2. Daerah Baru

2171 Kata
Saka tiba di Surabaya pukul sepuluh pagi, kemudian ia memesan travel menuju daerah Nganjuk sesuai dengan alamat yang diberikan oleh Amira. Sayangnya lokasi daerah Amira tidak menyebutkan spesifik alamat. Tidak ada RT, nomor rumah, hanya desa dan Kecamatan saja. Maka dari itu Saka jadi kebingungan. "Bapak asli daerah mana?" tanya Saka kepada sopir travel yang ia pesan tadi. "Saya orang Kediri, tapi istri saya orang Surabaya," kata bapak yang umurnya menjelang empat puluha tersebut. Saka mengangguk-ngangguk. "Oh Kediri ya. Saya kira orang Nganjuk sini," balas Saka dengan rasa kecewa. Meskipun ia bukan orang Jawa Timur, setidaknya ia tidak buta geografis. Kediri dan Nganjuk adalah kota yang berdampingan namun, tetap saja bapak yang mengantarkannya itu beda kota dengan rumah Amira. Tujuan Raka datang hari ini. "Masnya dalam rangka apa ke sini? Pulang kampung atau bagaimana. Saya lihat logat masnya tidak ada medok-medoknya," tanya sopir yang tengah mengemudikan mobil. "Ah iya saya memang bukan orang sini. Saya asli Jakarta dan ke sini karena mencari teman saya." "Oh alamat yang tidak ada nomor rumah tadi? Memangnya Mas sudah pernah datang ke sini?" "Belum pernah. Makanya saya tanya Bapak, kerena Bapak saya kira orang sini. Jadi saya bisa lebih mudah bertanya daerah di alamat itu." "Saya pernah ke tempat itu, tapi lebih tepatnya di desa sebelahnya. Daerah Rejoso Kalau tidak salah, sebelum ke arah Rejoso ini adalah desa yang Mas tuju." "Benarkah? Apa desa ini juga pernah Bapak singgahi?" tanya Saka yang sudah mulai berharap ada titik terang dalam mencari alamat Amira. "Pernah, hanya lewat saja. Tapi coba saya tanyakan teman saya yang di daerah Rejoso itu, siapa tahu dia paham karena sampingan desa. Bisa saja kenal juga nama di alamat itu," tawar Bapak tersebut. "Baik, Pak, terima kasih." Bapak tersebut pun mencoba menghubungi nomor temannya yang dimaksud dengan menyebutkan nama rumah kakek Amira, tempat di mana memang keluarga Amira sekarang tinggal. Temannya tersebut rupanya tahu. Kakek Amira sudah meninggal namun dia termasuk orang yang terpandang di desa tersebut. Lagi pula orang desa lebih banyak mengenal tetangganya satu sama lain ketimbang dengan masyarakat kota. Maka dari itu tidak susah untuk mencari nama yang dimaksud Saka. Melihat ada titik terang, Saka bersyukur dan ia mengucapkan terima kasih bahkan ia melebihkan bayaran dari yang seharusnya ia berikan. *** Dengan pintu kamar yang tertutup dan pintu rumah depan terkunci rapat, tetap saja Amira merasa ketakutan. Kedua orang tuanya sedang tidak ada di rumah. Ayahnya menyambangi saudara ke luar kota dan ibunya memilih ikut, sehingga Amira tinggal sendirian di rumah kakek yang sudah meninggal. Semenjak tinggal di rumah kakeknya tersebut, Amira memang jadi lebih sering ditinggalkan oleh orang tuanya. Namun begitu ia merasa di desa lebih mudah menghubungi orang atau ia bisa bermain ke tetangga sebelah jika bosam, ketimbang saat ia hidup di kota. Boro-boro ia akan menemui tetangga sebelah, semua komplek perumahannya tertutup rapat pintunya. Semua bekerja di luar rumah dan hanya ada para pembantu. Kesibukan Amira juga membuat hari-harinya lebih berwarna. Ia punya banyak teman. Ia juga memiliki banyak pengalaman, berbaur dengan masyarakat desa yang lebih mudah menyapanya saat ia berjalan selangkah demi selangkah keluar dari rumah. Biasanya tidak takut seperti ini namun, sebulan terakhir ini perasaan Amira menjadi kacau. Teror mendatanginya dan ia tidak berani bercerita kepada kedua orang tua. Tak mau orang tuanya khawatir dengan keadaannya. Pertama adalah teror saat ia bangun tidur dan membuka jendela kamar, ia lihat bangkai tikus dalam kotak jajan yang diletakkan menggantung tepat di depan jendela kamarnya. Belum lagi teror saat ia pulang sekolah, di motor yang dikendarai juga pernah didapatinya pisau dibungkus dengan kertas kado. Tak sampai di situ, Amira juga mendapati tulisan-tulisan yang menginginkan ia membuang ponsel. Memang apa salah ponselnya. Ia tidak mencuri, ia membeli sendiri baru. Bukan barang bekas yang mungkin saja pemilik lama tak rela ia memilikinya. Amira merahasiakan itu semua dari kedua orang tua juga teman-temannya di sekolah. Ia benar-benar ketakutan dan menyimpannya sendiri sampai pada dua minggu terakhir ini teror itu datang dan mengganggunya di telepon, komen sosial media yang sekarang sudah ia tutup rapat, juga suara-suara yang membuatnya semakin takut masuk dalam kamar dan rumah kalau ia sendirian seperti saat ini. Amira ketakutan dan ia tak bisa berbuat apa-apa, selain Saka harapannya. Ia mengenal banyak orang yang bisa dianggapnya dekat, tapi ia belum berani minta tolong sejauh ini. Takut teman dekatnya hanya menganggap hal bisa seperti saat ia dulu memiliki teman di kota, mengabaikannya padahal ia sangat butuh. Saka, satu-satunya orang yang peduli pad aakhirnya. Saka adalah harapannya dan seminggu ini sudah beberapa kali ia mencoba untuk menghubungi Saka. Mengirimkan pesan pada laki-laki itu agar segera menyelamatkan dirinya. Bahkan teman yang paling dekat dan pertama kali ia kenal saat datang ke kota ini pun tidak ia beli tahu. Ia tidak ingin Tata jadi susah cuma karena masalahnya ini. Perlahan Amira membuka lemari, rupanya sudah pagi. Dengan hati-hati ia keluar dan melangkahkan kakinya. Mengendap-endap layaknya ia adalah orang yang bersalah padahal sedang berada di rumahnya sendiri. Amira Mencoba membuka pintu kamar, hendak ke kamar mandi. Rumah kakeknya ini tidak memiliki kamar mandi yang berada di kamar masing-masing. Satu rumah hanya memiliki satu kamar mandi yang berada di dekat dapur. Dan itu berarti berseberangan dengan kamarnya. Meskipun ketakutan yang menyelimuti Amira, namun tetap saja langgilan alam lebih penting saat ini. Ia sudah menahan dan pagi ini sudah tidak tahan lagi untuk menahan. Amira beranikan diri membuka pintu perlahan sambil mengintip. Rumahnya sepi, memang tidak ada orang. Suasana gelap, karena Amira belum membuka gorden. Hanya semburat cahaya matahari dari luar saja yang menjadi penerangannya. Rumah tua itu ini tidak memiliki jendela dari kaca, hanya jendela yang terbuat dari kayu. Sehingga cahaya matahari tidak bisa menerobos terlalu banyak, hanya melalui celah-celah dari atap genteng dan juga dari sela jendela. Setelah berhasil menyelesaikan hajatnya, Amira masih dengan waspada menuju kamar. Sayang, begitu ia membuka kamar matanya membelalak kala sebuah tangan membekap mulutnya dari arah belakang. Tangan yang bersarung hitam itu membekap lalu menariknya mundur. Tubuh Amira ditarik dan tak sempat ia melihat siapa orang di balik penyekapan dirinya. Mata Amira sudah ditutup dengan kain hitam, membuat pandangan itu menggelap seketika. Amira tak sempat meronta karena ia sudah tak sadarkan diri, akibat bius yang dengan cepat laki-laki bersarung hitam itu dekapkan ke hidung, membuat kesadaran Amira hilang. *** "Mana hapemu?" tanya seseorang yang Amira tahu bahwa dia laki-laki. Amira baru saja sadar dan mendapati dirinya tak berdaya. Amira mana bisa menjawab, karena mulutnya disumpal. Ia diikat di atas kursi setelah penutup matanya dibuka, namun mulutnya masih ditutup. "Bisa-bisanya kamu ngambil gambarku dengan perempuan lain. Kamu tahu apa akibatnya jika foto itu sampai dilihat orang?" Amira hanya menggeleng kepala karena ia juga tak bisa merespons dengan jawaban. "Aku tahu kamu memang tidak sengaja mengambil gambarku. Sekarang tunjukkan hapemu dan hapus gambar itu!" perintah laki-laki dengan penutup mata hitam, baju hitam dan juga sarung tangan warna hitam. Meskipun tak ada benda tajam yang diajukan kepadanya, tetap saja Amira merasa ketakutan. Ia dalam posisi yang tidak bisa berbuat apa-apa. Hendak minta tolong, mulutnya ditutup. Hendak meraih benda di sampingnya pun ia kesulitan kerena diiket ke belakang dan kakinya diikat jadi satu di depan. Ia hanya bisa duduk dan menatap laki-laki di depannya yang memaksanya menunjukkan ponsel. Amira tak paham apa yang dimaksud oleh laki-laki itu. Foto apa, ia tak merasa mengambil foto yang berbahaya. Foto yang ia ambil hanya foto dirinya di tempat kerja atau pun di tempat sekitar. Tidak pernah ia mengambil foto lalu diviralkan dan menjadi sesuatu yang menakutkan seperti ini. Amira mengingat-ingat namun ia tidak juga menemukan apa kesalahannya. Apa hubungannya juga dengan foto di ponselnya. Dosa apa yang sudah ia perbuat sampai membuag murka seseorang. Seingatnya ia tak pernah bertengkar atau menyinggung orang lain. Ia sadar dirinya orang baru di desa ini. Sudah selayaknya ia berbuat baik, bertegur sapa, mengakrabkan diri. Tak pernah sekalipun ia bersikap arogan dan mau menang sendiri. Apalagi lingkungannya juga warga yang baik semua padanya. Tapi siapa gerangan laki-laki ini? Amira mencoba mengingat suara sang pengancam. Tapi karena laki-laki itu menutupi wajah membuat suara laki-laki itu sedikit berbeda karena suara yang teredam. Atau memang Amira tak mudah mengingat suara seseorang? Ia tak begitu hafal kecuali wajah. Itu pun jika ia sering bertemu. Jika hanya sekali dua kali, ingatan Amira tak setajam itu.  Apalagi suara. Banyak suara dengan logat Jawa yang kental di lingkungannya. Bagaimana Amira bisa ingat? Astaga, di dekat rumahnya saja banyak kuli bawang merah yang bercakap-cakap tiap harinya. Begitu saja Amira tak mengenal suara siapa. Ia hanya ingat wajah A, B atau si C. Nama juga samar-samar. Suara dering ponsel membuat keheningan itu pudar. Laki-laki berbaju hitam menoleh, pun dengan Amira. Dengan begitu laki-laki tersebut bisa mengetahui di mana keberadaan ponsel Amira yang tertinggal di dalam lemari. Amira berharap bahwa ponsel itu berbunyi saat ini juga, agar ia bisa minta tolong kepada siapa pun yang meneleponnya saat ini. Nada itu terdengar, laki-laki tersebut mendatangi suara yang ternyata ada di dalam lemari. Dengan senyum yang tersembunyi di dalam penutup kepala warna hitam tersebut, ia mengambil ponsel Amira. Layarnya berkedip menampilkan nama seseorang namun, laki-laki itu membiarkan saja sampai deringnya berhenti. Ia bawa ponsel ke hadapan Amira. "Tunjukkan dan hapus foto itu, atau aku hancurkan ponsel ini." Pilihan laki-laki itu tak bisa Amira tolak. Begitu mulutnya dibuka untuk mengatakan kata sandi pembuka ponsel, Amira memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Ia menjerit kuat-kuat minta tolong, membuat laki-laki itu panik dan kembali membekap mulut Amira. Teriakan Amira rupanya didengar oleh Saka yang sudah tiba di depan rumah. Hanya saja pintu gerbang rumah Amira tertutup rapat. Saka memang sudah sampai di rumah Amira. Ia memastikan dengan menelpon nomor Amira, untuk membukakan pintu rumah perempuan tersebut. Ia lihat pintu rumahnya semua terkunci, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan. Sampai-sampai Saka mengira bahwa Amira tidak ada di rumah. Ia hampir saja ingin pergi namun suara teriakan yang samar-samar ia dengar dalam rumah, membuat Saka kembali menajamkan telinga dan juga pandangan. "Amira," lirihnya. Saka yakin itu suara Amira, meskipun samar terdengar. Apalagi di sekitarnya tidak ada suara lain. Maka dari itu ia melemparkan tas ransel dan menaiki pagar. Ia akan mengecek ke seluruh sudut rumah untuk mencari cara agar bisa masuk dan menemukan asal suara tersebut. Melihat Saka yang berusaha menaiki pagar dan tertangkap oleh laki-laki kostum hitam dari jendela kamar Amira, membuat panik. Ia segera melepaskan ikatan di tangan dan kaki Amira dan menyeret perempuan itu keluar melewati pintu belakang tempat ia tadi masuk. Mencari kesempatan di mana Saka sampai di pintu gerbang dan mengatur langkah agar tak papasan. Laki-laki itu dan Amira berjalan keluar Lewat pintu belakang dan kabur, meninggalkan Saka yang masih kebingungan di rumah tersebut. Saka menelpon nomor Amira kembali, memastikan bahwa tadi benar-benar suara Amira. Sayang tidak diangkat. Saka lewat samping menuju pintu belakang yang terbuka. Ia masuk dan memperhatikan rumah tersebut gelap gulita. Karena ia tidak pernah masuk ke rumah tersebut, Saka agak kesulitan ditambah ruangan yang gelap. Ia keluarkan ponsel dan menerangi dengan senter. Begitu melihat tali dan ponsel Amira yang tergeletak begitu saja di salah satu kamar yang terbuka, Saka semakin tak karuan. Ia cemas luar biasa, pasti terjadi sesuatu pada mantan kekasihnya itu. Saka berlari begitu mendengar suara motor. Ia berlari keluar lewat pintu belakang untuk melihat. Benar saja, ada Amira diboncengan tersebut. Namun perempuan itu tampak ketakutan dengan mulut yang dilakban. Saka lantas berlari mengejar motor tersebut. Ia berlari sekuat tenaga mengejar motor yang jika dipikir ia tak bisa mengejar kecepatan dari motor. Tuhan sepertinya membantu Saka. Motor itu harus berhenti karena ada padi yang sedang dijemur di rumah salah satu warga dan pemiliknya sedang menggaruk jemuran padinya, membuat motor laki-laki itu harus berhenti sejenak dan berjalan lebih lambat. Saka terus mengejar hingga motor itu ia lihat diletakkan begitu saja di pinggir jalan. "Sial! Ke mana orang itu." Saka melihat sekeliling, hanya ada kebun dan juga tanah lapang. Ia pun nekat menerobos masuk untuk mencari jejak orang yang membawa Amira hingga ia mendapati Amira sudah tergeletak di tanah. Saka makin panik ketika melihat ada darah di kepala gadis itu. Saka mengecek nadi dan alat vital. Saka bisa bernapas lega bahwa Amira masih hidup. Saka melihat sekeliling, siapa tahu tersangka yang menyebabkan Amira terluka seperti ini masih ada di sekitar. Namun sayang, hanya ada dedaunan dan pohon serta tak jauh dari sana ada lapangan yang ia temui. Sepertinya orang itu sudah kabur. Saka lantas mengedarkan pandangan. Tatapan Saka berhenti pada kamera yang menghadap ke arah dirinya. Kamera itu kemudian dibawa oleh seorang perempuan. Mengeluarkan ponsel, Saka menyempatkan untuk memoto perempuan tersebut. Ia akan mencari perempuan itu guna mencari tahu pelaku. Saka berharap pada saksi satu-satunya yang ia lihat tersebut. Apalagi ada kamera di dekatnya. Siapa tahu perempuan itu menangkap sesuatu. Setelahnya ia membawa Amira, menggendong perempuan itu hingga ke pinggir jalan. Di sana yang minta bantuan orang yang lewat. Amira pun berhasil dibawa ke rumah sakit yang jaraknya sekitar empat puluh lima menit dari lokasi kejadian. Keadaan Amira sekarang sedang ditangai dokter. Ia menunggui perempuan itu sendirian. Begitu Amira sudah ditangani dokter dan kondisi Amira sudah lebih baik dari sebelumnya, Saka nekat keluar memesan ojek online untuk membawanya ke rumah Amira. Ia butuh mengambil tas dan juga mengabarkan keluarga Amira. __________
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN