namun Andra ternyata sudah makan di luar dengan teman-temannya. Paling tidak, Andra memberi tahu dirinya bahwa ia akan makan malam di luar. "Kamu ngapain masih berdiri di situ?" gertak Andra lagi-lagi dengan nada kasar. "Sana cepat keluar! Aku mau lanjutkan pekerjaanku!" hardik Andra lagi. "Maaf" hanya kata itu yang bisa Renata ucapkan pada suaminya tersebut. Ia pun keluar dari ruang kerja suaminya dengan perasaaan sedih yang mendalam. Setelah menikah, sikap Andra berubah sangat jauh. Bukan Andra yang sopan seperti mereka pertama kali bertemu. Ia mematikan lampu kamarnya dan beranjak ke atas ranjang untuk tidur. Lalu mematikan lampu nakas dan menutup matanya dengan sebutir air mata yang merembes dari mata sebelah kirinya tersebut
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN