Di sore hari, Jasmin menghubungi Indah untuk menyusulnya ke cafe yang sering mereka kunjungi bulan-bulan lalu. Kandungan Indah sudah dinyatakan sehat karena usia kandungannya pun sudah menginjak enam bulan. Jadi, siapa pun tidak terlalu mengkhawatirkan perihal kandungannya lagi. Indah ragu untuk meminta izin pergi, tapi apa daya keinginannya untuk menghirup udara segar begitu besar. Dhananjaya sendiri tidak pernah membawanya keluar, bukan salah Indah yang tertarik dengan ajakan adik iparnya yang lebih pengertian. “Apa aku mengganggu?” Indah berdiri di dekat pintu, tak berani mendekat jika bukan pria itu yang meminta. “Tidak,” jawab Dhananjaya singkat. Pergerakan tangan Dhananjaya yang berada di atas keyboard berhenti, tubuhnya menyandar ke punggung kursi, menatap Indah dan memberikan

