Boy menatap dua insan yang sedang berjalan di hadapannya. Pemandangan ini jelas membuat kedua mata Boy sakit. Tapi, sebagai sahabat. Ia merasa senang karena pada akhirnya Jacob mau berubah. Jacob terus menggenggam tangan istrinya, memasuki hotel yang akan mereka tempati untuk beberapa hari ke depan. Boy masih mendorong koper milik atasannya. Untung saja Boy tidak pernah memiliki dendam dengan sahabatnya itu. Biar bagaimana pun, Boy banyak berhutang budi dengan Jacob. Pria itu sudah banyak membantunya. “jac, ambil kopernya. Kasihan Boy dari tadi dia bawa koper terus,” ucap Jeje pelan. “Biarkan saja, itu sudah menjadi pekerjaannya!” jawab Jacob dengan santai. “Jac …,” ucap Jeje sambil menatap suaminya. Jacob langsung membalikan tubuhnya, menatap sekretarisnya lalu merebut koper milikny

