Bab 20

2439 Kata
SEBUAH PERTANDA   Terima kasih... karna kau telah Hadir untukku, kuharap ini akan selamanya Terima kasih... karna kau telah ada dalam hidupku ku harap ini akan abadi, Selamat datang dalam hidup ku... Separuh jiwaku.. Sendi bingung menatap sahabatnya yang sedari tadi menemaninya di perpustakaan. Tidak biasanya Sabrin mau berlama-lama berada didalam perpustakaan. Biasanya Sabrin datang ke perpustakaan jika ada kak Darwan. Namun kini, wanita itu tampak lesu duduk disalah satu kursi. Jemarinya saling menaut satu sama lain. Pikirannya entah kemana saat ini. Pandangannya kosong. Ada apa gerangan dengan Sabrin? "Kamu kenapa Rin?" Tanya Sendi sambil menepuk bahu Sabrin. Saat lamunannya tersadar, raut wajah Sabrin berubah menjadi sedih. "Loh, kamu kenapa?" "Mas Fatah.. aku semalam ribut dengannya..." cicit Sabrin. "Kok bisa?" Sendi menatap lekat wajah Sabrin. Mata sahabatnya itu membengkak. Hidungnya merah seperti habis menangis. Sabrin menjadi lesu saat mulai menceritakan pertengkarannya pada Sendi. "Gara-gara kemarin aku bohong. Aku kan nggak bilang sama dia kalau aku ke kampus. Dan semalam dia ngamuk. Dia nggak tidur di rumah. Tapi balik ke rumah sakit. Aku harus gimana Sen?" Sabrin bertanya padanya masalah rumah tangga, sedangkan Sendi belum berumah tangga. Sungguh sulit untuk memberikannya saran. "Satu yang aku cuma bisa bilang, jangan pernah berbohong dalam suatu hubungan. Karena hubungan yang didasari dari kebohongan gak akan bertahan" jelasnya. Sabrin semakin menangis mendengar perkataan Sendi. Dia sadar jika dia salah, namun dia tidak tahu jika Fatah akan semarah itu padanya. "Kamu udah minta maaf belum?" Sabrin menggelengkan kepalanya. "Udah salah nggak mau minta maaf, gimana suamimu nggak marah" ketus Sendi. "Kalau kamu merasa salah, segeralah minta maaf sama suamimu. Rasulullah bersabda : "Maukah aku kabarkan kepada kalian....tentang wanita-wanita kalian penduduk surga? Yaitu wanita yang penyayang (kepada suaminya), yang subur, yang selalu memberikan manfaat kepada suaminya, yang jika suaminya marah maka iapun mendatangi suaminya lantas meletakkan tangannya di tangan suaminya seraya berkata, "Aku tidak bisa tenteram tidur hingga engkau ridho kepadaku (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Sahihah no 287)" jadi kamu udah pahamkan? Dosa loh marah sama suami mu" jelas Sendi. "Tapi, aku nggak tahu gimana cara minta maafnya?" Tutur Sabrin. "Kamu punya mulut kan, masih bisa digunakan?" Kesal Sendi. Sabrin paham dengan maksud Sendi, dia harus mengutarakan perasaan bersalahnya. Karena telah berbohong pada suaminya itu. "Makasih ya Sen..." dipeluknya tubuh Sendi sahabatnya. "Iya sama-sama.." Sendi menepuk punggung Sabrin. "Sen, sholat yuk. Udah dzuhur, abis sholat baru aku mau ke rumah sakit" pinta Sabrin. "Aku lagi nggak sholat Rin, kamu sholat sendiri sana. Jangan ditunda-tunda" cecar Sendi. Sabrin mengkerutkan keningnya, terlintas dalam pikirannya kenapa dia belum juga mendapatkan tamu bulanannya itu. "Kok nggak jadi sholat?" Tanya Sendi. Tiba-tiba tangan Sabrin bergetar. Dipegangnya lengan Sendi. Air matanya keluar seperti seseorang yang ketakutan. "Kamu kenapa lagi Rin?" Sendi mulai panik melihat wajah pucat sahabatnya itu. "Gimana ini Sen, aku.. aku.. sudah hampir 2 bulan aku nggak datang bulan??" Muka pucat dengan peluh membanjiri wajahnya. "Maksud kamu? Kamu belum datang bulan dari bulan kemarin?" ucap Sendi yang mulai ikutan panik. "Iya.. aku nggak sakit kan Sen.. aku takut banget ini" "Kamu udah periksa belum? Jangan-jangan kamu hamil loh?" Ucap Sendi yang mulai bisa mengkontrol rasa kagetnya. Dia sadar sahabatnya ini sudah menikah. Wajah Sabrin terlihat semakin bingung. Entah apa yang merasuki pikirannya saat ini. Tubuhnya masih gemetar ketakutan. "Aku beliin testpack ya..." Sendi bangkit untuk pergi membeli alat pengecek kehamilan itu. "Jangan kemana-mana kamu" sambung Sendi. Sabrin tidak menggubris sahabatnya itu. Dia masih kaget jika benar dia hamil. Apa Fatah akan senang? Atau apakah dia siap menjadi seorang ibu? Bahkan dirinya saja masih belum sempurna. Sebenarnya yang Sabrin inginkan saat ini adalah tidak memiliki anak terlebih dahulu sebelum dirinya menjadi istri yang sholeha. Tak begitu lama, Sendi datang kembali dengan sebuah alat tes kehamilan ditangannya. "Coba kamu test dulu. Kalau negatif kita harus segera langsung ke rumah sakit, ketemu suamimu. Takutnya ada penyakit dalam diri kamu Rin" bujuk Sendi. Dia menarik Sabrin menuju toilet. Dengan tangan gemetar Sabrin menunggu hasil tes yang ada di tangannya. Dan tak sampai satu menit 2 buah tanda garis merah muncul seketika. Benda pipih itu terlepas begitu saja dari tangan Sabrin. Air mata Sabrin mulai membanjiri pipinya. Ternyata dia positif hamil. Didalam rahimnya ada seorang bayi yang akan dirawat. Bahagiakah dia? Tentu saja bahagia. Tapi dia juga merasa sedih, dia takut bayi ini tidak diinginkan oleh suaminya. Mengingat semalam mereka bertengkar dengan hebat. "Kenapa kau datang disaat aku dan dia bertengkar seperti ini..." lirih Sabrin sambil mengusap perutnya yang masih datar. Dia tidak berani menemui Fatah saat ini. Dia takut menghadapi kenyataan jika suaminya itu tak menginginkan anak ini. "Rin,.. gimana?" Sendi mengetuk pintu toilet. Tak ada satu jawaban yang Sabrin berikan pada Sendi. Dia hanya menangis terisak-isak. Memikirkan bagaimana kehidupan pernikahanya kedepan. Apa bisa bertahan atau tidak? Dia sungguh takut jika pada akhirnya Fatah meninggalkannya. Sabrin membuka pintu toilet, didepannya sudah berada Sendi yang menatapnya cemas. "Bagaimana?" Tanya Sendi memastikan apa yang terjadi. Sabrin memberikan benda pipih itu ketangan Sendi. "Alhamdulillah.. selamat ya Rin.. sebentar lagi kamu bakalan jadi ibu" Sendi memeluk Sabrin. Dia sangat bahagia melihat sahabatnya telah memasuki babak baru hidupnya. Menjadi seorang ibu adalah sangat mulia. "Aku takut Sen. Aku takut mas Fatah nggak terima anak ini" cicitnya. "Kenapa nggak terima? Jelas-jelas ini anaknya" kesal Sendi. "Tapi kan semalam kita bertengkar hebat. Aku tidak yakin dia akan menerima anak ini Sen" lirih Sabrin "Jangan berpikir buruk kepada suamimu. Dia nggak akan mungkin ninggalin kamu saat kondisi kamu sedang mengandung anak dia" jelas Sendi. "Mau aku temani ke rumah sakit?" "Aku takut Sen..." lirihnya lagi. Sendi memeluk tubuh sahabatnya. Memberi semangat kepada sahabatnya. "Jangan pernah berpikir negatif Rin..." "Ayo, kita ke rumah sakit" ajak Sendi sambil menarik tangan Sabrin. Ada perasaan senang sekaligus ragu dalam diri Sabrin. Dia berharap Fatah akan menerima kehamilannya dengan senang. Saat sampai di rumah sakit dengan diantar pak Kardi, Sabrin turun dari dalam mobil. kakinya bergetar lagi. Dia tidak berani melangkah lebih jauh. "Ayolah Rin, aku jamin dia nggak akan marah.." Langkah demi langkah dia lalui hingga tiba didepan ruangan Fatah. Seorang suster menghampirinya. "Ibu Sabrin cari dokter Fatah ya? Tunggu saja didalam. Beliau sedang mengecek pasien" jelasnya sambil membuka pintu ruangan Fatah. Sabrin dan Sendi menunggu Fatah dalam keadaan diam. Tangan Sabrin sudah mengeluarkan keringan dingin. Alat tes kehamilan tadi masih dia pegang. Berharap jika Fatah datang, dia langsung ingin memberikan benda itu padanya. Kleeek... Suara pintu terbuka, muncul lah sosok Fatah dan rekan satu timnya, dr. Iwan. "Ada istrimu..." tegur dr. Iwan. "Siang Sabrin, sudah lama nggak ketemu.." sapa dr. Iwan. Sabrin hanya tersenyum tak menjawab apapun. Dia masih bingung harus memulai apa untuk membicarakan masalah ini. Fatah yang menyadari Sabrin keliatan pucat, terus memperhatikannya. Ketika pandangan mereka saling bertemu, Sabrin memanggilya. "Mas..." panggilnya lirih. Dr. Iwan dan Sendi diam memperhatikan gerak gerik Sabrin. Sabrin mendekat kepada Fatah dan memberikan alat test kehamilan tadi ke tangan Fatah. Saat Fatah menerimanya, dia diam sesaat. Lalu ditatapnya Sabrin yang menunduk didepannya. "Kamu.." Fatah tak mampu melanjutkan perkataannya. Melihat reaksi Fatah yang mendadak aneh, dr. Iwan mendekati Fatah. Dia memperhatikan benda yang diberikan Sabrin pada Fatah. "Alhamdulillah.. Sabrin hamil Tah?" Tanya dr. Iwan antusias. Fatah masih diam memperhatikan Sabrin. Dia bingung harus bersikap seperti apa. "Dari kapan?" Tanya Fatah lirih. "Sabrin nggak tahu mas..." ucapnya sambil menggigit bibir bawahnya. "Alhamdulillahi rabbila’lamin..." ucap Fatah. Lalu dipelukanya tubuh Sabrin kedekapannya. Saat itu juga Sabrin menangis hingga membasahi kemeja Fatah. "Selamat ya Tah, senang aku lihatnya" ucap dr. Iwan sambil memukul bahu Fatah. Dia lebih memilih keluar dari ruangan Fatah. Lalu Sendi bangkit dari duduknya, dia liat sahabatnya sudah diterima dengan baik oleh suaminya itu. Dia juga beranjak pergi dari ruangan itu. Memberikan privasi untuk pasangan suami istri itu. "Makasih ya Ai.. makasih banyak.." ucap Fatah sambil mencium kening Sabrin. "Aku periksa dulu ya Ai, biar ketahuan udah berapa minggu. Biar aku tenang, dia sehat atau nggak.." pinta Fatah. Kemudian Fatah menggandeng Sabrin menunju sebuah ruangan khusus untuk pengecekan. Tahap pertama yang dilakukan Fatah adalah pemeriksaan fisik Sabrin. Pengecekan berat badan dan tinggi badan Sabrin yang dia tangani sendiri. Biasanya jika pasien lain, suster lah yang melakukan pemeriksaan tahap ini. Kemudian Fatah mengeluarkan stetoskopnya, dan menempelkan pada d**a Sabrin. Didengarkannya detak jantung Sabrin. Apa detak jantungnya dalam keadaan normal atau tidak. Setelah itu, Fatah mulai melakukan pengecekan darah pada Sabrin. Suster-suster yang sedang bertugas terus memperhatikan Fatah. Mereka mencoba mengerti dari semua tindakan yang Fatah lakukan pada Sabrin. Dan mulai menerka-nerka apa istri dokter kebanggaan mereka itu sedang hamil. Pemeriksaan darah merupakan satu hal yang sangat penting dalam proses pemeriksaan ibu hamil. Proses pengujian darah atau test Alpha feto protein (AFP) dilakukan agar mengetahui kondisi janin dalam keadaan sehat atau tidak. Terutama pada bagian otak dan tulang belakang. Jika hasil pengujian tergolong rendah, janin bisa mengalami down syndrome. Lalu pemeriksaan TORCH, dimana pemeriksaan ini untuk mengetahui adanya infeksi parasit atau tidak pada janin. Jika janin sudah terinfeksi TORCH, maka bisa dipastikan janin akan mengalami cacat atau bahkan kematian. Untuk mencegah TORCH, yang dilakukan yaitu meningkatkan kadar IgG dan IgM. Kedua zat itu berfungsi untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Dan pemeriksaan terakhir yang Fatah lakukan untuk Sabrin adalah USG (Ultrasonografi). Ultrasonografi adalah pemeriksaan yang memberikan hasil gambar dua dimensi tentang janin atau embrio yang sedang berkembang di dalam perut ibu hamil. Pemeriksaan itu mencakup penggunaan gelombang suara yang berfrekuensi tinggi yang dibuat dengan memasang pengubah arus pada suatu alat yang disebut dengan transduser. Banyak alat-alat canggih didalamnya, dan sebuah tv plasma besar yang nantinya akan menampilkan keadaan didalam rahim sang ibu. "Berbaringlah..." pinta Fatah. Lalu tangan Fatah mengangkat blouse yang Sabrin gunakan. Diusapnya perut Sabrin dan dioleskannya gel diatas perut Sabrin. Kemudian ditempelkannya transduser pada perut Sabrin yang sudah dioleskan gel. Transduser tersebut mengumpulkan gelombang suara echo ketika memantul pada bayi, kemudian komputer akan menerjemahkannya ke dalam gambar. Keadaan itu dapat diilustrasikan seperti radar yang digunakan oleh pesawat udara atau kapal selam untuk menciptakan gambaran tanah lapang di kegelapan malam ataupun di dasar lautan. USG bekerja dengan frekuensi tinggi yang terpantul kembali oleh cairan tubuh. Fatah juga memberikan suatu cairan tertentu pada perut Sabrin dan kemudian menempelkan alat pemindainya di perut. Gambar rahim Sabrin akan terlihat begitu pula janin. Untuk saat ini tercetak jelas keadaan janin Sabrin dan berapa umur kehamilan Sabrin. "Ya Allah, udah 7 minggu. Dan aku baru tahu..." sesal Fatah. "Kok bisa 7 minggu mas?" Tanya Sabrin bingung. "Itu, ukuran fetus jelas terlihat" jawab Fatah. "Fetus apa sih mas?" "Fetus itu janin sayang. Ini yang terlihat di gambar, bulatan hitam itu janin. Dia calon anak kita" jelas Fatah. Sabrin mulai mengerti, jadi yang bulat hitam itu nantinya akan menjadi anak mereka. Dia sampai menangis karena bahagia memikirkan masa depannya kelak. Kehidupan rumah tangganya akan semakin lengkap, karena adanya seorang anak. Fatah mematikan alat-alat USG tadi, lalu menutup perut Sabrin. Kemudian tubuh Sabrin dipeluknya. Dikecupnya kening Sabrin, dan tak lupa pula Fatah membacakan doa untuk istri dan calon anaknya itu. "ALLAAHUMMA IHFAZH WALADII MAA DAAMA FII BATHNI UMMIHII, WASYFIHII ANTAS SYAAFII LAA SYIFAA-A ILLAA SYIFAA-UKA, SYIFAA-AN LAA YUGHOODIRU SAQOMAN, ALAAHUMMA SHOWWIRHU FII BATHNI UMMIHII SHUUROTAN HASANATAN WA TSABBIT QOLBAHUU IIMAANAN BIKA WA BI ROSUULIKA, ALLAAHUMAA AKHRIJHU MIN BATHNI UMMIHII WAQTA WILAADATIHII SAHLAN WA SALAAMAN, ALLAAHUMMA IJ'ALHU SHOHIIHAN KAAMILAN 'AAQILAN HAADZIQON 'AALIMAN 'AAMILANALLAAHUMMA THOWWIL 'UMROHUU WA SHOHHIH JASADAHUU WA HASSIN KHULUQOHUU WA AHSIN SHUUROTAHUU WAFSHOH LISAANAHUULI QIROO-ATIL QUR-AANI WAL HADIITSIBI BAROKATI SAYYIDINAA MUHAMMADIN SHOLLALLOOHU 'ALAIHI WA SALLAMA WAL HAMDU LILLAAHI ROBBIL 'AALAMIIN. Ya Allah, peliharalah anakku selama berada dalam kandungan ibunya. Dan sehatkanlah dia, karena sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang Maha Menyehatkan tiada kesehatan tanpa kesehatan dariMu, kesehatan yang tidak meninggalkan penyakit sedikitpun.. Ya Allah, bentuklah dia di dalam rahim ibunya dengan bentuk yang bagus dan tetapkanlah hatinya untuk beriman kepadaMu dan kepada rasulMu... Ya Allah keluarkanlah dia dari rahim ibunya ketika dia melahirkannya dengan mudah dan selamat... Ya Allah jadikanlah dia anak yang sehat, sempurna, cerdas, cekatan, berilmu dan mengamalkannya.... Ya Allah panjangkanlah umurnya, sehatkanlah badannya, baguskanlah akhlaknya, elokkanlah rupanya, fasihkanlah lisannya untuk membaca al-Qur'an dan Hadist dengan berkah pemimpin kami Nabi Muhammad SAW, dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam." Dibacakannya doa diatas kening Sabrin lalu diciumnya kembali kening Sabrin. Sabrin yang diperlakukan begitu istimewa oleh Fatah hanya bisa menangis. Dia tak tahu harus berbuat apalagi. Dia begitu bahagia saat ini dan tidak ingin kebahagiaan ini berakhir. "Mas udah nggak marah lagi sama aku?" Tanya Sabrin. "Aku nggak akan bisa marah sama ibu dari anak-anakku kelak.." jawabnya. Fatah sudah tidak memikirkan kemarahannya kemarin. Dia sedang bahagia saat ini. Berharap waktu cepat berlalu, agar anaknya cepat melihat dunia. "Mas.. aku sebenarnya merasa belum siap hamil. Aku aja masih belajar jadi istri sholeha, tapi Tuhan udah memberikan aku anak.." ucap Sabrin. "Berarti Allah percaya padamu. Kamu pasti bisa melewati semua ini. Dan menjadi lebih baik untuk anak kita kelak.." "Tapi mas, mungkin nanti anak kita malu punya ibu kayak aku..." lirihnya. Seketika Fatah marah mendengar perkataan Sabrin. Dia sangat tidak suka sikap Sabrin yang merendah seperti itu. Semua wanita berhak hamil dan punya anak. "Kamu seharusnya bahagia Ai, karena apabila seorang perempuan muslimah mengandung dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah SWT mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan. Gimana? Senang gak dengarnya? Diluaran sana banyak wanita yang ingin hamil tapi begitu sulit. Kamu sudah diberi kepercayaan sama Allah malahan disia-siakan.." ucap Fatah. Sabrin tercengang mendengar penjelasan Fatah. Dia seperti tidak percaya, jika hamil bisa menghapus dosa. "Itu benaran mas?" "Apanya? Soal 1000 kebaikan? Benarlah, memangnya Allah pernah main-main" jawab Fatah. "Kalau bisa sholatnya dijaga, jangan pernah putus. Karena rakaat shalat wanita muslimah yang sedang hamil adalah lebih baik dari pada 80 rakaat shalat wanita yang tidak hamil." Sambung Fatah. Lagi-lagi Sabrin menatap Fatah tak percaya. Dia tak yakin dengan ucapan Fatah. Namun Fatah berkata itu semua Allah yang memberikan. Beruntunglah Sabrin menjadi seorang wanita. "Ya Allah, aku pikir jadi perempuan itu nggak enak. Tapi ternyata Allah beri kemudahaan untuk kita. Baru menikah saja udah dijanjikan surga, lalu menurut pada suami, sholat yang rajin dan puasa bisa masuk surga lewat pintu mana aja. Dan sekarang hamil aja diberikan banyak bonus lagi sama Allah. Aku makin cinta mas sama Allah, dia baik banget sama aku. Harusnya aku membalas semua kebaikkannya" jelas Sabrin. "Baguslah kalau kamu mengerti. Kalau menurutmu Allah baik, cintailah dia dengan tulus. Lakukanlah semua perintahnya. Maka apapun yang kamu minta pasti akan dikabulkan oleh-Nya.." ucap Fatah masih dengan memeluk tubuh Sabrin. "Iya mas, Sabrin udah cinta mati sama Allah. Makasih ya mas, udah buat Sabrin sadar." "Itu tugasku Ai, kita akan sama-sama menuju surga-Nya" lirih Fatah. Sabrin semakin terlena dalam pelukan Fatah. Dia bahagia sekali hari ini, banyak sekali pelajaran baru yang dia dapat dalam mencintai Allah. Itu semua karena Fatah lah yang mengarahkannya. 'Terima kasih, ayah dari anak-anak ku...' ---- continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN