4. Ternyata Senior

1225 Kata
“Gian?” “Udah dibilangin jangan berangkat sendirian!” pekik Gian. Pun Kiana belum bisa mencerna situasi sembari menatap pria tampan itu yang alisnya terus menegang karena sempat berteriak. Kemudian Kiana mengedipkan matanya berulang kali sembari meski tubuhnya belum bisa beraksi. Tanpa aba-aba, Gian lantas menoleh. Tatapan matanya menjadi setajam belati, disusul dengan suara ledakan yang sangat kencang. Dar! “Hah!” Kiana menjerit tertahan. Tubuhnya gemetaran bukan main. Lantas ia menoleh ke belakang secara perlahan untuk memastikan sesuatu bersamaan dengan sekelompok polisi hutan yang berlari melewatinya dengan cepat. “Arah jam dua!” tegas Gian melalui radio komunikasi yang ada di bahu. Kiana memerhatikan dengan bingung dan masih bergetar. Peluh kembali membercak di seluruh tubuh, kini ia beralih menatap Gian yang jauh lebih tinggi darinya. Menyadari tatapan itu, Gian mendekap Kiana. Memegangi punggungnya dengan tangan kiri. Pun perempuan itu tak bisa mengelak. Detik-detik itu terasa hening. Hanya ada degup jantung Kiana yang semula bergemuruh, kini menjadi lebih landai menuju normal seiring dengan rasa tenang yang perlahan ia dapatkan dalam dekapan tersebut. Kebetulan setelah Gian melakukan persiapan, ia sempat melihat Kiana yang menampakkan guratan wajah yang tak baik-baik saja saat menerima telepon. Kemudian saat Gian melakukan apel, ia diam-diam masih memerhatikan Kiana yang semakin gelisah dan membeli tiket lalu pergi begitu saja. Sehingga dalam patrolinya mengejar pembalakan hutan, ia juga sembari mengamati jejak Kania dari jauh sekali. Gian mengenakan kembali benda semacam earbuds di telinga kirinya dengan satu tangan. “Maaf.” Kiana lantas meleraikan diri. Ia mengusap peluh di sekitar kening sembari merapikan penampilannya. Kemudian ia mendongak. “Apa ini?! Kenapa tiba-tiba bikin keributan? Kenapa….” “Aku udah bilang minta maaf, kan?” ucap Gian datar. “Lagi pula siapa tau kalau pembalak itu ada di hadapanku!” “Kamu tembak mereka?” “Cuma tembakan peringatan.” Cih! Kiana berdecak kesal. Ia lantas hendak turun mendahului Gian tapi ia meringis kesakitan karena tidak sadar jika kakinya terkilir. “Walaupun kamu nggak pergi ke puncak, tetap butuh persiapan. Apalagi untuk orang asing.” “Aku tau. Udah terlanjur, makanya aku mau turun!” hardik Kiana. “Aku antar turun.” Gian menghadang jalannya dengan memposisikan diri setengah duduk membelakangi. “Ayo, naik!” Perasaan Kiana sedang acak. Ia hanya ingin mengomel tentang apapun itu. Tapi di sisi lain ia juga butuh bantuan. Jadi, mau tidak mau, ia tetap mengiyakan tawaran pria dingin tersebut meski ada ego yang berkemelut. Pun keduanya turun dari pos satu dengan cepat dan keheningan. Tak ada yang memulai pembicaraan. Yang ada hanya dersik angin lembut serta suara burung-burung bernyanyi. Pada jam itu, sudah jarang sekali berpapasan dengan pendaki karena sudah siang. Gian pun tidak tampak keberatan dengan Kiana di punggungnya. Belum lagi ia juga menyelempangkan pistol. “Apa nggak berat?” Akhirnya Kiana membuka suara setelah mereka keluar dari gapura. “Udah biasa.” Kemudian Gian menurunkan Kiana di posko kesehatan Taman Nasional Gunung Rinjani. Sebuah gazebo yang berada di antara pepohonan teduh. “Aku panggil dokter klinik.” “Buat apa?” seru Kiana. “Aku ini dokter.” “Dokter nggak butuh dokter?” “Ini cuma keseleo dan aku bisa tangani sendiri. Tolong bantal atau apapun yang empuk dan agak tinggi untuk menaruh kakiku,” pinta Kiana tak mau memperpanjang. “Sama es batu dan kain kalau ada.” Gian tak menjawab. Pria itu langsung melenggang pergi masuk ke dalam kantor dan kembali dengan cepat membawa dua bantal sekaligus. Pun peralatan yang menempel di pakaiannya telah dihempaskan, termasuk pistol. Pria dingin itu membantu Kiana menaikkan kakinya. “A-aakh…” rintih Kiana. “Pelan-pelan!” Pun Gian tak merespons dengan suara, ia menatapnya tajam membuat Kiana menutup mulutnya. Lantas pria itu mengarahkan es batu yang sudah dibungkus handuk ke titik sakit. “Orang yang naik gunung… butuh persiapan…” “Kamu udah bilang. Aku juga udah tau.” Gian meliriknya tajam. “Aku belum selesai ngomong.” Kiana mengulum bibirnya rapat-rapat. “Nggak cuma persiapan fisik. Tapi hati dan pikiran juga,” lanjut Gian sambil fokus mengompres. “Kalau punya pikiran buruk, suasana hati buruk…” Ia lantas menatap Kiana dengan maksud tersirat. “…jangan naik gunung, walau cuma sampai pos satu.” Mendapati tatapan itu, Kiana mengedipkan mata berulang kali untuk menyadarkan situasi. Kiana jadi teringat jika pilihannya untuk menenangkan diri ke gunung adalah cara yang salah. Mungkin bisa jadi niat itu tidak masalah, asal keadaan hati dan pikiran sudah lebih tenang. Tidak berkecamuk seperti dirinya yang mendapatkan telepon dari pihak WO. “Ya, halo, Ci?” “Sekali lagi saya turut prihatin tentang apa yang terjadi dalam hubungan Mbak Kiana dan Gala.” “Ya… terima kasih juga sudah bantu kami.” “Jadi, Mbak Kiana sudah membayarkan penuh untuk jasa kami. Dan kami, hari ini akan melakukan pengembalian sebesar 70 persen menurut kontrak yang sudah kami sepakati ke rekening Mbak Kiana. Nah… tapi kenapa Mas Gala minta dikembalikan ke rekeningnya, maksa pula.” “Ternyata kutu beras itu cuma ngincer duit gue.” Tanpa sadar, air matanya leleh. “Apa aku harus pergi?” tanya Gian yang menyadari pemandangan menyedihkan itu. Kiana menyeka air mata. “Nggak usah! Nanti gue jadi kelihatan makin ngenes.” Gian mengangguk-angguk kecil. “Nanti kalau sudah sembuh, kamu bisa bilang aku untuk antar ke pemakaman itu.” “Kamu nggak nanya kenapa aku ke sana?” “Itu urusanmu.” Kiana mengerucutkan bibirnya kesal dengan Gian yang sangat tidak asyik dan ketus. Kring! Kring! Sebuah suara bel sepeda memekik di antara sepi. Tampak pemuda mengendarai sepeda sampai depan posko kesehatan. “Kak Gian. Wah… siapa…” Ia membuka helm-nya untuk memastikan, kemudian membelalak. “K-Kak Kiana?” “Oh? Bayu?” Pemuda itu langsung turun dari motor dengan segera. Kehebohannya justru membuat Kiana tertawa. Dunianya yang suram seolah kembali berwarna. “Ya ampun. Ya ampun… kenapa ini? Kamu kenapa, Kak?” Gian memberikan tatapan menyelidik pada mereka secara bergantian. “Jadi, temanmu yang nggak bisa diajak nemenin… itu si Bayu?” Bayu menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangan. “Jadi, ini gara-gara aku? Kamu jalan-jalan sendirian? Tersesat.” Ia lantas menarik lengan Gian untuk pergi dari tempat, sampai pria dingin itu bahkan hampir terjatuh. Kali ini giliran Bayu yang mengompres. “Maafin aku, ya, kakakku… Tadi emang lagi sibuk.” Sejak tadi Kiana hanya tertawa. Kemudian ia mengangguk. Sementara Gian hanya bisa memutar bola matanya jengah. Ia memilih untuk pergi mengerjakan tugas yang lain. ^^^ Sempat beristirahat selama dua hari, akhirnya tim volunteer dari Earl Jingga Medica itu berkumpul di sebuah klinik untuk menyapa staf lainnya di sana. Semua menyambut dengan penuh antusias di bawah embun pagi di langit Rinjani. Kemudian tak sengaja ada wajah yang tampak familiar bagi Kiana. Mereka lantas sempat memandang dalam beberapa waktu untuk saling mencerna situasi sembari kepala klinik membuat sambutan. “Astaghfirullah!” Jeritan itu menghentikan pelaksanaan acara bersamaan dengan seorang pemuda dalam balutan sneli itu tiba-tiba melompat dari tempat duduknya. Kemudian ia berlari keluar dari ruangan dengan gusar, menutupi wajahnya yang sedang menjadi pusat perhatian, sesekali menabrak beberapa benda di hadapannya. Ia melarikan diri. “Maaf… Maaf.” Napasnya yang sempat tersendat itu mendadak menjadi lebih lega setelah bersandar di dinding samping klinik sambil memegangi dadanya yang bergemuruh. “Gila… gila!” Bayu melongo sambil memukul-mukul kepalanya. “Jadi… Kiana yang cantiknya seindah matahari sore itu… d-dokter di sini?” Ia menepuk dahinya. “Mati, aku!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN