Chapter 5-When The Bomb Is About To Blow Up

2466 Kata
Tristan dan Casey sampai di kampus dua puluh menit kemudian, setelah laki-laki itu menancap gas supaya isteri tengilnya tersebut tidak terlambat datang ke kampus. Sayangnya, usaha Tristan sia-sia belaka karena kenyataannya, Casey tetaplah terlambat. Gadis itu mendesah panjang dan bersandar pada sandaran kursi mobil sambil bersedekap. Dia menggembungkan kedua pipinya, membuat wajahnya menjadi lucu dan menggemaskan. Tristan yang melihat itu hanya bisa menahan senyum tanpa sadar dan menggelengkan kepalanya.             “Nggak masuk?” tanya laki-laki itu pelan. Casey mendengus terlebih dahulu, sebelum kemudian melirik Tristan dengan lirikan bete.             “Lo mau gue disemprot sama dosen karena telat? Gue udah telat sepuluh menit! Dosen yang satu ini terkenal nggak kasih toleransi ke mahasiswa yang telat. Mendingan gue bolos sekalian!”             Tristan hanya mengangkat bahu tak acuh dan mematikan mesin mobil. Dia membuka kaca mobil dan menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya dan memainkan rambut lebatnya. Kedua matanya terpejam dan detik berikutnya, Tristan meringis sambil mendesis perih.             “Sakit banget ya, Tris?” tanya Casey dengan nada menyesal, membuat kedua mata Tristan terbuka mendadak. Laki-laki itu menoleh dan bertemu mata dengan manik cokelat milik Casey. Manik mata gadis itu menyorotkan penyesalan yang begitu besar.             “Udah, nggak usah sok melankolis gitu. Gue nggak apa-apa. Luka begini nggak ada masalah buat cowok.” Tristan mengibaskan sebelah tangan. Dia takut jika Casey akan menangis hebat seperti tempo hari karena teringat lagi akan Derga, sahabatnya yang sudah meninggal dunia karena berniat untuk menolongnya itu.             “Beneran? Kalau lo kenapa-napa karena gue, gimana?” tanya gadis itu lagi. Suaranya kini mulai bergetar. “Maaf, ya... gue nggak sengaja nabrak elo. Siapa suruh elo main hadang mobil gue gitu aja. Udah gitu nggak menghindar waktu gue tabrak. Lo udah gila, ya?”             Meskipun suara Casey bergetar dan terselip nada penyesalan disana, tapi kalimatnya barusan membuat Tristan mendengus dan tertawa tanpa sadar. Di tempatnya, Casey hanya bisa melongo. Tidak menyangka bahwa iblis di sampingnya itu bisa tertawa juga. Casey curiga jika otak Tristan mulai terganggu akibat tabrakan yang dia alami barusan. Mungkin kepala laki-laki itu terkena batu atas semacamnya, hingga memungkinkan terjadinya pergeseran otak.             “Gue lebih suka lo nyolot sama gue, ketimbang khawatir sama gue, Cash.”             DEG!             Demi Tuhan, itu hanyalah kalimat biasa. Kalimat biasa yang terdengar menyebalkan di kedua telinga Casey. Kalimat menyebalkan biasa yang diucapkan oleh iblis bernama Tristan yang notabene adalah suaminya. Dia sudah ribuan bahkan jutaan kali mendengar kalimat-kalimat menyebalkan dan kasar dari mulut laki-laki itu untuknya. Tapi... kenapa sekarang atmosfernya justru terasa berbeda?             Kenapa rasanya ada yang meninju jantung Casey hingga membuat gadis itu mengalami sesak napas?             Kenapa rasanya kalimat menyebalkan barusan terkesan manis?             BIG NO!             Tidak mungkin Tristan berubah menjadi malaikat! Mustahil! Tidak mungkin!             “Cash?”             Suara Tristan menembus dunianya, membuat Casey tersentak. Gadis itu mengerjap dan menjauhkan wajahnya ketika wajah Tristan ternyata sudah sangat dekat dengannya. Hanya berkisar lima senti saja. Hela napas laki-laki itu bahkan sudah bisa dirasakan oleh Casey. Jantungnya pun sekarang semakin tidak bisa diajak kompromi. Menghentak-hentak dadanya tanpa ampun. Membuat gadis itu menelan ludah susah payah karena harus menetralisir kegugupan yang entah datangnya darimana.             “Ya?”             “Mengagumi ketampanan suami lo ini?”             SIAL!             Tanpa ampun dan tanpa merasa kasihan, Casey langsung mendorong d**a Tristan agar laki-laki itu menjauh darinya. Tristan mengaduh dan mengusap sudut bibirnya yang terasa sakit secara tiba-tiba. Mungkin efek dari dorongan Casey terhadap tubuhnya. Laki-laki itu bahkan terbatuk-batuk karena dorongan dari tangan mungil Casey.             “CASH!” seru Tristan keki. Dia mengusap dadanya dan masih terbatuk. Matanya melotot ganas ke arah Casey yang kini mendengus dan mengacungkan tinjunya.             “Pede banget lo kalau lo bilang gue lagi mengagumi ketampanan lo!” Casey balas berseru sambil menoyor kepala Tristan, membuat laki-laki itu semakin melotot mengerikan. “Gue lagi mikir tadi, dodol! Gue lagi mikir gimana caranya gue bisa ikut kuis susulan!”             “Cih... nggak mau ngaku,” ucap Tristan mencibir. Laki-laki itu kembali menyalakan mesin mobil dan menutup kaca mobil, membuat kening Casey mengerut.             “Loh? Loh? Mau kemana?”             “Lo nggak mau ikut kuliah, kan? Ada jam lagi, nggak?” tanya Tristan tegas dan dingin. Kembali menjadi Tristan yang biasanya. Entah kemana sikap Tristan yang lumayan hangat tadi di kedua mata Casey.             “Nggak ada, sih. Cuma satu jadwal kuliah gue.”             “Kalau gitu, kita pulang.”             Pulang?             “Gue mau istirahat. Luka-luka ini emang nggak ada masalah buat gue, tapi, kepala gue mulai nggak bisa diajak kompromi!”             Mampus!             Mobil sedan itu kini mulai meninggalkan pelataran parkir kampus, dengan Casey yang sibuk meremas kedua tangannya sambil melirik Tristan sesekali dengan lirikan takut dan cemas.             Gimana kalau Tristan gegar otak?! ### Revon memperhatikan gerak-gerik mahasiswa baru yang katanya satu angkatan dengannya itu dari balkon lantai lima kampusnya. Dia menopang dagunya dengan sebelah tangan sambil menatap tajam ke arah mahasiswa baru tersebut. Cara berjalan yang angkuh... kedua mata yang menatap tajam dan tegas ke arah sekitarnya... punggung yang tegap dan tinggi... wajah yang memikat para mahasiswi yang berada di dekatnya... perpaduan yang pas untuk menjadikan mahasiswa baru itu sebagai mahasiswa dengan berbagai macam predikat. Kuat, tangguh, popular juga... memuakkan!             “Something’s wrong, bro?”             Tepukan pelan pada pundaknya membuat Revon tersentak dan menoleh. Di sampingnya, Revon seperti sedang dihadapkan pada sebuah cermin besar yang memantulkan refleksi dirinya sendiri. Devon tersenyum lebar dan mengedipkan sebelah matanya, membuat Revon mendengus dan ikut tersenyum. Dibiarkannya sang kembaran merangkul pundaknya kemudian Revon menunjuk mahasiswa baru di bawah sana dengan menggunakan dagu.             “Take a look at him.” Revon mengangkat satu alisnya ketika mahasiswa baru itu menarik kerah kemeja seorang laki-laki sambil mengucapkan kalimat entah apa hingga membuat laki-laki itu mengkeret dan memohon ampun. “Mahasiswa baru. Seangkatan sama kita dan Tristan, katanya.”             “Really?” Devon mengikuti arah pandang Revon dan menaikkan satu alisnya juga. Mengikuti sang kembaran. “Kok bikin gue enek gitu, ya, tingkahnya?”             “Itu yang gue rasain dari tadi.” Revon menarik napas panjang dan bersedekap. Tatapannya tanpa sadar bertumbukkan dengan tatapan mahasiswa baru tersebut. Atmosfer yang tercipta cukup menyeramkan, sampai kemudian, mahasiswa baru itu masuk kedalam ruang dekan.             “His name is Reffal. Reffaldi Abimanyu.”             Wait a second... Abimanyu?             ABIMANYU?!             Revon dan Devon serempak menoleh dan menemukan sosok Carvian tengah berdiri di samping Devon sambil menopang dagu dengan kedua tangan bertumpu pada pembatas balkon. Laki-laki itu menyunggingkan seulas senyum. Senyum miring yang terkesan dingin dan menakutkan. Dengan santai, Carvian menoleh dan menatap si kembar dengan alis terangkat satu.             “Namanya Reffaldi Abimanyu.”             “Abimanyu lo bilang?” tanya Devon memastikan.             “Iya. Abimanyu.” Carvian menatap lagi ke bawah, ke arah pintu ruang dekan. Ketika sosok orang yang disebutnya sebagai Reffaldi Abimanyu itu keluar dari ruangan dan mendongak, ibu jari laki-laki itu terangkat ke udara, kemudian diputar ke bawah!             Isyarat yang menyatakan tantangan!             “Dia saudara Tristan.”             Tristan punya saudara?!             “Gue nggak tau disebutnya saudara apa,” kata Carvian melanjutkan, ketika dia sadar bahwa si kembar seperti sedang menunggu kelanjutan kalimatnya barusan. Tanpa menatap si kembar, Carvian kembali bersuara, “yang gue tau, Opanya Tristan dulu pernah punya dua isteri. Satu isteri sah, Oma kandungnya Tristan, yang satu lagi isteri simpanan, Oma tiri Tristan. Oma tiri Tristan itu punya anak, namanya Zerokha Elroya. Dan Om Zerokha punya anak. That’s his only son... Reffaldi Elroya Abimanyu.” ### Bencana itu datang. Tristan menanggapinya dengan santai meskipun dia juga meningkatkan kewaspadaan. Baru saja, kedua orangtuanya berkunjung ke rumah dan melepas rasa rindu mereka pada Casey, sekaligus memberitahu mengenai kepindahan Reffaldi ke kampusnya. Kadang, Tristan berpikir... sebenarnya yang statusnya sebagai anak kandung dari orangtuanya siapa, sih? Dia atau si keset Casey itu?             “Tris... yang namanya Reffal itu siapa, sih?”             Pertanyaan Casey itu tidak ditanggapi oleh Tristan. Laki-laki itu hanya melirik sinis Casey yang datang dari arah dapur sambil membawa semangkuk salad, kemudian gadis itu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa tepat di sampingnya. Sambil mendengus, Tristan kembali melanjutkan acara menonton televisinya yang sempat tertunda karena kedatangan orangtuanya juga adik tersayangnya, Gevarna.             “Bawel. Nggak usah kepo.”             “Tristaaaan... Reffal itu siapa, siiiih?!” rengek Casey. Gadis itu menaruh mangkuknya di atas meja di depan mereka sambil menggoyangkan lengan Tristan. “Tristaaaan... Reffal siapa, siiiih? Cakep nggak orangnyaaaa? Tristaaaaa... KYAAA—“             Dengan satu gerakan cepat, Tristan menangkap pergelangan tangan Casey dan membawa tubuh gadis itu mendekat ke arahnya. Jarak keduanya saat ini begitu dekat. Tubuh mereka bersentuhan. Hangat napas keduanya saling bersahutan. Yang memperparah keadaan adalah jantung Casey. Gadis itu tidak mengerti ada apa dengan jantungnya sebenarnya. Sejak pagi tadi, jantungnya selalu berdetak tidak wajar jika berada dalam jarak yang sangat dekat dengan suaminya itu.             “Jangan pernah cari tau siapa itu Reffal di kampus. Jangan pernah mau didekati sama Reffaldi Elroya Abimanyu kalau di kampus. Kalau sampai gue tau lo berdekatan sama Reffal atau lo cari tau siapa itu Reffal, lo abis di tangan gue, Cash.”             Ucapan yang dilontarkan dengan nada pelan namun dingin. Sanggup membuat Casey bersikap kooperatif dan mengangguk cepat. Dia tidak mengerti kemana sifat pemberontaknya hilang. Yang jelas, tatapan Tristan saat ini benar-benar menakutkan. Semenakutkan suaranya barusan. Hawa dingin membelai tubuhnya. Untuk sesaat, Casey merasa Tristan berbeda. Bukan Tristan yang menyebalkan seperti biasanya.             Tristan yang sekarang berbeda seratus delapan puluh derajat dan Casey tidak berani menyulut api peperangan untuk sementara.             Melihat anggukkan cepat dari kepala mungil isteri tengilnya juga sorot ketakutan yang terpancar dari cara sepasang manik cokelat itu kala menatapnya, membuat Tristan mendesis dan melepaskan cekalan tangannya pada pergelangan tangan Casey. Laki-laki itu kemudian bangkit berdiri, melempar remote televisi ke sofa dan berjalan menuju lantai dua.             Sesampainya di kamar, Tristan membanting pintu. Napasnya memburu. Dadanya bergemuruh hebat. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Dia paham seperti apa sifat dari saudara tirinya itu. Amat sangat paham. Reffal mewarisi sifat Ayahnya. Meskipun beliau sudah bertaubat semenjak insiden belasan tahun silam yang juga melibatkan kedua orangtuanya, namun Reffal berbeda.             Sejak dulu, kalau mereka bertemu, Reffal selalu mengibarkan bendera perang dengannya. Reffal seolah menyimpan dendam untuknya.             Mendadak, Tristan kembali membuka pintu kamarnya. Laki-laki itu berjalan menuju pembatas tangga, menatap Casey yang mendongak ke atas sambil mengerjap dan melahap saladnya, kemudian berseru keras.             “CASH! GUE LAPER! BIKININ GUE MAKAN DAN GUE MAU NASI GORENG PAKAI TELUR CEPLOK! TELUR KUNINGNYA HARUS PAS DI TENGAH! KALAU NGGAK SESUAI, ELO GUE SURUH BERSIHIN TOILET!!!”             Selesai berteriak, Tristan kembali masuk kedalam kamar dan membanting pintu. Di tempatnya, Casey hanya bisa terlonjak dan menelan saladnya dengan susah payah. Gadis itu mengelus dadanya heboh dan menggerutu kesal.             “Bisa mati muda gue kalau begini caranya!” sungut gadis itu bete. ### Mobil Tristan memasuki kawasan kampus dengan tenang. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Dari arah samping, sebuah motor Ninja menyalip dan memosisikan diri tepat di depan mobilnya. Otomatis, Tristan menginjak pedal rem hingga ban mobilnya berdecit keras. Tubuh Casey yang berada di sampingnya terlempar ke depan dan Tristan buru-buru menahannya dengan cara mengulurkan tangan kirinya. Ketika tubuh mungil isterinya itu kembali terpental ke belakang, tangan kiri Tristan dengan cepat berpindah tempat ke belakang guna menahan punggung Casey agar tidak membentur sandara kursi.             “Kurang ajar!” desis Tristan emosi. Dia melepaskan sabuk pengaman, memutar tubuh dan memeriksa Casey. “Lo nggak apa-apa, Cash? Ada yang sakit?”             Casey yang masih beleum sepenuhnya sadar hanya bisa melongo. Tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Tadi, dia sedang asyik bermain ponsel ketika Tristan mendadak menginjak rem dengan cepat. Tubuhnya terpental kesana-kemari dan beruntung Tristan menahannya agar tidak terbentur dashboard atau sandaran kursi.             “Sebentar,” kata laki-laki itu tegas. Dia mengacak rambut Casey—hal yang Casey bingungkan karena iblis satu itu tidak pernah mengacak rambutnya seperti tadi—lantas turun dari mobil untuk menghampiri si pengendara motor gila tersebut. Kerumunan kecil sudah tercipta dan hal tersebut mau tidak mau membuat Casey harus turun juga kalau tidak mau Tristan sampai ribut bahkan adu jotos dengan siapapun yang berada di atas motor Ninja tersebut.             “Lo mau bikin kita celaka?! Hah?!” teriak Tristan keras ketika sudah berada tepat di depan motor Ninja tersebut. Dia memukul bagian depan motor itu dan menunjuk wajah si pengendara motor yang masih mengenakan helm tersebut. “Turun lo!”             Seperti gerakan slow motion pada film-film, si pengendara motor membuka helmnya. Senyum tipis yang menyambut Tristan itu sanggup membuat tubuhnya membeku. Kedua matanya menyipit dan menatap tajam si pengendara motor yang kini turun dan memasang tubuh tingginya di depan Tristan. Dia masih menyunggingkan senyum tipisnya. Terkesan dingin dan sinis. Melihat itu, Tristan yang memang sadar dari awal bahwa Casey sudah berada di dekatnya, langsung menarik gadis itu ke belakang punggungnya.             “Well... well... wel... we meet again, Tristan....” Orang tersebut menggelengkan kepala sambil berdecak. Dia memeluk helm-nya dan memiringkan kepala. “Udah nikah, heh? Nggak ngundang gue?” Sambil berkata demikian, dia melirik ke belakang punggung Tristan dan matanya bertemu dengan mata cokelat milik Casey.             Cantik... kuat dan tangguh! Batinnya.             “Apa mau lo?” tanya Tristan dingin. Mendengar nada suara Tristan itu membuat kening Casey mengerut dan dia mengalihkan tatapannya dari mata si pengendara motor Ninja itu.             Siapa? Casey membatin.             “Gue nggak mau apa-apa.” Orang itu mengangkat bahu tak acuh dan tertawa. Tawa yang terdengar mengejek dan merendahkan di kedua telinga Tristan. “Nggak usah natap gue seolah-olah lo mau bunuh gue, dong. Lo nggak berniat ngenalin isteri lo ke gue?”             Tristan melirik ke belakang. Tak lama, dia kembali menatap orang di depannya dengan tatapan yang sanggup membuat senyum tipis pada bibir orang tersebut menghilang. Bergantikan dengan tatapan awas dan waspada.             “Meet my wife... Casey Aprilia Radityan Abimanyu.” Tristan menggenggam tangan Casey, menarik pelan tubuh gadis itu agar berdiri tepat di sampingnya. Kemudian, dengan satu gerakan cepat, dia merangkul pinggang Casey kemudian mendaratkan bibirnya pada pipi kanan gadis itu!             Casey hanya bisa terpaku di tempat. Dia tidak bisa mengeluarkan cacian seperti biasa. Padahal, tindakan Tristan ini bisa dibilang sangat ekstrem untuknya. Mencium pipinya?! YANG BENAR SAJA! Minta dibacok kali si Tristan ini!             “Cash... meet my stepbrother... Reffaldi Elroya Abimanyu.”             DEG!             Jadi ini... yang namanya Reffaldi?             Casey meneliti keseluruhan fisik Reffaldi dengan tatapan tegas. Ketika matanya bertumbukkan dengan mata Reffaldi, gadis itu menaikkan satu alisnya, tersenyum miring dan sedikit... mendengus.             Hal yang membuat Reffaldi meradang dalam hatinya!             Sialan!             Jangan dikira karena orang yang bernama Casey ini seorang perempuan dan isteri dari Tristan, lantas dia tidak berani menghancurkannya. Lihat saja apa yang akan dia lakukan pada keluarga kecil memuakkan tersebut.             “Casey.” Casey mengangguk sedikit tanpa mengulurkan tangan kanannya. Reffaldi juga balas mengangguk pelan kemudian kembali menatap Tristan yang tersenyum mengejek ke arahnya.             Kurang ajar!             “Sayang... kamu masuk dulu kedalam mobil, ya? Aku ada sedikit urusan sama Reffal.” Tristan mengusap rambut Casey dan mencium kening gadis itu. Dia kemudian mengantar Casey kedalam mobil dan kembali ke hadapan Reffal yang menatap tajam dan sinis ke arah Casey.             “Jangan pernah berani lo sentuh dia.”             Ucapan bernada tegas dan dingin itu membuat tatapan Reffal teralihkan. Dia balas menatap Tristan dan terpaku kala merasakan hawa dingin yang begitu kental terasa disekeliling mereka.             “Kalau gue nggak mau? Lo mau apa? Hmm?” tanya Reffal. Dia memutuskan untuk menantang balik.             Tanpa disangka, Tristan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Dia mengambil helm yang sejak tadi dipeluk dengan sebelah tangan oleh Reffal, melihatnya sekilas lantas melemparkannya ke arah batu besar di dekat gerbang hingga helm tersebut rusak dan kacanya berhamburan.             “Kalau lo sentuh Casey... kalau lo nyakitin dia... kalau lo berani dekatin dia....” Tristan menghapus jarak diantara keduanya. Dia menunjuk d**a Reffal dengan kepalan tangannya hingga Reffal meringis dan sedikit terbatuk. “Nasib lo akan sama kayak helm mahal lo itu!” ###  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN