Rumah kecil Anita malam itu terasa lebih hangat dari biasanya. Aroma sayur bening dan tempe goreng memenuhi ruangan. Anita menyajikan makan malam sederhana itu sambil bersenandung pelan—sesuatu yang jarang sekali ia lakukan. Bara memandangi ibunya sejak tadi. Ada yang berbeda. Terlalu berbeda. “Ibu kenapa sih?” tanya Bara akhirnya. “Kok kelihatannya seneng banget dari tadi.” Anita menaruh mangkuk ke meja, lalu duduk dengan senyum lebar yang membuat Bara semakin curiga. “Mulai besok Ibu kerja. Ibu diterima kerja di rumah Nyonya Kaindra.” Bara mengernyit. “Siapa? Nyonya Kaindra?” “Bosnya Flora yang tempi hari datang ke sini,” jawab Anita dengan nada bangga. “Ibu udah nggak sabar kerja dan dapat uang.” Bara menghentikan gerakan sendoknya. Nafsu makan hilang seketika. “Bu… kalau di sana

