"Apa yang terjadi di sini?"
Kedua remaja pria yang mondar-mandir tadi sontak menoleh pada Woojin. Salah satu dari mereka tampak sangat marah saat melihat Woojin. Ia bahkan menghampiri Woojin dan hendak memukulnya jika saja tidak ditahan oleh pemuda lainnya.
"Minkyu-ya, hentikan! Dia tak tahu apa-apa! Kau tahu Yeonsoo selalu menyembunyikan apa yang terjadi padanya bukan?"
Pemuda yang dipanggil Minkyu itu terdiam. Ia berdecih dan memalingkan wajahnya. Woojin masih terdiam karena merasa bingung. Ia masih tak mengerti apa yang terjadi.
"Siapa kalian? Apa yang terjadi pada Yeonsoo?" tanya Woojin.
"Kami sahabat-sahabat Seulgi. Aku Jungmyeong dan yang tadi ingin memukulmu itu Minkyu," Jungmyeong tersenyum canggung, "Mengenai yang terjadi pada Yeonsoo ... Aku tak tahu harus bagaimana menjelaskannya."
Jungmyeong menoleh pada Minkyu untuk meminta bantuan. Sayangnya Minkyu tak terlihat ingin membantunya sama sekali. Pemuda itu malah sibuk menatap Minkyu dengan tatapan bersalah. Aissh, kalau begini Jungmyeong yang harus menjelaskannya pada Woojin!
"Jika mengingat kepribadian Yeonsoo, kurasa lebih mudah bila aku mengatakan kalau ia berkelahi dengan sekelompok orang yang menghina kaum gay atau ia ikut unjuk rasa meminta pemerintah melegalkan pernikahan sesama jenis," Jungmyeong meringis, "Tapi bukan itu yang terjadi. Walau sulit dipercaya ... Tapi Yeonsoo digertak dan dikucilkan oleh para siswi di sekolah kami."
Woojin mengernyit. Orang gila mana yang nekad menggertak gadis ganas seperti Yeonsoo? Dan bila itu memang terjadi, mengapa diam gadis itu diam saja dan membiarkan dirinya diganggu seperti itu?
"Kau heran? Aku juga awalnya begitu," Jungmyeong terkekeh.
"Yeonsoo bahkan dulunya ratu sekolah kami. Tapi kau tentu mengerti bagaimana keadaannya sekarang bukan? Ia tak bisa menjadi sang ratu lagi dengan keadaan keluarganya yang sekarang." jelas Jungmyeong.
"Jadi dia digertak karena ia tak bisa lagi menjadi ratu?" tanya Woojin heran.
Jungmyeong menggeleng, "Kau mungkin tak tahu betapa kejamnya persaingan di antara wanita. Saat Yeonsoo berkuasa, tak ada yang berani mengganggunya. Walau mereka sangat iri pada Yeonsoo, mereka tak bisa melakukan apapun. Tapi saat Yeonsoo turun tahta, mereka menggunakan kesempatan ini untuk melampiaskan kekesalan dan keirian mereka pada Yeonsoo."
Woojin bergidik. Wanita memang menakutkan.
"Kami terlambat menolongnya." ucap Minkyu lirih.
"Hei, kau! Kalau Yeonsoo melihat wajahmu ia pasti akan menendang bokongmu! Kau tahu dia tak suka dikasihani bukan?" tegur Jungmyeong.
Jungmyeong beralih pada Woojin. Ia tersenyum segan sambil menggaruk tengkuknya gugup.
"Eumm karena kau sudah datang, akan lebih baik bila kami juga pulang sekarang." pamit Jungmyeong.
"Kau pulang duluan saja, aku akan tinggal di sini menjaga Yeonsoo." Minkyu masih menatap Yeonsoo.
Jungmyeong berkacak pinggang, "Kita harus pulang! Kakakmu pasti sudah menunggumu."
Woojin menatap kedua remaja itu dengan tatapan memicing.
"Aku yakin Yeonsoo selalu menjadikan kalian berdua targetnya untuk berfangirling." ucap Woojin.
"Begitulah ... Sekarang kami sudah tenang karena sepertinya ia menemukan target lain." Jungmyeong menyengir.
Woojin mendengus, yang dimaksud oleh Jungmyeong tentu saja dirinya.
"Baiklah kami pulang dulu, Kak." Jungmyeong menyeret kerah belakang Minkyu. Memaksa sahabatnya itu untuk ikut dengannya.
Woojin memandangi kepergian mereka dengan tatapan datar. Ia beralih pada Yeonsoo yang masih belum sadar juga.
"Kalau bukan karena Yebin aku takkan mau melakukan hal ini!"
***
Yeonsoo mengerjapkan matanya dan mulai panik saat menyadari ia sudah berada di apartemen Woojin. Pria itu bahkan sudah ada di sebelahnya—sibuk dengan kotak obat.
"Mengapa aku ada di sini? Bukannya tadi aku masih di sekolah?" tanyanya bingung.
"Sahabat-sahabatmu yang membawamu pulang." ucap Woojin datar.
Yeonsoo meringis. Jika Minkyu atau Jungmyeong yang membawanya pulang berarti kedua sahabatnya itu pasti menceritakan apa yang terjadi pada Woojin.
"Kudengar bahkan Yebin tak tahu mengenai hal ini?" Woojin menghela nafas untuk mengatur emosinya, "Kang Yeonsoo apa yang kau pikirkan sebenarnya?"
"Dan bodohnya lagi kau diam saja saat diperlakukan seperti itu? Ini benar-benar bukan gayamu sama sekali!"
Yeonsoo memutar bola matanya, ia sudah menduga reaksi Woojin akan seperti ini sejak awal.
"Kau pikir aku akan melawan dan membuat keributan? Beasiswaku bisa dicabut bila aku membuat keributan, Kak. Coba pahami posisiku dan abaikan saja ini, mengerti?" pinta Yeonsoo.
"A-ap—tunggu! Beasiswa? Kau membiarkan dirimu diganggu hanya agar beasiswamu tak dicabut?"
"Ya, aku juga sedang berusaha agar bisa pindah sekolah dan menghentikan semua ini. Kau pikir kenapa aku bersusah payah bekerja di toko buku Kak Jungwoon dan juga membuka blog itu?" ucap Yeonsoo malas.
"Apa sulitnya mengatakan hal ini padaku? Aku bisa membantumu!" omel Woojin.
"Kau tentu tahu aku tak suka orang lain mencampuri urusanku, Kak," Yeonsoo berucap tajam, "Ini masalahku dan aku yang akan menyelesaikannya. Tidak usah merepotkan dirimu, aku tahu kau benci melakukannya."
Woojin memijat pelipisnya yang berdenyut. Mengapa Yeonsoo keras kepala sekali? Tiba-tiba ia mendapat ide.
"Kau bersekolah di Seoul International High School bukan?" Woojin menyeringai, "Aku mungkin bisa mengabaikan hal ini. Tapi kakek takkan membiarkan hal ini. Kau cucu kesayangannya, ingat?"
Yeonsoo sukses melotot horor. Ia baru ingat kakek Park berjanji akan mengunjungi mereka besok.
"Kau mengancamku?!" protes Yeonsoo. Merasa dirinya dirugikan.
"Ada dua pilihan yang bisa kau lakukan sekarang," Woojin tersenyum licik, "Pertama, kau bisa diam saja dan membiarkan kakek mengetahui hal ini sendiri besok. Ah, tentang blog gaymu juga. Aku akan memberitahu Yebin tentang blog itu begitu ia kembali. Coba bayangkan bagaimana reaksinya bila tahu kau memperoleh uang sekolahmu dengan menjual foto dan fanfiction dari pasangan gay?"
Yeonsoo tak bisa membayangkannya. Gadis itu bergidik ngeri, "Pilihan kedua?"
"Aku akan membantumu tapi dengan syarat ...."
***
Yeonsoo membuka pintu kelasnya dengan kasar. Bibirnya menyunggingkan senyuman iblis. Ya! Seorang Kang Yeonsoo yang tak terkalahkan sudah kembali! Ini kabar buruk bagi kalian semua!
Yeonsoo menghampiri salah seorang siswi yang sibuk bergosip dengan siswi lain. Ia mengeluarkan gunting dari saku blazernya dan tanpa aba-aba menggunting rambut siswi itu menimbulkan jeritan yang melengking dan tatapan syok dari semua murid yang ada di kelas itu.
"Hei, apa yang kau lakukan?!" jerit siswi itu.
Yeonsoo mengacungkan guntingnya ke wajah gadis itu. Ia menyeringai.
"Aku hanya membalas apa yang kau lakukan padaku tempo hari."
Yeonsoo membuang rambut di tangannya dengan jijik. Ia berbalik dan menatap semua orang di kelasnya dengan tatapan menantang. Guntingnya masih ia acungkan pada siswi tadi. Berjaga-jaga bila siswi itu atau teman-temannya tiba-tiba menyerangnya.
"Dengar! Mulai sekarang, aku akan membalas semua perlakuan kalian padaku! Dulu mungkin aku diam saja karena tak ingin membuat keributan, tapi sekarang aku sudah muak! Kalian tentu tahu aku sangat berbakat dalam hal balas dendam! Jangan ragu menyerangku bersamaan! Karena walau aku sendirian, aku pasti akan tetap bisa mengalahkan gadis-gadis melambai seperti kalian yang hanya tahu cara berteriak, mencakar dan menjambak!" seru Yeonsoo tanpa takut.
Hening ...
Semua murid menatap Yeonsoo ngeri. Para siswa bersyukur karena tak ikut campur dalam mengucilkan Yeonsoo. Sedangkan para siswi mulai gemetar ketakutan. Yeonsoo menatap bangkunya yang penuh coretan hasil karya para siswi yang mengucilkannya.
"Hei, kau!" Yeonsoo berteriak pada salah satu siswi.
"Y-ya?"
"Ambilkan bangku baru untukku digudang sekolah atau ...," Yeonsoo menggerakkan telunjuknya menyusuri lehernya sendiri, "Kau yang duluan mati!"
Siswi itu segera berlari keluar kelas untuk melaksanakan perintah Yeonsoo. Yeonsoo meniup poninya. Dengan begini takkan ada lagi yang mengganggunya.
***
Woojin tertawa puas saat mendapat telpon dari guru Yeonsoo. Jaehoon menatapnya heran. Aneh, Woojin dipanggil ke sekolah Yeonsoo karena gadis itu berbuat onar tapi ia malah terlihat senang.
"Park Woojin, kau tak gila karena terlalu lelah mengurus Yeonsoo bukan? Atau kau gila karena ciumanku kemarin?" tanya Jaehoon horor.
Sepertinya Jaehoon lupa kalau tak hanya ia dan Woojin yang ada di ruangan ini. Seungwan menatap kedua orang itu dengan tatapan terkejut. Ciuman? Woojin dan Jaehoon?
"Kalian ... Berciuman?"
Woojin menoleh pada Seungwan, lalu pada Jaehoon. Jaehoon meringis dan mulut besarnya. Woojin pasti membunuhnya setelah ini.
"Ah itu ...,"
"Jelaskan pada Seungwan, aku pergi ke sekolah Yeonsoo dulu!"
Ha? Apa ini Woojin yang ia kenal? Sepertinya Woojin sangat bahagia sampai-sampai ia tak marah atau berusaha menjelaskan pada Seungwan mengenai apa yang terjadi. Ini Seungwan! Seungwan! Gadis yang Woojin cintai! Terkadang Jaehoon tak mengerti dengan jalan pikiran Woojin.
Woojin mengambil jaketnya dan pergi meninggalkan Seungwan dan Jaehoon yang masih dalam kebingungan.
"Apa yang terjadi padanya?" gumam Jaehoon.
***
"Saya baru tahu Kang Yeonsoo adalah kerabat dari anda, Woojin-ssi." ucap kepala sekolah dengan senyum ramah.
"Maaf atas ulah sepupu saya ini. Tapi ia takkan berbuat hal-hal seperti ini bila para siswi itu tidak lebih dulu mengganggunya. Anda tentu tahu bagaimana perilaku Yeonsoo mengingat Yeonsoo adalah salah satu siswi berprestasi." ucap Woojin tenang.
Sementara Woojin dan Kepala Sekolah berbincang-bincang, para siswi yang mengganggu Yeonsoo mengkerut di tempatnya. Mereka baru tahu bila Yeonsoo adalah cucu dari sang pemilik sekolah. Ya, Park Hyunjae, kakek Woojin adalah pemilik sekolah ini.
Yeonsoo sendiri terkejut mengetahui hal ini. Pantas saja Woojin mengajukan syarat 'Buatlah keributan' padanya. Awalnya Yeonsoo menolak, tapi setelah perdebatan panjang dengan Woojin akhirnya dirinya mengalah dan melakukan seperti apa yang diminta pria itu.
Woojin sadar kalau Yeonsoo memandanginya. Pria itu menoleh dan mengedipkan matanya pada Yeonsoo yang dibalas dengudan geli gadis itu. Sepertinya bukan hanya Yeonsoo yang sulit ditebak disini. Woojin pun begitu.
***
Woojin dan Yeonsoo berjalan menuju parkiran sekolah. Sepanjang perjalanannya banyak siswi yang menatap Yeonsoo sinis. Yeonsoo membalasnya dengan tertawa mengejek dan menaikkan jari tengahnya pada mereka.
"Wuoo, kulihat sekarang kau jadi lebih berani. Kau harus benar-benar berterimakasih padaku. Aku bahkan mengakuimu sebagai sepupuku." goda Woojin.
"Aku tak memintamu melakukan itu. Ah, pantas saja kau tanpa ragu memintaku membalas mereka, ternyata Kakek adalah pemilik sekolah ini." ucap Yeonsoo acuh.
Woojin mengacak-acak rambut Yeonsoo, "Begitulah, dengan begini bila kau ditanya oleh Kakek mengenai luka-lukamu ... Katakan saja kalau itu karena berkelahi dengan teman-temanmu, mengerti? Dengan begitu para siswi itu akan tetap aman. Sebenarnya aku bingung mengapa kau masih bersikeras tak ingin mengeluarkan mereka dari sekolah ini? Padahal semua akan lebih mudah bila mereka dikeluarkan."
"Astaga kau benar-benar membantuku, Kak! Terimakasih!" seru Yeonsoo riang, berusaha mengalihkan topik.
"Ah sudahlah, lagipula dengan begini mereka juga takkan berani mengganggumu lagi." Woojin kesal karena Yeonsoo berusaha menghindar.
Woojin berhenti melangkah, membuat Yeonsoo juga ikut berhenti. Woojin menoleh pada Yeonsoo.
"Lihat? Kau seharusnya tak diam dan menyembunyikan masalahmu. Aku tak memintamu memberitahu masalahmu pada semua orang, cukup aku saja. Dengan begitu kita bisa memikirkan jalan keluarnya bersama-sama. Mengerti?" Woojin berucap lembut.
Yeonsoo terdiam lalu mengangguk pelan. Saat melewati UKS ia tiba-tiba mendapat ide.
"Ikuti aku, Kak!" ajak Yeonsoo.
Woojin mengernyitkan keningnya. Tapi ia tak mengatakan apapun saat ia ditarik untuk memasuki UKS.
"Pagi Guru Nam!" sapa Seulgi.
Pria yang dipanggil oleh Yeonsoo tadi menoleh. Tunggu! Itu pria atau wanita? Imut sekali!
"Yeonsoo-ya? Pagi!" balas Guru Nam
"Guru Nam, ini adalah kakakku! Namanya Park Woojin." ucap Yeonsoo memperkenalkan Woojin pada Guru Nam.
"Aku sudah mengenalnya. Cucu dari Tuan Park bukan? Senang bertemu denganmu. Aku gurunya Yeonsoo." ucap Guru Nam sambil tersenyum ramah.
Woojin hanya membalasnya dengan senyuman juga. Yeonsoo menyenggol lengannya.
"Guru Nam sangat manis, kan? Dia mapan, baik dan memiliki pesona yang memikat." bisik Yeonsoo.
Woojin berdehem. Ujung-ujungnya pasti ini. Yeonsoo pasti sedang berusaha menjodohkannya dengan gurunya.
"Guru Nam kami permisi dulu!" Woojin langsung menarik Yeonsoo keluar dari UKS.
Yeonsoo berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Woojin. Namun Woojin baru melepaskannya saat mereka sudah sampai di parkiran.
"Kak Woojin, mengapa kau menarikku?"
"Kau tahu apa kesalahan terbesarmu?" tanya Woojin.
"Aku berusaha menjodohkanmu dengan Guru Nam." Yeonsoo merengut.
"Bagus kalau kau tahu kau salah!" Woojin mendengus.
"Aku tak mengerti, apa kau begitu mencintai Kak Jaehoon sehingga kau marah begini?" tanya Yeonsoo polos.
"Oh tuhan!" Woojin mulai putus asa, "Kang Yeonsoo apa aku harus memperkosamu atau semacamnya agar kau percaya aku normal?"
"Memangnya kau bisa? Ah! Jangan-jangan kau biseks? Astaga Kak Woojin cukup suka pada pria saja! Jangan pada wanita juga! Kau harus konsisten! Aku tak menyangka kalau kau seperti itu!" protes Yeonsoo.
Woojin menyerah, ia angkat tangan. Ia tak mau mencoba menjelaskan orientasi seksualnya lagi pada Yeonsoo.
Pria itu masuk ke dalam mobil dan membanting pintunya. Yeonsoo sendiri terkejut karena Woojin terlihat sangat marah.
"Hei, Kak Woojin tunggu aku!"
****