Pukul sembilan malam Lily pun masuk kedalam kamarnya. sebenarnya ia ingin mengistirahatkan tubuhnya tapi ia urungkan. wanita itu lebih memilih membuka benda pipih yang sedari tadi tergeletak di atas nakas. Lily pun mengecek apakah ada pesan atau telpon dari kekasihnya tapi ternyata nihil tidak ada apa-apa disana. Lily terlihat mendesah kasar, pikirannya berlarian entah kemana, membayangkan apakah pria itu sedang bermesraan dengan istrinya saat ini hingga melupakan dirinya, sudut hati Lily menjadi nyeri kala mengingat hal itu. Ahh bukankah mereka bebas melakukan hal apa saja hubungan mereka memang resmi secara hukum dan agama. tapi tak bisa di pungkiri hati Lily mulai diliputi perasaan cemburu, seolah ia tak rela bila pria itu berbagi kasih dengan wanita lain. Sadar Ly, lo itu cuman keka

