4. Harapan

2139 Kata
Tata baru selesai menaruh tumpukan piring pelanggan ke belakang. Warung makan kala siang begitu menguras tenaga dan emosi. Tak sabaran, minta duluan, semua orang berteriak tentang pesanannya, dan wara-wiri menyajikan makanan serta membungkus pesanan. Tata yang baru selesai menaruh, kini ia harus mengantarkan pesanan lagi. Ada dua orang yang bertugas membungkus sayuran dab lauk, satu orang membuat minuman di belakang, dua orang mencuci dan dua orang termasuk Tata mengantar pesanan pelanggan yang makan di tempat. "Rayan, es teh dua, jeruk hangat satu sama soda gembira satu." Rayan, laki-laki yang bertugas membuat minuman itu mengangguk. Ia siapkan gelas. Memasukkan dua sendok gula pasir untuk teh dan jeruk hangat serta s**u kental manis di gelas sogem.  Ia lekas memukul es batu menjadi lebih kecil, membaginya ke gelas. Menuangkan teh, jeruk yang diperas kasar, dan satu gelas ia tuangkan soda dan tambahan pemanis merah. Tata yang baru kembali menyajikan makanan segera mengambil gelas-gelas dari Rayan. Waktu siang, orang jelas banyak yang mampir. Sekadar makan siang, ingin minum es karena cuaca sedang terik, atau deretan manusia tak sempat masak yang beli sayur dan lauk tinggal makan saja. Alhasil depot tersebut tak sampai sore kadang sayur sudah habis. Begitu pelanggan sedikit demi sedikit mulai berkurang, Tata bisa duduk tenang. Ia duduk dekat kipas angin agar keringatnya sirna. Rayan mendekatinya sambil menyodorkan minum. Es teh buatan Rayan, yang memang ditujukan untuk pekerja. Sudah ada jatah sath teko besar untuk para pekerja. Tak dipungkiri, siang ini begitu panas dan pasti es menjadi pelepas dahaga paling mujarab. "Makasih." Rayan mengangguk. "Hem." "Panas banget ya hari ini." Rayan setuju. "Iya. Makanya aku nggak sadar udah habisin berapa balok es. Banyak yang pesen es dibungkus juga hari ini." "Siang-siang panas, emang pas kalau ada es. Nanti pulang beli es yuk, Yan!" ajak Tata tiba-tiba. Diajak Tata, mana mungkin Rayan menolak. Ia langsung mengangguk antusias. "Ayok. Makan sekalian nggak?" Maksu Rayan, biar ia bisa lebih banyak waktu berduaan dengan Tata. "Makan apa? Yang nggak ngenyangin aja. Aku pengen es aja sih. Es oyen yang di gang pasar." "Deket situ ada mi ayam. Sekalian gimana?" Tata tampak berpikir. Ya sudahlah. "Oke." *** Saka mempersilakan orang tua Amira duduk. Setelah berhasil dihubungi dan datang, kedua orang tua Amira segera ke rumah sakit. Ibunya, menangia tersedu melihat kondisi sang anak yang ia sayangi. Kemudian penyesalan-penyesalan kenapa ia meninggalkan anaknya sendirian di rumah, seharusnya ia tak ikut suaminya, dan segala penyesalan yang mengaraha pada andai. Namun semua sudah terjadi. Tinggal mencari siapa pelakunya. "Siapa yang melakukan ini sama Amira?" tanya ayah Amira sambil menatap kasihan pada anak semata wayangnya. "Belum tahu. Tidak ada barang yang hilang, dan pelaku kabur tanpa ada saksi. Saya juga tidak melihat dengan jelas baik plat motor maupun wajahnya karena memakai topeng. Tak ada sidik jari, karena pelaku juga bermain aman." "Yang penting Amira selamat, itu saja sudah cukup. Aku tidak mau semakin berlarut-larut. Aku malah takut jika Amira sadar dan mengingat kejadian atau ditanya soal pelaku, ia malah trauma. Sudah, biarkan saja." Ibunya Amira setuju. Ia berjanji tak akan meninggalkan anaknya sendirian lagi. "Biar orang itu membayar perbuatannya dari Yang Maha Kuasa. Anakku salah apa sampai tega diperlakukan begini." Ayah Amira menepuk bahu sang istri. "Sabar, Buk. Sekarang kita lebih perhatian dengan Amira." Lalu pria itu menoleh pada Saka. "Nak Saka, maaf jadi merepotkan. Lebih baik Nak Saka pulang saja dan istirahat. Ada rumah kosong yang sedang tidak dikontrakkan milik kami. Nak Saka istirahat di sana saja. Aku sudah pesan sama Tata. Rumah itu dekat sama rumah temannya Amira, namanya Tata." Saka mengerutkan alis. Ia merasa tak asing dengan nama Tata. Lantas ia baru ingat. Sumber harapannya. Kenapa ia bisa lupa sih. Padahal nomornya ia simpan. "Tata?" "Iya. Teman Amira. Sejak pindah ke sini, Amira punya teman dekat. Bisa dibilang Tata itu teman pertama dan yang paling dipercaya Amira. Sebentar, aku kasih nomernya." Saka mengibaskan tangannya pelan. "Tidak usah, Om. Saya sudah punya." Bapak berusia lima puluh tahun an itu heran. "Loh, kok udah punya." Saka segera menjelaskan, daripada dicurigai macam-macam. "Kemarin Tata ke sini menjenguk Amira. Jadi saya sudah kenal duluan. Dan sekalian minta nomornya. Karena saya tidak tahu apa Om dan Tante bisa langsung datang. Setidaknya saya bisa menghubungi kerabat Amira selain Anda." Saka pun menurut. Ia lelah, dan butuh istirahat. Apalagi ia baru datang dari perjalanan Jakarta-Nganjuk yang memakan seharian, ditambah menangani Amira sampai dua hari. Tidur tam jenak, makan tak teratur. Ia butuh merebahkan badan. Segera ia mengirim pesan ke Tata. Setelah kemarin kenalan dan tadi ayah Amira sudah memberi tahu, jadilah Saka tak canggung mengirim pesan ke Tata lebih dulu. _Maaf, kata Pak Abidin ada rumah beliau di dekat rumah kamu yang bisa saya tempati sementara?_ Agak lama, bahkan Saka sampai membeli minuman sambil duduk di kursi dekat pos satpam menunggu pesan dari Tata. Langit sudah menjelang sore pula. Ia tak bisa pulang sendiri, karena tak hapal jalan ke rumah Amira. Sekitar setengah jam kemudian Tata baru membalas pesan Saka. _Iya. Tadi Pak Lek udah bilang. Kamu di mana posisi?_ _Masih di rumah sakit. Bingung mau pulang. Lupa alamatnya_ _Tunggu di situ. Kamu di sebelah mana. Aku mau otewe_ _Pintu masuk bagian belakang, dekat pos satpam_ Sepuluh menit kemudian motor milik Tata memasuki area parkir. Celingak-celinguk ia mencari keberadaan Saka. Setelah terlihat, Tata mendekat. Ia urung berteriak, karena terlihat Saka tengah tertidur sambil mendekap tas ransel. Tata merasa kasihan juga dengan laki-laki itu. Mendekat, ia duduk bersebelahan. Ia tepuk pelan pundak Saka hingga mata laki-laki itu mulai terbuka. Masih menyesuaikan dari ketidaksadaran, Saka melirik sekeliling. Ia langsung menegakkan badan kala Tata sudah duduk di sampingnya sambil memeluk helm. "Eh, maaf, aku malah tidur." Tata mengulas senyum. "Nggak masalah. Aku tahu kamu capek. Ayo pulang. Aku anterin!" Saka berdiri mengikuti Tata menuju motornya diparkir. Ia serahkan helm pada Saka. "Nih, pakek. Aku pinjem ke temenku." Saka menurut saja. Ia memakai helm tersebut dan berdiri di samping motor. "Terus?" Tata melirik ke belakang. "Ya naik lah, masa mau berdiri aja. Aku yang bonceng, kan kamu nggak tahu daerah sini." Saka agak malu sebenarnya. Masa ia dibonceng sih. Kan dia cowok. Tapi kalau dia menyetir, memangnya ia tahu jalan? Ya sudahlah, tak ada yang mengenalinya juga. Perlahan ia naik ke motor Tata. Bingung hendak menaruh tangannya di mana, Saka hanya bisa memegang pahanya sendiri sementara Tata melajukan motornya. *** Rumah itu setengah ruko. Sepertinya memang disewakan untuk orang yang berjualan. Namun kecil saja tokonya, lebih luas rumah. Kata ayah Amira, rumah tersebut sudah beberapa bulan belum ada yang menyewa lagi. Begitu Saka masuk dan melihat ke dalamnya, memang terlihat kotor dan berdebu. Tata yang dipasrahi kunci cadangan karena seringkali diamanahi orang tua Amira menjaga kontrakan, ikut masuk bersama Saka. "Udah berapa lama nggak ditempati?" Tata mengingat. "Dua bulanan. Yang nyewa dulu udah bangun rumah. Jadi pindah." Saka melihat ke dalam kamar. Ada dipan dan kasur yang diberdirikan di tembok. "Kalau barang-barang yang ada punya siapa?" Tata melihat kasur. "Kalau kasurnya punya yang nyewa dulu kayaknya. Dipan asli dari sini. Kursi tamu juga udah dari sini." Saka mengangguk-angguk. Ia masuk ke kamar lainnya. Kosong, hanya ada meja yang ujungnya dimakan rayap. Ia coba nyalakan lampu. "Listriknya?" "Udah pakai voucher. Kalau mau mandi, sanyo juga ada. Nggak perlu nimba." Saka menangguk mengerti. Ia berencana akan tinggal setelah Amira sadar dan pelaku ia temukan. Sudah dikasih tempat tinggal saja ia bersyukur. Hubungannya dengan Amira dulu membuat ia disayang oleh orang tua perempuan itu. Saka sudah dianggap anak sendiri oleh orang tua Amira. Pun sebaliknya. "Kamu kalau butuh apa-apa, bilang apa dateng aja ke rumahku. Dua rumah di samping kanan ada gang, masuk aja. Mentok di ujung itu rumahku." Tata pun pamit, meninggalkan Saka sendirian. Ia tutup pintu, menyalakan semua lampu karena langit sudah gelap menjelang Magrib. Ia masuk kamar, meletakkan tas ransel dan memasang kasur ke dipan. Saka keluarkan sarung dari ransel miliknya dan membentangkan ke atas kasur untuk dijadikan sprei. "Lumayan lah, buat istirahat malam ini." Sebelum Saka merebahkan badan, ia menuju kamar mandi. Bak mandinya kosong, tapi ada ember yang ditinggalkan. Ia nyalakan keran. Mengisi bak tersebut dengan air. Tak ada gayung, Saka mengambil botol minum air kemasan gelas di tas. Air minum di rumah sakit. Ia buka dan dijadikan gayung dadakan. Miris memang, tapi mau bagaimana lagi. Ia harus segera menangkap sendiri pelaku. Apa motif yang melibatkan Amira dalam masalah dan hampir kehilangan nyawa. Usai mandi, Saka berganti baju dan merebahkan tubuh. Ia lelah, dan akhirnya bisa tidur dengan sempurna. Soal rumah yang masih kotor, akan ia bersihkan esok hari saja. Ia juga berjanji akan mendekati Tata. Mengakrabkan diri, agar bisa mendapatkan alasan meminjam kamera. Di mana bukti penyerangan Amira bisa saja ada di sana. Kemungkinan kecil, tapi harapan itu selalu ada. Bisa saja saat mengambil foto, ada Amira dan pelaku yang tertangkap kamera Tata. Hanya saja Tata tak menyadari. Maka dari itu Saka harus melihat langsung. Mencari sendiri bukti itu. Ia harus dekat dengan Tata. Mendapatkan kepercayaan dan akrab dengan gadis itu. Semua dilakukannya demi Amira. Sementara itu perempuan yang sedang dipikirkan dalam rencana Saka, tengah menyisir rambut selepas mandi. Tata keluarkan ponsel dan membalas pesan Rayan yang menanyakan keadaan Tata. Acara makan es bersama tadi batal, karena Tata harus mengantar Saka. Ia belum paham, sebenarnya siapa Saka ini. Apa dia saudara Amira? Terlihat kebingungan, panik, dan juga sudah kenal seluk beluk keluarga Amira. Bahkan ayah Amira memberi tumpangan di rumah kontrakan pula. Ah, Tata tak mau kepo juga. Lebih baik ia membalas Rayan. Meminta maaf karena rencana minum es batal. _Udah mau tidur?_ _Belum. Baru selesai mandi_ _Istirahat. Hari ini panas dan rame pelanggan. Kamu capek pasti. Gimana sama temanmu yang mau sewa kontrakan itu? Sudah beres?_ Amira memang beralasan ada temannya yang butuh kontrakan malam ini. Kontrakan milik orang tua Amira. Rayan juga kenal Amira. Dari Tata ia tahu Amira kena musibah dan dirawat. Tapi belum sempat menjenguk. _Sudah. Orangnya sudah masuk kontrakan. Aku juga sudah di rumah. Sory ya batal minum es. Padahak aku rencana mau traktir loh_ _Gampang. Besok-besok juga bisa. Eh ya, kapan kamu jenguk Amira? Aku ikut_ _Besok pulang kerja aja gimana?_ _Ok_ *** "Apa? Jadi perempuan itu punya foto kita?" kaget Agustina. "Iya. Tapi sekarang dia masih dirawat. Aku belum tahu gimana keadaan dia. Yang jelas, aku harus dapatkan ponselnya. Foto kita ada di ponsel itu." Sang lelaki meletakkan ponsel. Ia melihat pesan seseorang dan segera dibalas. Memunggungi Agustina yang terbaring di belakangnya. "Sekarang tenang dulu. Selama perempuan itu belum sembuh, hubungan kita akan aman saja." Agustina tersenyum. Ia meraih lengan sang kekasih yang sore tadi memintanya datang ke kontrakan. Lelaki itu tinggal sendiri. Tak masalah jika kedatangan tamu dan berteriak nikmat jika Agustina menginginkan. Karena yang terdengar hanya bising suara jangkrik di sekitar rumah. "Malam ini milik kita kan?" rajuknya. Agustina sudah mencari alasan untuk keluar. Adiknya sedang di rumah, tapi sepertinya akan keluar juga. Ia akan menghabiskan malam panasnya dengan sang kekasih. Minggu nanti suaminya datang. Waktu berduaan deng sang kekasih tak bisa ia miliki. Karena tubuhnya akan dihabisi oleh sang suami yang merindukan kehangatan. Kenapa sih, ia punya suami yang kerjanya di Malang. Tidak di kota ini saja. Mana pulangnya sebulan sekali. Kadang tiga hari. Paling lama seminggu. Pulang-pulang untuk menggauli, memberi uang dan mengajaknya belanja. Padahal kan, Agustina ingin lebih diperhatikan. Untung saja ada kekasihnya. Ia mengenal lelaki itu saat motornya mogok di sore hari dekat sawah. Kebetulan laki-laki itu lewat. Saling berkenalan, saling kesepian, dan lama-saling menghangatkan. Agustina yang kurang disentuh, diperhatikan dan kurang kasih sayang, menerima dengan senang hati. Jalan berdua diam-diam. Sengaja dilakukan saat sore atau malam dan ke kota. Jika sekitar desa, akan banyak yang mengenali. Bahkan pernah menginap di hotel, di luar kota agar jauh dari kecurigaan. Agustina jatuh cinta. Apalagi sang kekasih bisa lebih memperhatikannya ketimbang suami. Bisa memuaskannya lebih kali lipat, dan tentunya, bisa membuatnya dilimpahi kasih sayang. Perempuan memang tak lepas dari cari perhatian. Wajar saja, toh Agustina tak beda jauh dengan perempuan lainnya. Ia tak cukup hanya dikirimi uang oleh suaminya. Tak cukup ditelepon, dikasih hadiah, atau dibelanjakan keinginannya. Ia butuh kasih sayang. Ada yang memeluknya saat merajuk. Ada yang menghiburnya saat sedih, dan ada yang membuatnya merintih nikmat dengan belaian, jilatan dan hujaman. Semua itu ia dapatkan dari sang kekasih. "Semua waktuku milik kamu." Agustina girang. Ia telentang pasrah kala bibirnya dipagut mesra. Kekalutannya hilang kala tangan nakal sang kekasih meraba belahan di bawahnya yang sejak tadi sudah basah. "Kamu basah di sini," bisik laki-laki itu. "Gara-gara siapa coba," balas Agustina dengan desahannya. Tangan itu meraba semakin dalam. Memainkan pucuk kecil berkedut. "Aku? Masa sih?" Agustina hanya bisa mengerang. Bibirnya dipagut kembali. Seiring dengan tangan lelaki itu membuka kedua paha. Menggoda di lipatan yang merekah. Menggelitiki paha dari ujung ke ujung. Membuat Agustina menggelinjang tak karuan. Malam panas keduanya disaksikan rembulan di luar sana. Sepasang sejoli dimabuk asmara. Satunya istri kesepian, satunya laki-laki kesepian. Dua pribadi yang bertemu dari saling membutuhkan. Saling memuaskan. Saling mencari kenyamanan. Satunya tak ada sandaran, satunya tak bisa sendirian. __________
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN