“Dewi, bisakah ambilkan pensilku?” titah Adelia tanpa menatap Dewi, fokus membaca tulisan di bukunya. “Tidak.” Dewi menolak tanpa banyak berpikir. “Sepertinya kamu tidak menyukai pekerjaanmu.” Adelia lalu mendelik tajam. “Aku suka.” Dewi tidak setuju atas singgungan bocah itu. “Tapi, jangan harap aku akan tunduk dengan perintah konyol kalian,” lanjutnya dengan tenang. “Perintah konyol?” Adelia terlihat kesal. “Kamu bisa turun dari kursimu, lalu mengambil pensilmu sendiri. Tidak perlu menyuruh orang lain selagi kamu bisa melakukannya.” Dewi menegur sekaligus menasehati. “Ayahku sudah menggajimu.” Adelio ikut bicara, membela sang adik. “Ayahmu tidak mengatakan aku harus mengambil sebuah pensil di kolong meja.” Dewi tak sungkan menegaskan melalui tatapannya. Ya, seperti inilah sika

