Bab 6

2292 Kata
JADIKAN AKU MILIKMU SEUTUHNYA   "Mas.. bangun.. ini udah siang loh," Mamanya mengetuk pintu kamar Fatah. Menurut sang Mama tidak biasanya Fatah belum bangun jam segini. Apa mereka kelelahan semalam? Mama tertawa sendiri memikirkan sesuatu hal konyol dalam pikirannya. Di dalam kamar Fatah membuka malas matanya. Badannya terasa sangat dingin. Tubuhnya menggigil kedinginan. "Mas.. Mama panggil tuh," Sabrin membangunkan Fatah, namun saat kulit Sabrin bersentuhan dengan kulit Fatah terasa sangat panas. "Ya Allah mas, kamu sakit?" Dengan cepat Sabrin bangun dari tidurnya dan keluar dari kamar. Berharap Mama punya obat untuk Fatah. "Loh, kamu udah bangun nak?" Tanya sang Mama yang tengah sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk suami dan anak mantunya. "Mama punya obat penurun panas nggak? Mas Fatah sakit" tanya Sabrin cemas. "Fatah sakit?" Mama kaget mendengar perkataan Sabrin. Lalu dia mematikan kompor dan mengambil kotak obat yang terletak didekat ruang keluarga. Saat masuk ke dalam kamar, mama melihat Fatah yang menggigil kedinginan. "Ya Allah mas, kok bisa begini? Tolong selimuti dia Rin," Sabrin patuh pada sang Mama mertua dan menyelimuti tubuh suaminya. Dia juga mematikan AC ruangannya. "39 derajat. Aduh.. gimana sih kamu mas, masa dokter sakit," keluh sang Mama saat mengambil termometer yang sudah dimasukkan ke mulut Fatah sebelumnya. "Sabrin, kamu tunggu disini. Mama siapkan bubur dulu buat Fatah. Biar dia bisa minum obat" "Iya Ma.." Sabrin duduk disamping Fatah dan mengusap keringat yang mengalir diwajah suaminya itu. Jujur dia bingung harus berbuat apa. Karena selama ini dia tidak pernah merawat orang yang sakit. Tapi biasanya jika dia sakit, Mami selalu memeluk tubuh Sabrin. "Kamu kompres Fatah pakai ini," Mama datang kembali membawa baskom yang berisi air panas di dalamnya. Mengapa air panas? Karena agar suhu tubuh Fatah menjadi kembali normal. "Mama tinggal buat bubur dulu ya" Sabrin mulai mengompres suaminya itu dengan kain. Tetapi suaminya terus saja menggigil kedinginan. "Dingin..." "Mas kedinginan ya?" Sabrin lalu bangkit mencari selimut tambahan dari dalam lemari. Saat yang dicarinya ketemu, dia menyelimuti tubuh Fatah kembali. Namun Fatah masih terus menggigil. Ingat dengan kebiasaan Maminya dalam menyembuhkan sakit yang biasa dia alami. Lalu dia coba praktekkan pada suaminya ini. Sabrin berbaring disebelah Fatah, dan memeluk tubuh suaminya itu didalam selimut. Berharap Fatah tidak merasakan kedinginan lagi. Di usap-usapnya punggung Fatah yang panas. "Ya Allah lindungilah suamiku dan jagalah dia. Angkatlah semua penyakit dalam dirinya. Karena sakitnya adalah sakitku juga," sebuah doa sederhana mengalun begitu saja dari bibir Sabrin saat dia memeluk suaminya itu. Ada rasa sedih, karena baru sekarang ini dia mendoakan suaminya. Sedangkan suaminya ini selalu mendoakannya disetiap hembusan napasnya. Sabrin menangis tersedu-sedu dibidang d**a suaminya. Dia tahu, dia bukan istri yang baik. Hingga suaminya ini merasakan sakit seperti ini. "Sabrin. Kok kamu malahan tidur?" Tanya Mama yang datang membawakan semangkuk bubur untuk Fatah. "Ma.. Sabrin takut. Sabrin takut nggak bisa mengerawat mas Fatah," isaknya kembali. "Jangan bilang begitu. Semua kan butuh belajar. Nggak mungkin kan baru menikah kamu langsung mengerti apa yang harus kamu lakukan. Pelan-pelan sayang, kamu pasti bisa merawat Fatah." jawab Mama sambil menenangkan Sabrin. "Ayo bangunkan Fatah, suapi bubur untuknya" Mama keluar dari kamar, memberikan ruang untuk Sabrin agar dia bisa belajar bagaimana menjadi istri yang baik. "Mas, bangun dulu.." Sabrin memukul-mukul pipi Fatah dengan lembut. "Aku tidak lapar" jawab Fatah dengan suara seraknya. "Mas harus makan, biar cepat sembuh," ditariknya tubuh Fatah agar bersandar pada kepala tempat tidur. "Ayolah, makan sedikit aja" bujuk Sabrin pada Fatah. Fatah melihat wajah Sabrin yang begitu cemas mengkhawatirkan keadaannya itu. Lalu menuruti permintaan dari istrinya. "Nah gitu dong, kan nggak lucu kalau dokter sakit begini" kekeh Sabrin. "Dokter juga manusia," kesal Fatah dengan mulutnya yang penuh dengan bubur. "Kamu itu suapinnya yang ikhlas dong, sekalian aja sama mangkoknya biar penuh mulut aku" Sabrin tertawa melihat Fatah yang marah karena ulahnya. Dia memang tidak sabaran menyuapi suaminya itu. "Maaf deh mas, abisnya lama banget makannya" "Sini kalau nggak ridho suapin aku," Fatah berusaha mengambil mangkuk bubur itu, namun Sabrin menahannya. "Idih ngambek. Bisa ngambek juga kamu. Udah diem deh. Nggak lihat nih istri cantik lagi ngerawat suaminya" ledek Sabrin. "Cantik sih, tapi kalau di obral sama aja bohong" sindir Fatah. Sabrin langsung diam, dia tahu benar maksud kata 'obral' disana. Karena memang saat ini semua mata bisa menikmati bentuk tubuhnya. "Maaf mas, kalau aku..." Sabrin terlihat seperti ingin kembali menangis. "Semalamkan sudah janji gak mau nangis lagi. Coba di pegang janjinya" potong Fatah. "Jangan-jangan aku sakit begini karena Allah sudah membalas setiap air mata yang jatuh dari matamu semalam" Fatah berusaha menggoda istrinya, tapi Sabrin salah mengartikan kembali. Dia menangis sambil terisak-isak. Membuat Fatah menjadi serba salah. "Loh kok malahan tambah nangis? Udah jangan nangis. Aku cuma bercanda. Allah memberikan aku sakit, karena Allah masih sayang padaku. Dia masih memperhatikan aku. Masih ingat kah aku pada-Nya saat aku sakit seperti ini? Jadi kamu jangan salah paham lagi" jelas Fatah pada Sabrin. "Maafin aku mas, aku masih belum bisa menjadi seorang muslimah sempurna" "Ingat, Allah lebih suka jika mendengar kata 'mantan preman' dari pada mendengar 'mantan ustad'..." "Jadi kamu samakan aku kayak preman..." Sabrin kesal dengan perumpamaan yang diberikan Fatah padanya. "Yah salah lagi aku" desah Fatah. "Lagian, aku disamain sama preman. Siapa juga yang nggak marah" Sabrin menatap Fatah kesal. Bisa-bisanya suaminya itu berkata seperti itu. "Jangan marah dong. Nanti cantiknya hilang" "Dasar gombal..." Sabrin kembali menyuapi Fatah dengan bubur. "Aku gombal sama istriku sendiri. Bahkan Nabi Muhammad pun mencontohkannya pada istrinya, Aisyah" "Memangnya dia mencontohkan seperti apa?" Tanya Sabrin. "Benar mau dengar? Nabi Muhammad tidak malu-malu mengekspresikan rasa cintanya pada istrinya Aisyah dengan sederhana dan bersahaja. Beliau merupakan sosok yang sangat romantis. Bahkan dalam urusan ranjang pun beliau patut dicontoh" Seketika pipi Sabrin memerah mendengar Fatah mengatakan hal yang terdengar sangat vulgar untuknya. "Kamu kenapa senyam senyum begitu?" Tanya Fatah penasaran. "Coba lanjutin..." Sabrin berusaha menutupi perasaan anehnya. "Beliau terbiasa memanggil istri-istrinya dengan panggilan kesukaan dan panggilan yang indah. Contohnya, beliau memanggil Aisyah dengan panggilan 'Ya Humaira'..." "Apa artinya itu?" "Artinya wahai si merah muda. Karena pipi Aisyah selalu tersipu malu jika berada didekat suaminya" jelas Fatah pada Sabrin. "Jadi tidak ada salahnya aku menggodamu, karena aku ini qawwam mu" sambung Fatah. Sabrin menganggukan kepalanya tanda mengerti dari semua penjelasan Fatah. "Makasih udah mau ngajarin aku" "Itu udah menjadi tugasku" Fatah senang Sabrin sedikit demi sedikit bisa mendengarkan semua yang telah dia ajarkan. "Ambilkan obat untukku. Aku harus segera sembuh. Karena aku tidak ingin pasienku terlantar. Di tambah, aku tidak ingin membebani istriku" "Kenapa membebani?" Fatah tertawa melihat wajah istrinya yang cemberut. Sangat lucu menurutnya. "Karena aku ingin istriku fokus untuk mengurus dirinya terlebih dahulu.." Fatah menerima obat yang diberikan Sabrin dan meminumnya. "Terima kasih, berbaringlah disebelahku.." Sabrin berbaring disebelah Fatah dan meletakkan kepalanya dilengan Fatah. Lalu Fatah memeluk Sabrin dengan sayang. Dia berusaha menumbuhkan cinta untuk istrinya ini.   ****   "Mas bangun, sholat magrib dulu.." seru Sabrin. "Kamu kok nggak bangunin aku dzuhur sama ashar?" Kesal Fatah pada Sabrin. "Aku nggak tega mas, kamu tidurnya nyenyak banget" "Tapi kan aku jadi melewati 2 waktu itu" "Allah mengerti kok, kan kamunya sakit" "Sabrin, sholat itu kewajiban !!!" Bentak Fatah, lalu dia berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil wudhu. Sabrin diam mendengar Fatah membentaknya, apa dia salah tidak membangunkan suaminya yang sedang sakit itu? Ya Allah, Sabrin merasa bersalah lagi. "Allahu akbar...." Fatah dan Sabrin kembali sholat berjamaah, dengan khusyuk Fatah menjadi imam untuk Sabrin. Surat-surat yang jarang Sabrin baca ketika sholat dilantunkan dengan baik oleh Fatah. Namun yang berbeda kali ini, setelah Sabrin mencium tangan suaminya dia tidak langsung melepas mukena nya. Dia masih menundukkan wajahnya, menahan tangis dan memohon ampun pada Allah. Setelah menutup rangkaian doanya dengan membaca surat Al-fatihah, Fatah melirik ke arah istrinya yang masih duduk diatas sajadahnya. Tergambar senyum dibibirnya, dia merasa senang Sabrin sedikit demi sedikit telah berubah ke arah yang lebih baik. Sadar karena di perhatikan, Sabrin mengangkat wajahnya yang sudah banjir air mata. "Kamu nangis kenapa lagi?" Tanya Fatah yang sudah menghadapkan tubuhnya kehadapan Sabrin. "Aku... aku..." "Sudahlah, jangan selalu menyalahkan dirimu. Aku minta maaf karena tadi sudah membentak mu" "Mas..." "Hei, suami mana yang ingin melihat istrinya terus menangis?" Bujuk Fatah. "Kita sholat sunnah 2 rakaat dulu" ajak Fatah pada Sabrin. "Untuk apa?" Tanya Sabrin bingung. "Untuk menuntaskan ibadah suami istri kita," jawab Fatah sambil tersenyum lebar. Sabrin yang baru mengerti apa arti ucapan Fatah menjadi tersipu-sipu malu. Tetapi tak urung dia mengikuti semua perintah Fatah. Selesai sholat, Fatah mendekat kepada Sabrin dan menarik mukena yang masih dipakainya. Sambil terus tersenyum dia mengusap wajah istrinya itu. "Kamu gugup ya?" Tanya Fatah. "Aku..." Sabrin menundukkan wajahnya. "Aku nggak tahu harus ngapain" jawab Sabrin dengan polos. "Mendekatlah..." pinta Fatah. Sabrin mendekat pada Fatah dan duduk diatas suaminya. "Aku akan menuntunmu menunaikan ibadah terakhir kita" Fatah mencium pipi Sabrin dengan lembut. Tangannya mengusap tengkuk Sabrin. Karena perlakuan Fatah, Sabrin memejamkan matanya. Ciuman demi ciuman diberikan oleh Fatah pada tubuh Sabrin. Dari kening, pipi, hidung dan bibirnya. Namun Fatah tidak mencium kedua mata Sabrin. Karena menurut salah satu Hadist, jika mencium kedua mata istri itu menandakan akan perpisahan. Fatah mengangkat tubuh Sabrin ke atas ranjang mereka. Dibisikannya seribu kata cinta pada Sabrin. Sabrin yang mendengar setiap kata cinta dari Fatah, terasa sangat aneh. "Kamu gombal kalau ada maunya ya?" Sindir Sabrin. "Wa'aksu dha yaudhi lisyiqoqy, bainahuma shohi walilfiroqy" ucap Fatah. "Apa kamu tidak tahu salah satu Hadist nabi menjelaskan, bahwa senggama yang dilakukan suami dengan istrinya tanpa senda gurau, saling cium, rangkul, peluk bersama istrinya akan menghasilkan anak dengan otak yang bodoh. Kamu nggak mau kan anak kita bodoh?" Tanya Fatah sambil menatap mata Sabrin yang berada dibawahnya. "Kamu kan pinter, kenapa anak kita jadi bodoh?" "Untuk itu aku melakukan semua aturannya agar bisa menghasilkan keturunan yang baik" jelasnya. "Lepaskanlah pakaianmu" ucap Fatah pada istrinya. Sabrin hanya diam melihat Fatah membuka baju koko yang dia pakai. Hingga menyisahkan celana pendek yang dipakainya. Dengan malu-malu Sabrin juga membuka pakaiannya hingga meninggalkan pakaian dalamnya saja. Matanya tak lepas menatap wajah Fatah yang menunggunya. Lalu berbaringlah dia kembali dibawah Fatah. Fatah menarik salah satu bantal dan meletakannya dibawah p****t Sabrin. "Buat apa mas, kok diganjel?" Tanya Sabrin. "Biar aku bisa lebih memasukimu" jawabnya. “Allahuma inni as aluka khairaha wa khaira ma jabaltaha alaihi wa a’udzubika min syarriha wa min syarri ma jabaltaha alaihi” Fatah berdoa didalam hatinya. Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan yang telah Engkau adakan untuknya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan dari keburukan yang Engkau adakan untuknya (HR Abu Dawud). Kembali pipi Sabrin memerah mendengar ucapan suaminya yang begitu terbuka. Fatah menarik selimut tipis dan menutup tubuh mereka berdua. Dengan perlahan Fatah kembali menciumi istrinya dan membuka pakaian dalam istrinya itu "Bismillahil a'liyyil a'dhim, allohummaj a'lha dzurriyyatan thoyyibatan in kunta qoddarta an takhtuja dzalika min shulby" ucap Fatah sambil menyatukan keningnya dengan Sabrin. "Jadikanlah istriku yang menjadi adanya keturunanku yang baik , bila engkau memastikan keturunan itu keluar dari tulang rusukku" ucapnya kembali. Mata Sabrin terus menatap dalam mata Fatah. Disana seperti ada banyak sihir yang membuatnya semakin jatuh cinta oleh pesona Fatah. Dengan tangannya Sabrin mengusap lembut wajah Fatah yang masih tersenyum setia pada Sabrin. Fatah memejamkan matanya karena begitu menikmati sentuhan yang Sabrin berikan. Fatah tak tinggal diam, dia juga mengusap lembut wajah Sabrin yang dilanda rasa ketakutan. Sabrin meringis takut pada perlakuan yang nantinya akan Fatah lakukan pada dirinya. “Rileks, biar tidak sakit” ucap Fatah dengan suara seraknya. “Mas...” lirih Sabrin. “Ya sayang..” “Jadikan aku milikmu seutuhnya karena Allah mas, agar pahalaku sebagai seorang istri semakin sempurna.” “Insya Allah Ai, kita melakukannya karena Allah” Pada akhirnya Sabrin menjadi seutuhnya milik Fatah. Mereka berdua sedang diliputi perasaan bahagia yang sebelumnya tidak pernah mereka rasakan. "A'lamatul inzali minha yaa fata, a'qu jabiniha walashquha ata" ucap Fatah ditengah-tengah puncak kenikmat bersama sang istri. Napas mereka terengah-engah menikmati setiap moment yang baru saja mereka lakukan. "Alhamdulillah.." Fatah mencium kening Sabrin yang sudah banjir peluh. "Terima kasih. Telah menjaga semua ini untukku" sambungnya. Sabrin membenamkan wajahnya didada Fatah karena menutupi malu yang dia rasakan. Hati Sabrin berdetak tak menentu, merasa bahagia bercampur perasaan lega. Sambil memeluk istrinya, Fatah menyenandungkan shalawat. "Mas, kamu tahu dari mana bacaan-bacaan itu?" "Dari membaca, iqro.. bacalah.. Allah meminta kita untuk membaca segala sesuatunya terlebih dahulu" "Terima kasih mas. Sudah mengajarkan ku hal baru lagi" "Apapun itu untuk istriku," Fatah mencium kening Sabrin dengan lembut. “Besok sprei yang terkena noda darah jangan langsung dimasukan kedalam mesin cuci. Tapi direndam terlebih dahulu” ujar Fatah. “Memangnya spreinya berdarah?” Sabrin bangkit dari tidurnya lalu disibakkannya selimut yang menutupi tubuhnya. “Ya Allah mas, aku kenapa?” dia ketakutan dengan bercak darah yang berada disekitar k*********a dan sprei ranjang mereka. “Itu karena kamu terlalu stres dan takut tadi, karena itu kamu banyak mengeluarkan darah. Sebenarnya mengukur seorang wanita itu masih perawan atau tidak bukan karena darah yang keluar saat malam pertama.” Jelas Fatah. “Jadi kamu nuduh aku nggak perawan?” ketus Sabrin. “Bukan begitu Ai, 80% wanita yang masih perawan tidak mengeluarkan darah dalam hubungan intim pertamanya. Karena letak selaput darah semua wanita tidaklah sama. Jadi jika ada pria yang menghakimi wanita karena tidak berdarah dalam pertama itu salah besar. Bahkan ada wanita yang sudah tidak perawan akan tetap berdarah saat berhubungan intim karena dia terlalu stres atau takut atau bisa jadi kurangnya tahap pemanasan,” jelas Fatah panjang lebar. “Lagi juga, aku bisa merasakannya kalau ini pengalaman pertamamu” goda Fatah. Penjelasan dari Fatah membuat Sabrin mengerti, dia merasa bertambah lagi ilmu pengetahuannya saat ini. Bolehkah dia bangga pada suaminya? Ada salah satu Hadist, Rosulalloh Saw, Bersabda : "Bahwa syahwat itu ada sepuluh bagian, 9 bagian adalah bagi wanita dan 1 bagian lagi bagi laki-laki , hanya saja Allah menutup wanita dengan perasaan malu yg sangat kuat " ----- continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN