Brie masuk ke apartemennya dengan gerakan cepat, nyaris terburu-buru. Sebelum membanting pintu dengan kasar hingga suaranya menggema di lorong sunyi, ia menyempatkan diri menoleh ke belakang, memastikan bayangan Genta tidak benar-benar mengikutinya sampai ke depan unit. Napasnya memburu, ada rasa sesak yang tertinggal di dadanya.
Ia menjatuhkan tubuhnya di kursi, membiarkan tas mahalnya tergeletak begitu saja di lantai. Jari-jarinya yang gemetar menekan nomor Baskara. Panggilan demi panggilan ia lakukan, namun pria itu seolah sengaja membiarkannya tenggelam dalam kecemasan. Baru pada percobaan kesekian, sambungan itu terangkat.
"Mas?!" serunya seketika, suara Brie melengking tipis, tanda kepanikannya sudah di ubun-ubun. "Genta masih ada, Mas! Dia menguntitku di jalan tadi!"
Namun, di seberang sana, Baskara justru menanggapi dengan tawa kecil yang terdengar sangat tenang, bahkan cenderung meremehkan. "Brie... Brie... kamu ini terlalu penakut. Dengar ya, Genta itu sudah selesai. Dia bukan cuma ditendang dari KPK, tapi juga sudah dinonaktifkan dari kepolisian. Sekarang dia bukan siapa-siapa lagi."
"Tapi kenapa dia masih mengikuti aku, Mas? Dia ada di belakangku tadi!"
"Terus kenapa? Tanpa lencana dan seragam, dia itu ibarat anjing yang rantainya sudah diputus, Brie. Memang bisa menggonggong, tapi dia tidak punya kekuatan hukum lagi untuk menggigit kita. Dia itu sampah," sahut Baskara santai. Terdengar suara riuh rendah di latar belakangnya. "Sudah ya, aku lagi sama Ketua Partai."
Klik. Sambungan terputus.
Brie menurunkan ponsel dari telinganya dengan perasaan yang justru makin tidak tenang. Kata-kata Baskara tentang Genta yang sudah kehilangan jabatan bukannya membuat Brie lega, tapi malah membuatnya makin paranoid. Di dunia yang ia tinggali, Brie tahu betul satu hukum tak tertulis: pria yang tidak lagi punya apa pun untuk dipertaruhkan—pria yang rantainya sudah lepas—adalah pria yang paling berbahaya.
Brie mulai berjalan mondar-mandir di ruang tamunya yang luas. Pikirannya bercabang, tumpang tindih antara rasa takut dan logika yang berusaha ia bangun. Ia mencoba menenangkan diri, meyakinkan hatinya bahwa Genta mungkin hanya ingin menakut-nakutinya secara mental. Lagi pula, Genta sudah tahu segalanya—bisnis kotornya, kafenya, rahasia-rahasianya. Jadi, bagi-bagi uang di halte tadi seharusnya hanyalah masalah sepele. Ia menarik napas dalam-dalam, mencari sisa-sisa ketenangan di tengah kemewahan apartemennya yang mendadak terasa dingin.
Namun, baru sebentar Brie merebahkan tubuhnya di sofa, mencoba memejamkan mata, ketenangan itu hancur saat ponselnya bergetar hebat. Getarannya terasa seperti sengatan listrik. Tubuhnya kaku saat ia melihat sebuah notifikasi dari platform X.
"Terciduk lagi bagi-bagi duit ke driver ojol. Brianna Anindita. Ternyata dia pantas menyandang gelar Malaikat Selebriti."
Dunia seolah berhenti berputar saat ia melihat layar itu. Video-video dari para driver ojek online yang ia bantu sore tadi kini telah bertebaran menjadi konten viral. Satu per satu mereka mengunggah video testimoni dengan wajah penuh haru dan mata berkaca-kaca.
"Terima kasih banyak, Mbak Brianna! Mbak benar-benar malaikat!" seru salah satu ojol sambil memamerkan tumpukan uang merah di tangannya.
"Selebriti paling baik hati, nggak pakai dikontenin. Tulusnya luar biasa!" sahut yang lain dalam unggahan yang berbeda.
Brie memijat keningnya yang mendadak berdenyut nyeri. Biasanya, ia akan sangat senang jika namanya menjadi perbincangan karena kebaikannya. Tapi kini, aksi "Robin Hood" yang ia lakukan untuk membuang beban di d**a malah menjadi bumerang yang menghantam balik. Ia tahu, sebentar lagi Baskara pasti akan menghubungi, dan pria itu tidak akan menanyakan kabarnya.
Benar saja, hanya berselang menit, ponselnya kembali menjerit. Kali ini dari Baskara.
"Brie! Apa-apaan video itu? Maksudnya apa?!" suara Baskara terdengar berbisik namun penuh tekanan tajam, seolah ia sedang menahan amarah di tengah pertemuan pentingnya. "Uang siapa yang kamu bagi-bagi itu?"
Brie menarik napas panjang, mengumpulkan setiap keping keberanian sebelum menjawab. "Mas, tenang dulu... Itu adalah siasatku. Karena tadi Genta terus-terusan menguntitku, aku sengaja bikin sandiwara. Aku ingin dia lihat kalau aku memang dermawan tanpa harus dikontenin. Makanya aku pura-pura tutup wajah biar seolah-olah nggak mau ketahuan. Ini buat tameng kita juga, Mas. Menjaga citra. Jadi, kalau sewaktu-waktu Genta atau siapa pun mengusik kita, orang-orang yang kita kasih uang itu adalah 'people power' yang akan membela kita. Ini adalah investasi reputasi yang murah, Mas."
"Mestinya kamu bicara dulu, Bri? Semua ada hitungannya. Ini kan uang klien kita. Semua harus ada laporannya..."
"Ini pakai uang pribadiku, Mas," potong Brie cepat, sebuah kebohongan yang meluncur lancar karena rasa terdesak. "Tadi aku panik, jadi rencananya memang dadakan."
Terdengar hembusan napas lega dari seberang sana. "Ok, kalau begitu. Tapi lain kali bilang dulu. Aku nggak suka kejutan. Dan pastikan viralnya kamu itu nggak bikin orang pajak mulai melirik rekeningmu," ucap Baskara dingin sebelum mematikan telepon.
Brie menarik napas lega, namun hatinya tidak benar-benar tenang. Sekarang ia sadar, ia harus lebih berhati-hati lagi—bukan hanya dari kejaran Genta, tapi juga dari kontrol Baskara.
Ia meletakkan ponselnya di meja marmer, lalu berjalan perlahan menuju dapur bersihnya yang bernuansa putih klasik. Ia menyalakan mesin kopi, mendengarkan desis uap yang memecah keheningan. Tak lama, aroma pahit kafein mulai memenuhi ruangan. Sambil menunggu cangkir klasiknya terisi, ia berdiri tegak, menatap kerlip lampu kota Jakarta yang basah oleh hujan dari balik jendela besar apartemennya.
Pikirannya kembali pada pertanyaan Baskara tadi. "Pakai uang siapa?"
Kalimat itu terus terngiang, menciptakan rasa muak yang perlahan naik ke tenggorokan. Brie tersenyum kecut, menatap pantulan dirinya yang tampak rapuh di kaca jendela. "Cuma dua puluh juta, Mas... dan kamu masih tanya itu uang siapa?" gumamnya lirih.
Bagi orang yang mencuci uang miliaran setiap minggu, menanyakan uang dua puluh juta itu benar-benar menunjukkan betapa tidak punya empatinya seorang Baskara. Pria itu tidak mengenal kata ikhlas, apalagi rasa kemanusiaan. Baginya, setiap rupiah adalah aset yang harus kembali, tak peduli meski itu digunakan untuk menolong orang di jalanan. Baskara benar-benar hitung-hitungan; dia tidak mau rugi barang sedikit pun.
Di saat itulah, sebuah kesadaran pahit menghantam Brie.
Kalau Genta saja—seorang polisi dan penyidik KPK yang punya posisi kuat—bisa ditendang dan dihancurkan kariernya begitu mudah oleh Baskara, apalagi dia? Brie menunduk, menyadari bahwa di dunia gelap Baskara, ia hanyalah seorang perempuan tanpa nama yang bekerja di balik layar, tak punya jabatan, tak punya koneksi pelindung. Ia hanyalah sebuah alat yang bisa diganti atau dibuang kapan saja jika fungsinya mulai hilang.
Namun, bukan itu yang paling ia takuti. Ia jauh lebih takut jika suatu saat nanti ia justru dikorbankan dan ditumbalkan demi menutupi jejak gelap Baskara.
Brie mengambil cangkirnya, menatap kopi hitam pekat di dalamnya yang tampak segelap dunianya kini. Ia sadar ia tak bisa menggantungkan hidup sepenuhnya pada Baskara. Ia harus punya "backup plan." Ia harus punya perisainya sendiri.
Brie menyesap kopi pahit itu perlahan. Di luar sana, hujan masih turun membasahi jalanan Jakarta, namun orang-orang tetap berlalu lalang, berjuang untuk tetap bergerak. Brie pun tahu, ia harus bergerak lebih cepat, lebih licin, dan lebih cerdas—sebelum hujan yang kini turun berubah menjadi badai yang menenggelamkannya.
________________________________________
Hai semuanya,
Terima kasih banyak sudah mendukung cerita ini. Sudah membaca sampai sini. Tapi sayangnya cerita ini harus aku hentikan di sini karena pertimbangan teknis dan kenyamanan dalam menulis. Tapi kalian bisa mengikuti kelanjutan kisah Brianna ini di w*****d dengan judul yang sama.
Aku tunggu di sana ya.