Setelah bekerja tanpa henti sejak pagi—membersihkan ruang makan, mengelap semua kaca yang seakan tak ada habisnya, mencuci tumpukan piring bekas makan malam keluarga Flora, hingga membantu merapikan taman belakang—akhirnya Anita mendapatkan izin untuk beristirahat. Ratna baru saja menutup buku catatan tugas harian. “Besok kamu mulai bekerja jam lima. Sekarang boleh ke kamar,” ucap Ratna ketus tanpa menatapnya. Anita hanya mengangguk lemah. “I-iya, Bu.” Ia berjalan menyusuri lorong khusus staf yang lampunya temaram dan dingin, berbeda jauh dengan kehangatan dan kemewahan di area utama rumah Kaindra dan Flora. Setiap langkah terasa seperti membawa beban berton-ton, tubuhnya remuk, pundaknya pegal, ujung jarinya perih karena deterjen, dan lututnya gemetaran. Begitu tiba di kamarnya, Anit

